Share

Bab 131

Author: Arandiah
last update publish date: 2026-10-01 23:27:26

Srenggg...!

Minyak panas mendesis saat irisan pisang dimasukkan ke dalam wajan. Gerakan tangan Binar yang membolak-balik pisang membuat tubuh bagian belakangnya bergerak lentur. Pinggulnya yang sintal dan padat berayun tipis di balik sarung yang melilit ketat di pinggangnya, memperlihatkan lekuk bokongnya yang montok berisi.

"Kopinya pahit kayak biasa kan, Mas?" tanya Binar menoleh sekilas, bulu mata lentiknya berkedip lembut.

"Iya, pahit aja. Gak usah pakai gula," sahut Badru.

"Siap, Mas Badru
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 131

    Srenggg...!Minyak panas mendesis saat irisan pisang dimasukkan ke dalam wajan. Gerakan tangan Binar yang membolak-balik pisang membuat tubuh bagian belakangnya bergerak lentur. Pinggulnya yang sintal dan padat berayun tipis di balik sarung yang melilit ketat di pinggangnya, memperlihatkan lekuk bokongnya yang montok berisi."Kopinya pahit kayak biasa kan, Mas?" tanya Binar menoleh sekilas, bulu mata lentiknya berkedip lembut."Iya, pahit aja. Gak usah pakai gula," sahut Badru."Siap, Mas Badru..." canda Binar pelan seraya meniriskan pisang goreng yang sudah kuning kecokelatan ke atas piring kaleng.Dengan cekatan, wanita itu menyeduh bubuk kopi hitam di cangkir seng dengan air mendidih dari cerek, lalu mengaduknya hingga uap panas mengepul harum.Srek...Binar melangkah membawa cangkir kopi dan sepiring pisang goreng panas, lalu meletakkannya di atas meja kayu di depan Badru."Nih, Mas Badru... Kopi pahit sama pisang goreng hangatnya," kata Binar.Bukannya duduk di kursi seberang, Bi

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 130

    Cklek!Suara palang kayu di pintu bilik belakang mengunci rapat.Badru membuang napas panjang. Udara gubuk masih sarat aroma sabun mandi dan semerbak manis tubuh Binar yang memabukkan. Jakun Badru naik turun kaku. Ia merebahkan badannya di dipan bambu depan, menyelipkan sabit berkarat di samping pinggang, lalu memejamkan mata sambil menajamkan telinga mengawasi pekarangan.Malam merayap lambat diiringi desau angin kebun pisang.Kukuruyuuuk...!Kokok ayam jantan pertama memecah keheningan fajar. Cahaya biru kelabu mulai menerobos celah anyaman bambu, menandakan pagi telah tiba.Badru membuka mata. Pria itu langsung bangkit duduk, merapikan sarung, lalu melangkah ke depan pintu bilik belakang.Tok! Tok!"Teh Binar. Udah pagi," panggil Badru rendah.Srek... Cklek!Palang kayu ditarik dari dalam. Daun pintu terbuka separuh.Sosok Binar menyembul dari balik pintu. Pemandangan di hadapan Badru seketika membuat matanya terpaku. Sarung yang semalam tersampir di pundak Binar kini melorot ke pi

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 129

    Glek!Jakun Badru naik turun kaku saat ujung hidung mancung Binar menyentuh kulit lehernya yang hangat. Napas wanita itu tersengal halus, mengembuskan uap panas yang langsung menggelitik bulu kuduk Badru.Srekk...Jemari lentik Binar tak sekadar bertaut di sela jemari kasar Badru, tapi perlahan merambat naik, meremas otot bisep di lengan pria tegap itu. Wangi pelet Kencana Wilis yang menguar makin pekat seakan membakar sisa-sisa kewarasan di kepala Binar."Mas Badru..." bisik Binar lirih, suaranya terdengar begitu rapuh bercampur gelora yang tertahan. "Jangan suruh saya menjauh... Saya gak kuat kalau harus nahan dingin sendirian di kamar belakang..."Badru memejamkan mata sesaat. Otot-otot rahangnya mengeras kaku, menahan darah mudanya yang mendidih deras ke seluruh tubuh."Teh Binar, sadar," tegur Badru dengan suara ditekan rendah, mencoba menarik tangannya perlahan. "Ini bukan rasa kedinginan biasa. Pikiran Teteh lagi kacau kena pengaruh hawa malam.""Bukan, Mas..." bantah Binar cep

