LOGIN“Sudah lebih baik? Mau diambilkan minum lagi atau makan misalnya?” Perut Ica sih sudah lapar sebenarnya, tapi saat melihat Saka yang belum pakai baju, nafsu makan Ica ilang malah muncul nafsu yang lain. “Om nggak bawa baju ya, biar aku pinjamkan baju bapak dulu.” Ica mengusap air matanya kasar lalu beranjak dari duduknya, tapi tangannya tiba-tiba ditarik dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Saka. Jangan berpikir akan ada adegan romantis. Ica yang jatuh dipelukan suaminya dan mereka berpandang-pandangan dengan salah tingkah. Lupakan! Inilah resiko menikah dengan om-om. Sama sekali tak tahu hal-hal romantis. Ica sukses nyungsep di tempat tidur. Dengan kesal dia bangun lalu melotot pada suaminya. biarin saja hari pertama jadi istri durhaka.“Om apa-apaan sih main tarik segala!” “Aku sudah bawa baju ganti.” “Lalu kenapa tidak pakai baju? Sengaja? Mau pamer?” stress, marah dan malu karena acara pernikahannya yang berantakan membuat suasana hati Ica ikut berantakan juga.Saka tak m
Sepagi ini dapur rumahnya sudah ramai. Ica masuk dapur dengan canggung. Apalagi berpasang-pasang mata saudaranya yang memang menginap memperhatikan semua gerak-geriknya, seolah Ica adalah spesies baru yang butuh diteliti. Ibu dan bapak memang masing-masing dari keluarga besar. Kalau saudara bapak yang memang asli orang kampung sini, bisa langsung pulang ke rumah masing-masing hanya menyisakan saudara dari pihak ibu. Namanya juga saudara banyak, ada yang baik ada juga yang julid. Kejadian kemarin itu tentu saja membuat Ica jadi pusat perhatian, banyak peramal dan hakim dadakan, dan yang paling menarik pasti apa malam tadi dia sudah melakukan malam pertama? Ih Ica paham betul arah pikiran mereka, karena itulah meski semalam dia dan Saka langsung tepar, paginya dia tetap keramas. “Kamu lapar, Ca?” tanya salah satu saudara melihat Ica yang membuka panci di atas kompor. Makanan sisa pesta memang masih ada dan sedang dihangatkan kembali, tapi pandangan mereka yang tak melepaskan Ic
Bapak dan ibu hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan anak dan mantunya. Sedangkan mbak Hanum dengan wajah jengkel harus menyuapi Ica. “Makasih ya, mbak,” kata Ica sambil memasang senyum termanisnya, begitu makanan telah habis. Mbak Hanum tak menjawab, tapi langsung turun dari panggung pelaminan dan pamit pulang. Lah kenapa piringnya juga dibawa pulang? Untung saja bulek dan paklek yang mendampingi Saka sudah turun dari panggung. Dari informasi yang didapat Ica, Saka itu anak bungsu dari dua bersaudara. Dia punya seorang kakak laki-laki yang menentap di Jakarta dan tidak bisa datang, sedangkan di sini dia tinggal bersama sang ibu dan kebetulan hari ini beliau juga sedang dirawat di rumah sakit karena darah tingginya kumat. Jadinya Saka datang bersama keluarga besarnya saja dan juga para tetangga. Itu saja mereka datang dalam satu bis besar. Ibu dan bapak saja sampai shock saat tahu pengiring pengantin yang dibawa Saka. “Ca.” Ica masih tak bereaksi dia masih tenggelam lamun
“Ini benar suaminya mbak nggak keteker kok.”Tawa semua orang menyambut kalimat itu. Astaga dia ketahuan. Ica makin grogi, apalagi sejak tadi dia sudah mencuri pandang pada pria yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu. Suami? Ih kok rasanya Ica bangga ya, dengan beskap putih itu, wajahnya berkali-kali lipat lebih ganteng dan macho. Biarlah petani miskin asal bertanggung jawab padanya dan yang pasti syarat pertama yang dia ajukan dipenuhi tanpa banyak nawar.Bersama PNS juga dia nggak pernah dijajanin. “Ca, tuh suruh tanda tangan.” Tata menyenggol tangan Ica yang masih melongo bengong. “Eh iya,” gagap Ica segera mengambil bolpoin, tapi tangan yang akan menggoreskan tanda tangan itu terhenti saat melihat tulisan di buku kecil itu. Ica tadi terlalu sibuk berdebat dengan Tata sampai tak mendengar Saka mengucap ijab qobul dan tentu saja dia sama sekali tak mendengar mahar apa yang diberikan pria itu untuknya. “Ini serius, Om?” Tanyanya tak percaya pada Saka yang ada di samping
“Icaaa!!!”Ica melotot galak pada temannya itu. Kok bisa ya, dia punya teman suaranya mirip toa begini, mana sekarang sedang hening, persiapan mau acara ijab qobul. Ica memang tak langsung keluar, dia akan menunggu di kamar sampai kata “Sah” terucap baru dia bisa menemui suaminya. “Diam kenapa sih, Ta. Itu tenggorokan nggak sakit kamu buat teriak-teriak terus.” “Eh kok kamu sewot sih Ca. grogi ya,” godanya sambil menaik turunkan alis. Ica menunjukkan tatapan paling tajam untuk Tata, tapi yang namanya Tata mana mempan dikasih peringatan kayak gitu, itu anak malah nyerocos. “Tahu nggak, Ca.” “Nggak,” jawab Ica ketus. Tuh kan, dikira Ica peramal, tahu apa yang belum dia katakan. “Idih manten apaan mukanya manyun gitu, kalau orang lihat pasti dikira kamu belum bisa move on dari si Adam.” “Siapa tuh Adam. Nggak kenal.” “Eleh lagakmu, pasti kamu sakit hati banget ya, tapi tenang kamu dapat yang lebih baik kok aku sudah lihat fotonya.” “Hah!!! Foto apa?”Tata mengotak-atik ponse
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pasti segan membangunkannya. Pelan bangettt… Ica melepaskan pelukan ibu, dia ngeriii juga kalau ibu tiba-tiba ketawa kayak mbak kunti setelah menangis sejak tadi. Untung persediaan air minum Ica masih ada. “Bismillahirrohmannirrohim….” Bandel-bandel gini sholat lima waktu Ica nggak pernah bolong, dan yang lebih penting dia hapal surat al-fatihah berserta artinya. Ica meniup air dalam gelasnya tiga kali setelah mengucap amin, lalu mencipratkan ke wajah ibu. “Ca?!!! kamu apa-apaan sih, lihat ini spreimu jadi basah. Ibu sudah susah-susah bawa ke londri malah kamu kotori lagi. Besok kamu mau nikah. Memangnya mau pake sprei buluk.” “Alhamdulillah!” ucap Ica penuh syukur. Kan! Jin pen







