INICIAR SESIÓNSetelah berada di dalam kamar, Wulan merebahkan diri di atas ranjang. Ia menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Angannya berkelana, mengingat kemarahan Indah dan meratapi nasibnya yang malang.
‘Sepertinya malam ini Yudha akan datang,’ batin Wulan setelah teringat jadwal rutin kedatangan pria tersebut.
“Mandi dulu, ah!” gumamnya se
Sehabis maghrib, Wulan merasa seluruh sendi-sendinya hendak terlepas setelah ia bekerja seharian. Selain itu, rasa lelah tersebut disebabkan lebih karena percintaan yang begitu ganas bersama dengan Yudha dan Sari. Malam tadi, ia benar-benar merasa bebas dan tak merasa berdosa sedikit pun. Dalam kesempatan itu, bayangan Santoso benar-benar lenyap dari pikirannya. Apalagi bayangan Heru yang sekarang entah dimana.Kedatangan Sari yang mengejutkan, yang pada mulanya dianggap sebagai persoalan, malah membuat suasana semakin liar. Wulan tak menyangka jika percintaan antara seorang pria dengan dua perempuan ternyata lebih melelahkan.Saking senangnya mereka dengan suasana tersebut, bahkan mereka melanjutkan pertempuran tersebut hingga dini hari. Sehingga, nyaris saja Wulan dan Sari terlambat datang ke tempat kerja.Kini, saat Wulan mendapatkan jatah lembur malam, rasa lelah karena pergumulan itu masih terasa. Untuk pertama kalinya, Wulan merasakan rasa letih yang tak kunjung hilang hanya ka
Hanya dalam hitungan hari, sekali lagi Wulan merasa hatinya begitu hancur oleh seorang pria yang telah mencuri hatinya, Santoso.Padahal ia berharap pria tersebut menjadi obat yang manjur sebagai penawar kehancuran hatinya karena Heru, suaminya.Ia tak pernah menduga jika keputusannya itu malah membuatnya semakin terjatuh dalam jurang yang tak berkesudahan.Sembari menundukkan kepala, air mata Wulan terus menetes, meratapi nasibnya yang malang.Sementara itu, Santoso masih berada di sampingnya, diam tanpa kata. Mukanya tampak memerah. Matanya berkaca-kaca. Ia tampak menyesal setelah mengucapkan kata-kata yang membuat kekasih gelapnya itu menangis.Sesekali Santoso melirik ke arah Wulan. Namun, ia tak punya nyali untuk menenan
Wulan merasa beruntung, setelah beberapa kali melakukan kesalahan, ia tak bertemu dengan Indah. Hari itu, sang mandor seolah-olah enggan untuk berkeliaran sembari mengamati dirinya.Perempuan tersebut lebih sibuk bermain ponsel di dalam kantornya. Sesekali, ia hanya nampak bercakap-cakap dengan Sari yang kemungkinan besar hanya membicarakan perihal produk-produk yang telah habis atau yang baru saja datang.Posisi Sari memang cukup penting, ia membuat berbagai catatan tentang stok barang di toko tersebut. Karyawan lain sempat bingung, mengapa karyawan baru seperti dia mendapatkan kepercayaan sebesar itu.Wulan seringkali kerepotan saat mendapatkan pertanyaan semacam itu dari kawan-kawannya yang lain. Sebagai seorang sahabat karib, ia pun berusaha sekuat mungkin untuk melindunginya.
Sepeninggal Sari, mata Wulan tak juga terpejam. Hatinya masih gundah memikirkan nasibnya yang buruk.Ia tak habis pikir, setelah memberikan segalanya untuk Santoso, ternyata pria itu tak menganggapnya sebagai hubungan yang serius.Wulan terus menangis untuk meratapi nasibnya yang tak bersahabat. Ia lantas mengutuk kebodohannya yang mau saja terbuai oleh rayuan setiap laki-laki yang datang kepadanya.Ia merasa sangat menyesal setelah mengobral tubuhnya untuk memuaskan hasrat yang entah mengapa selalu menguasai dirinya.Seiring dengan malam yang semakin larut, suasana pun semakin sunyi. Lalu lalang kendaraan di jalan terus berkurang.Kini, hanya ada detak jam dinding yang menemani Wulan dalam kensendirian. Setiap ketukan
Sesampainya di rumah, mereka berdua bergegas duduk berdampingan di ruang depan. Wulan tampak sangat menikmati momen tersebut.Ia merasa rindu kepada kekasih gelapnya itu. Meskipun ia tak berjumpa dengan pria tersebut hanya dalam hitungan hari saja.Wulan melingkarkan lengannya ke punggung Santoso dan melekatkan tubuhnya ke dada pria tersebut. Dengan nafas yang mulai memburu, Santoso membalas perlakuan itu dengan memeluk erat Wulan.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Wulan mendongak ke atas. Menatap wajah Santoso yang juga menatap dirinya.Keduanya bergegas saling mendekatkan wajah mereka. Bibir Wulan yang kering segera menyambut bibir Santoso.Dua kulit yang kering itu tanpa menunggu lama menjadi basah. Basah kar
Wulan masih menatap wajah Asih yang tampak kalem dan jujur. Bila orang lain yang mengutarakan hal tersebut kepadanya, seratus persen ia takkan mempercayainya.‘Namun yang menyampaikan semua ini Asih. Orang yang tak pernah sekalipun berbohong kepadaku,’ pikirnya.Sejak mereka duduk di ruang istirahat tersebut, Wulan merasa jika kenyataan hidup ia dan Sari jauh lebih gelap ketimbang yang ia ketahui.Ia tahu, jika Sari memang telah berselingkuh di depan matanya sendiri. Ia juga sadar, jika sahabat karibnya itu menjadi pemicu kegilaannya selama ini.Akan tetapi, ia tak habis pikir jika majikannya pun memiliki hubungan khusus dengan dirinya. Dan yang lebih membuat Wulan prihatin, sahabat karibnya itu menjalin hubungan asmara di majikannya satu atap dengan istrinya







