เข้าสู่ระบบ"Haaa...? Maksudnya...?" bisik Reya pelan dengan napas tersengal dan mata kebingungan.Felix tidak memberikan penjelasan lebih jauh. Ia menundukkan kepalanya, mendaratkan kecupan singkat namun dalam di bibir ranum Reya."Bersihkan dirimu dulu, sayang," bisik Felix parau seraya meletakkan sebuah paperbag berisi pakaian ganti bersih di atas kasur, pakaian yang sengaja disiapkannya karena gaun Reya sebelumnya telah ternoda oleh cairan intim Felix yang melimpah akibat pergolakan brutal mereka tadi. "Aku yang akan mengurus semuanya."Felix kemudian memakai kembali kemeja dan jas mewahnya dengan gerakan cepat dan maskulin. Tepat setelah pintu kamar VVIP tertutup rapat dan langkah kaki Felix menghilang di koridor, Reya menggertakkan giginya kesal. Wajah cantiknya membara panas saat menatap baju ganti di dalam kantong tersebut."Sialan..." umpat Reya tertahan dengan raut penuh kekesalan. "Dia bahkan sudah menyiapkan baju ganti ini dari awal hanya untuk mengaduk celenganku di sini!"…Malam y
Felix menggelengkan kepalanya cepat. Tangannya yang besar meremas panggul dan pantat Reya dengan cengkeraman panas yang amat kuat, mengunci tubuh wanita itu rapat-rapat di atas pangkuannya tanpa memberi celah untuk mundur."Aku akan jujur tapi kau jangan marah, Reya. Bella yang melakukannya! Wanita gila itu yang menyergap dan nekat mencium leherku," bisik Felix parau, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya.Reya menatap Felix tajam dengan napas tersengal. "Tapi kau bilang tadi mau ke toilet, Felix!""Aku berbohong soal toilet," aku Felix tanpa ragu. "Aku mendatanginya ke tangga darurat hanya untuk memperingatkannya agar tidak menyentuhmu. Tapi dia malah bersikap liar, jadi aku mendorongnya begitu kuat sampai kakinya patah menghantam tangga. Kalau kau mau, aku bisa kembali ke sana sekarang dan membuat seluruh tulangnya berpencar untukmu."Mendengar kejujuran dan kegilaan yang memancar dari mata suaminya, amarah di dada Reya mendadak luluh, berganti menjadi gelombang gairah cemburu
Bella mengusap bibirnya yang terasa kebas dan berdarah akibat dorongan kasar di tangga tadi. Sudut bibirnya yang ternoda sisa pewarna merah menyunggingkan tawa culas di tengah kegelapan ruang tangga darurat. Jemari lentiknya merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan."Kau hanya akan jadi punyaku, Felix..." lirih Bella dengan bisikan beracun, sebelum akhirnya melangkah naik kembali menuju koridor utama dengan pendar mata pekat oleh dendam.Sementara itu, di dalam ruang perawatan VVIP yang hening dan temaram, denyut monitor jantung terdengar berbunyi teratur. Kakek Wicaksono masih terbaring kaku tak sadarkan diri di atas ranjang medis dengan selang oksigen terpasang. Denis dan Vivian malah telah menyewa kamar suite lain di lantai atas untuk menginap, meninggalkan Felix dan Reya berdua saja menjaga sang legenda mafia kejam itu....Reya kini duduk di kursi samping ranjang dengan raut wajah penuh penyesalan. Jemarinya meremas kain celananya sendiri."Felix... bagaimana kalau Ka
Jemari Maya mengepal sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku cantiknya menancap dalam di telapak tangan.'Sialan! Pria itu benar-benar tahu semuanya!' batin Maya berteriak panik dengan napas memburu. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia memutar tubuhnya dan melangkah cepat meninggalkan lobi hospital yang tegang.Sebagai spesialis bedah jantung senior, Prof. Carlo langsung memimpin tim medis gawat darurat untuk menyelamatkan nyawa Kakek Wicaksono....Dua jam berlalu dalam ketegangan berdarah yang membekukan udara rumah sakit, hingga akhirnya operasi penanganan kritis itu berhasil diselesaikan. Kakek Wicaksono mampu melewati masa kritisnya dan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif VVIP ICU dengan pengawalan ketat para pengawal bersenjata.Begitu keluar dari ruang operasi, Maya langsung menghampiri suaminya di sudut koridor yang temaram."Carlo, Felix sudah tahu kalau Bella bukan putri kandung kita!" bisik Maya dengan wajah pucat dipenuhi kepanikan. "Tapi kita tid
