"Siapa yang mendorongmu, Nayla? Katakan padaku sekarang juga," desak Panglima Rafiq dengan sepasang mata yang menuntut kejujuran.Nayla Azura memilih menatap lantai marmer yang dingin, menghindari tatapan mengintimidasi sang panglima tertinggi kesultanan."Hamba... tidak melihat siapa pun di atas tangga tadi, Panglima," jawab Nayla dengan suara bergetar halus yang dipaksakan setenang mungkin.Padahal, kilasan bayangan wajah panik Selir Layla saat mendorongnya masih terekam dengan teramat jelas di dalam benaknya.Nayla tahu, jika ia menyebutkan satu nama bangsawan tanpa adanya saksi mata, maka malam ini juga kepalanya yang akan menggelinding di lapangan istana atas tuduhan memfitnah selir agung.Sembari mendengus pelan, Panglima Rafiq perlahan berlutut di hadapan pelayan itu guna mengobati luka memar di pergelangan tangan Nayla.Jemari kekarnya yang biasa menggenggam gagang pedang perang kini bergerak dengan kehati-hatian saat mengusapkan minyak herbal."Kau harus membuat laporan resmi
Terakhir Diperbarui : 2026-07-16 Baca selengkapnya