"Cemburu?" gumam Felix pelan, "...belum ada yang pantas membuatku merasa tersaingi."Satu tangannya merapikan jasnya dengan tenang, gerakan kecil yang justru membuat aura mafianya semakin terasa."Aku hanya tidak suka kau menyentuh seseorang sembarangan."Lalu ia mengangkat telapak tangan Reya dan mengecup nadinya paksa, tatapannya nakal namun tetap tajam.Reya menepis tangannya."Kau...dasar tak masuk akal.""Hm." Felix sama sekali tidak tersinggung.Ia melirik Reon yang duduk di kursi depan."Kembali ke rumah.""Baik, Tuan."Mobil pun mulai melaju meninggalkan pelataran rumah sakit."Aku mau pulang ke rumahku sendiri," protes Reya.Felix menyilangkan kedua tangan di depan dada. Matanya terpejam, seolah terlalu lelah untuk berdebat."Menurut saja."Reya mendecak."Aku serius."Tanpa membuka mata, Felix menjawab datar,"Kalau tidak mau bertemu Ayahmu dalam bentuk debu, diamlah."Reya seketika terdiam, ia hanya bisa membuang napas panjang dan memilih memalingkan wajah ke jendela.Disis
Read more