مشاركة

Bab 48

مؤلف: Fatmah Azzahra
last update تاريخ النشر: 2026-08-21 21:00:59

[Sudut Pandang Raditya]

"Hipnoterapi?!" Suara Aditya menggelegar, menggema di sepanjang lorong klinik yang dijaga ketat. Urat-urat di pelipisnya menonjol keras. Tangannya kembali meremas kusen pintu dengan beringas. "Kau pikir aku akan membiarkan orang asing masuk dan mengacak-acak pikiran istriku?! Tidak akan pernah! Lakukan cara medis lain!"

Aku tetap berdiri tegak, mempertahankan raut wajah datar khas Dr. Wagner. "Tuan Wardhana, Anda harus memahami kondisi medis yang
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 48

    [Sudut Pandang Raditya]"Hipnoterapi?!" Suara Aditya menggelegar, menggema di sepanjang lorong klinik yang dijaga ketat. Urat-urat di pelipisnya menonjol keras. Tangannya kembali meremas kusen pintu dengan beringas. "Kau pikir aku akan membiarkan orang asing masuk dan mengacak-acak pikiran istriku?! Tidak akan pernah! Lakukan cara medis lain!"Aku tetap berdiri tegak, mempertahankan raut wajah datar khas Dr. Wagner. "Tuan Wardhana, Anda harus memahami kondisi medis yang sedang terjadi. Istri Anda mengalami depresi katatonik fase akhir. Ini bukan sekadar kesedihan biasa. Otaknya secara harfiah sedang mematikan fungsi dasar tubuhnya untuk melindungi diri dari trauma.""Lalu apa hubungannya dengan hipnoterapi sialan itu?!" bentak Aditya tak sabar, wajahnya memerah padam."Itu adalah satu-satunya kunci untuk meretas ulang alam bawah sadarnya," balasku tegas, menyuntikkan nada otoritas yang tak bisa dibantah. "Saat ini, tubuhnya menolak asupan mak

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 47 Di Balik Topeng Sang Psikiater

    [Sudut Pandang Raditya]Aku berlutut di depan kursi roda itu, menatap lekat wajah pucat wanita yang menjadi pusat semestaku. Tanganku perlahan terulur, bergetar hebat, ingin sekali merengkuh tubuh rapuh Sarah ke dalam pelukanku dan membisikkan bahwa aku akhirnya datang untuk menyelamatkannya.Namun, sebelum jemariku sempat menyentuh punggung tangannya, suara panik Marco kembali berderak nyaring di telingaku."Tuan Raditya, tahan diri Anda! Alat pelacak inframerah kami mendeteksi bahwa Tuan Aditya baru saja menempelkan stetoskop penyadap getaran berfrekuensi tinggi tepat di balik pintu kayu itu! Jika Anda mengubah suara atau berbicara hal di luar konteks medis, dia akan langsung mendobrak masuk!"Aku mengatupkan rahangku rapat-rapat. Sialan! Paranoid Aditya benar-benar tak memiliki batas. Kembaranku itu masih terus mengawasi layaknya iblis yang haus darah. Aku terpaksa menelan kembali seluruh kerinduan ini bulat-bulat.Dengan berat ha

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 46

    [Sudut Pandang Raditya] Suasana di ambang pintu seketika berubah sedingin es di kutub utara. Mata kelam Aditya yang semula hanya memancarkan arogansi, kini menyala beringas dipenuhi insting membunuh. "Lapisan benda asing?!" desis Aditya menggelegar. Dalam kedipan mata, moncong pistol hitam telah tercabut dari balik jasnya dan menempel tepat di pelipis kiriku. Belasan tentara bayaran elit di belakangnya serempak mengokang senapan serbu mereka. Bunyi logam bergesekan itu terdengar bagai melodi kematian di lorong klinik. "Siapa kau sebenarnya, Keparat?! Beraninya kau menyamar untuk mendekati istriku!" raung Aditya. Telunjuknya sudah menegang kaku di atas pelatuk. Aku menelan ludah, menahan lonjakan adrenalin yang nyaris meledakkan dadaku. Jika aku salah bicara sedikit saja, peluru ini akan langsung menembus tengkorakku. Aku harus memainkan peran Dr. Wagner dengan sangat sempurna. "Singkirkan senjata kotor Anda dari

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 45

    [Sudut Pandang Raditya] Layar monitor pengawas di atas mejaku menampilkan pergerakan yang sangat terkoordinasi. Aditya berjalan angkuh menyusuri lorong klinik, mendorong kursi roda yang diduduki oleh Sarah. Belasan tentara bayaran elit bersenjata laras panjang langsung menyebar, mengambil posisi di setiap sudut koridor untuk membentuk barikade. Pertahanan kembaranku ini benar-benar tanpa celah, layaknya sedang mengawal seorang tawanan perang bernilai triliunan rupiah. Pintu ruang konselingku diketuk dengan keras. Aku menarik napas dalam-dalam, menekan detak jantungku yang berpacu liar. Mengubah postur tubuhku agar sedikit membungkuk khas Dr. Wagner, aku menekan tombol pembuka pintu otomatis dari bawah meja kayuku. Pintu ek itu bergeser terbuka. Aditya berdiri di ambang pintu, aura intimidasinya menguar pekat memonopoli ruangan. Di depannya, duduk lemah di atas kursi ro

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 44 Mengkudeta Sang Dokter

    [Sudut Pandang Raditya]Jalanan aspal yang membelah hutan pinus di pinggiran Munich telah sepenuhnya tertutup lapisan es tipis dan tumpukan salju. Aku menatap layar pelacak di tabletku dengan mata menyipit tajam. Titik merah yang menunjukkan posisi mobil Dr. Felix Wagner melaju dengan kecepatan sedang, berjarak kurang dari satu kilometer dari posisiku saat ini."Klaus, bersiaplah. Target akan melewati tikungan ini dalam waktu tiga puluh detik," ucapku melalui sambungan penyuara telinga."Mobil van sudah memblokir jalan, Kawan. Dia sama sekali tidak akan punya ruang untuk kabur," sahut Klaus dari ujung jalan sana.Aku menghembuskan napas yang membentuk kepulan asap tipis di udara beku. Tepat sesuai perhitungan matematikaku, sebuah mobil sedan Mercedes-Benz hitam muncul dari balik tikungan tajam. Melihat sebuah van logistik mogok melintang di tengah jalan sempit yang licin, pengemudi sedan itu terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Ban mobiln

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 43 Celah Menuju Sangkar

    Udara sedingin es menyapu wajah pucatku untuk pertama kalinya sejak aku disekap di benua ini. Mataku berkedip pelan, menatap kosong pada deretan pasukan bersenjata laras panjang yang membentuk barikade berlapis di sepanjang lorong sayap timur. Suara langkah sepatu bot militer mereka menggema seirama dengan derit kursi roda yang kunaiki.Aditya mendorong kursi rodaku dengan napas memburu dan rahang mengeras. Tangan kirinya tak pernah melepaskan cengkraman dari bahuku, seolah takut aku akan menguap tertiup angin badai musim dingin."Bertahanlah, Sayang. Kita akan menemui dokter ahli sekarang. Kau pasti akan segera sembuh," bisiknya di dekat telingaku. Nada suaranya bergetar, sebuah perpaduan antara ketakutan kehilangan pewaris yang ada di rahimku dan kemarahan karena harus menyerah pada situasi yang di luar kendalinya.Aku hanya membisu, menatap kosong lurus ke depan. Kebebasan sesaat ini sama sekali tak memberiku setitik pun kebahagiaan. Duniaku sudah

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status