Srenggg...!Minyak panas mendesis saat irisan pisang dimasukkan ke dalam wajan. Gerakan tangan Binar yang membolak-balik pisang membuat tubuh bagian belakangnya bergerak lentur. Pinggulnya yang sintal dan padat berayun tipis di balik sarung yang melilit ketat di pinggangnya, memperlihatkan lekuk bokongnya yang montok berisi."Kopinya pahit kayak biasa kan, Mas?" tanya Binar menoleh sekilas, bulu mata lentiknya berkedip lembut."Iya, pahit aja. Gak usah pakai gula," sahut Badru."Siap, Mas Badru..." canda Binar pelan seraya meniriskan pisang goreng yang sudah kuning kecokelatan ke atas piring kaleng.Dengan cekatan, wanita itu menyeduh bubuk kopi hitam di cangkir seng dengan air mendidih dari cerek, lalu mengaduknya hingga uap panas mengepul harum.Srek...Binar melangkah membawa cangkir kopi dan sepiring pisang goreng panas, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan Badru."Nih, Mas Badru... Kopi pahit sama pisang goreng hangatnya," kata Binar.Bukannya duduk di kursi seberang, Bi
Baca selengkapnya