“Ini rumah untukmu, Rin. Tempat yang seharusnya menjadi rumah kita sejak awal.”Airin menatap kunci di telapak tangannya.Ada rasa hangat yang perlahan menjalar di dadanya. Sejujurnya, rumah seperti ini adalah sesuatu yang pernah ia impikan.Tetapi entah kenapa, kali ini kebahagiaan itu justru terasa menyakitkan.“Kenapa baru sekarang, Mas,” gumamnya.Tama diam sejenak, menatap Airin dengan sendu.“Maaf, kalau ini terlambat. Aku hanya ingin memulai dari awal lagi.”“Tapi aku tidak tahu apakah kamu masih mau tinggal di dalamnya bersamaku,” imbuh Tama.Airin membisu, beberapa kali menelan ludah. Kali ini hatinya berkecamuk hebat.Sungguh ia masih marah dengan Tama. Ia kesal dengan sikap tidak tegasnya. Ia juga tidak mau menjadi korban kata manis Tama.Hanya saja, dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak ingin rumah tangganya yang masih seumur jagung ini kandas begit
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-14 อ่านเพิ่มเติม