Brak!Tanpa sedikit pun keraguan, Felix merogoh saku dalam jas mewahnya, lalu melempar dua buku nikah bersampul merah dan hijau tepat ke atas meja kaca di tengah ruangan. Seringai tajam yang sarat akan dominasi dan keangkuhan terukir di wajah tampannya.Dengan gerakan santai namun penuh kepemilikan, Felix menarik pinggang Reya, membawanya langsung terduduk di sofa empuk tepat di sampingnya. Pria itu mengabaikan sang kakek yang masih berdiri mematung dengan aura membunuh yang meluap-luap.Felix menyilangkan kakinya yang panjang, mengelus panggul Reya secara terbuka di depan semua orang. "Sudahlah, Kek... duduklah. Gula darahmu nanti naik. Toh untuk apa juga aku menuruti perjodohan kuno yang tak berguna ini?""CUKUP!" potong Kakek Wicaksono dengan bentakan menggelegar hingga dinding ruangan bergetar. Tangannya cengkeram kuat tongkat kayunya. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah merestui pernikahan konyol ini! Denis! Vivian! Kalian tahu soal ini?!"Denis dan Vivian sempat terdiam kak
"Apa-apaan ini?!" jerit Maya melengking dengan napas memburu.Jemari Maya meremas keras kertas hasil tes DNA itu hingga remuk. Tanpa rasa belas kasih sedikit pun, tangan Maya terangkat dan mendaratkan tamparan yang teramat keras di pipi Bella.PLAK!"Siapa kau sebenarnya, jalang?!" murka Maya.Benturan keras itu membuat Bella tersungkur jatuh dari atas sofa. Sudut bibirnya berdarah, dan seluruh tubuhnya berguncang hebat disergap rasa takut yang luar biasa."Aku akan memasukkanmu ke penjara detik ini juga! Kau penipu!" teriak Maya dengan mata memerah menahan amarah dan kekecewaan mendalam.Bella yang panik setengah mati merangkak berlutut di lantai dingin, memegang erat kaki Maya seraya terisak histeris."Ampun... I-Ibu..." bisik Bella meratap."SIAPA IBUMU, SIALAN?!" potong Maya penuh kebencian, menyentak kakinya hingga Bella terjerembab ke lantai.Bella beralih menatap Carlo dengan mata berderai air mata. "A-Ayah..."Carlo meliriknya dengan pendar mata yang sangat sinis dan dingin, m
Felix menatapnya beberapa detik tanpa menjawab. Senyum tipis penuh godaan kembali muncul di bibir pria itu saat ia memperhatikan bagaimana Reya mulai gelisah di depannya.“Kau terlihat takut,” gumamnya rendah.“Aku serius!” Reya buru-buru mencoba bangkit, tetapi tangan Felix di rambutnya menahan le
Pintu kamar tiba-tiba terbuka pelan. Reya yang masih sibuk menarik ujung gaun hitam sepaha itu langsung menoleh tajam. Napasnya memburu penuh emosi saat melihat Felix berdiri santai di ambang pintu.Pria itu bersandar malas di sana dengan kedua tangan di saku celana. Kemeja hitamnya terbuka sedikit
Reya langsung panik menghampiri pria itu, tetapi Felix sudah keluar lebih dulu dari mobil dengan gerakan tenang yang justru terasa menakutkan. Wajah pria itu datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lampu jalan memantulkan sorot dingin di matanya yang gelap.Pria pejalan kaki tadi masih terduduk geme
Ternyata yang masuk adalah Direktur rumah sakit yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Seketika cengkeraman Felix mengendur. Reya memanfaatkan celah itu untuk berdiri cepat sambil menarik napas tajam. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara pipinya masih terasa panas karena kedek