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 128

    Srek...Pintu kamar belakang berderit pelan. Binar merangkak keluar dari bawah kolong ranjang kayu. Seluruh badannya masih gemetar hebat, wajah cantiknya pucat pasi tanpa rona sedikit pun.Melihat Badru berdiri tegap di ambang pintu tengah, pertahanan Binar seketika runtuh. Langkah kakinya yang goyah bergegas mendekat, lalu tanpa aba-aba, kedua tangannya melingkar erat memeluk pinggang liat Badru dari depan.Gruk!Wajah Binar terbenam di dada bidang Badru yang hangat. Isak tangisnya pecah tertahan, membasahi kulit telanjang pria itu dengan air mata yang hangat."Mas Badru... hiks... saya takut banget..." bisik Binar tersengal-sengal, cengkeraman jemarinya meremas kain sarung di punggung Badru kian kencang. "Kalau dia bawa saya balik... hidup saya pasti abis disiksa lagi..."Glek!Jakun Badru naik turun kaku. Kehangatan tubuh Binar yang hanya terbalut kaos tipis menempel lekat di badannya, membuat detak jantung Badru ikut terpacu. Namun, melihat kepanikan murni di mata wanita itu, Badr

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 127

    Brak! Brak! Brak!Gedoran di pintu kayu rumah panggung tua milik Badru berdentum keras membelah sunyi malam, merontokkan debu-debu halus dari kusen kayu. Hawa merah yang semula Badru kira jelmaan Bantara buyar seketika, berganti dengan suara bentakan kasar seorang laki-laki dari luar teras."Woi! Buka pintunya! Jangan pura-pura tidur lu di dalam!"Deg!Wajah Binar seketika pias seperti mayat. Begitu mendengar lengkingan suara berat dan serak itu, kedua matanya membelalak dipenuhi teror yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat sampai bibirnya bergetar kencang, jemarinya refleks membekap mulut sendiri agar tak menjerit."I-Itu suara Mas Joko... suami saya..." bisik Binar tercekat, air matanya luruh membasahi pipi. Jemarinya mencengkeram lengan Badru dengan kuku-kuku yang menancap panik. "Dia beneran nyari saya sampai ke kampung ini, Mas..."Badru menatap sorot mata Binar yang kalut setengah mati. Tanpa banyak bicara, Badru menepuk punggung tangan wanita itu seraya memberi isyarat ke arah

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 126

    Malam makin larut. Hawa dingin kebun pisang menyusup lewat celah dinding bambu.Di lantai beralas sarung, Badru tidur dengan kening berkerut dalam. Napasnya memberat saat dadanya mendadak terasa tertindih beban tak kasat mata.Whuushh...Udara di sekitarnya mendadak panas. Bau belerang dan anyir darah menyengat indra penciumannya.Di alam bawah sadarnya, kabut merah berputar pekat. Sosok Bantara muncul dengan mata menyala dan seringai bertaring."Badru..." dengus suara berat itu tepat di telinganya. Cengkeraman kuku hitamnya terasa membakar bahu Badru. "Wanita-wanita itu sudah basah oleh aromamu... Semakin liar mereka, semakin dekat purnama tiba. Siapkan ragamu untuk melayaniku!"'Pergi, iblis laknat!' tolak Badru menggeram kuat dalam tidurnya."Hahaha! Kau tak bisa lari, Badru!" tawa Bantara menggelegar buas.Bruk!"Hah... hah... hah!"Badru tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi kening dan kaos kusamnya. Tangannya refleks meraba saku sarung, memastikan botol M

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 5 Godaan dan gangguan

    Badru bergegas duduk di tepi ranjang kapuk. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir rasa pusing yang masih tersisa. Namun, begitu matanya terbuka lebar, rasa pusing itu langsung hilang dalam sekejap.Deg.Jantung Badru hampir copot saat melihat pemandangan di depannya.Lara

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 4 kehidupan kedua

    Karena pintu tidak tertutup, jadi Badru mengira ia bisa masuk tanpa mengetuk pintu. "Teh Laras... ini pompa ASI-nya sudah saya beli," kata Badru. Suaranya pecah di ujung kalimat karena gugup.Laras kaget, kepalanya menoleh cepat. Gerakan mendadak itu membuat daster batiknya melorot, memperlihatkan

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 3 Parfum aneh

    Narti menyandarkan pinggulnya yang padat ke tepi etalase kaca. Kaos marun ketat yang membungkus tubuh atasnya tampak begitu sesak, memperlihatkan lengkungan dada yang penuh dan menonjol tegak. Bibirnya yang basah oleh lipstik merah merekah melengkung tipis, menatap Badru yang sedari tadi gelisah m

  • Parfum Pemikat Wanita    Bab 1 Badru si 'banteng bau'

    "Kita udahan aja ya, Kang. Lilis udah nggak bisa kalau harus lanjutin hubungan ini." Badru terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Lilis, gadis pujaan hati yang selalu ia bayangkan akan menjadi istrinya. "Kenapa emangnya, Lis?" tanya Badru. Suaranya terdengar serak dan berat, berusaha keras mered

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status