Senja telah berlalu, dan pendar lampu kekuningan telah menguasai jalanan, saat Wulan dan Sari memacu sepeda motor dengan sisa-sisa tenaga setelah sehari penuh memeras keringat di Toko Kelontong Agustina.“Capek banget aku, Wulan!” keluh Sari. Ia menyandarkan tubuhnya, memeluk erat perut Wulan.“Kalau soal itu, aku pun sama, Sar!” sahut Wulan. “Aduh! Jangan kencang-kencang memeluknya, sakit perutku!”“Habisnya, meluk kamu itu anget sekali, Wulan!” balas Sari sembari tertawa kecil. “Sayang sekali, sudah lama kamu nggak dipeluk lelaki.”“Trus kenapa emangnya?” jawab Wulan balik bertanya dengan nada ragu, sebab ia tahu setiap kali Sari memadu kasih, dirinya pun akan ikut terseret karena Yudha selalu puny
آخر تحديث : 2026-07-26 اقرأ المزيد