LOGINDuh Bund, Emak auto mleyot! Di balik wajah es batunya, Sultan Azfar ternyata diam-diam cemas nanyain kabar Nayla! Tapi bahaya nih, Penasihat Malik sadar Nayla mulai jadi kelemahan terbesar Sultan dan siap lancarin serangan terselubung. Istana Al-Qamar makin mencekam! Makin gak sabar nungguin aksi Sultan ngelindungin Nayla dari intrik busuk selanjutnya? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW, dan tumpahin KOMENTAR kalian! Jangan lupa berikan SUPPORT terbaik kalian secara ugal-ugalan buat author lewat koin atau hadiah. SUPPORT kalian adalah bensin utama biar bab baru cepet up!
Pertanyaan Sultan Azfar yang terucap dingin membuat seluruh lapangan tengah bergemuruh hening secara mendadak.Tak ada satu pun jiwa yang berani mengembuskan napas terlalu keras. Sejak detik itu... skandal racun bukan lagi perkara seorang pelayan rendahan, melainkan ancaman langsung terhadap mahkota kesultanan.Nayla menegakkan dadanya, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Sultan Azfar yang seluas samudra kelam.Suaranya melengking nyaring memecah keheningan yang mencekam."Hamba memang belum bisa menyebutkan satu nama secara pasti hari ini, Yang Mulia Sultan!" seru Nayla seraya meremas jemarinya yang masih gemetar."Namun, hamba mendengar sendiri jerit tangisnya di dalam penjara bawah tanah! Pelayan itu... dia diselimuti ketakutan yang luar biasa!" lanjut Nayla, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.Nayla mengarahkan telunjuknya yang kurus ke arah panggung kayu eksekusi tempat pelayan itu berlutut terikat."Anak laki-lakinya sedang terbaring sakit keras di desa perbatasan, Yang
Semua kepala menoleh serentak.Seorang gadis berlari membelah lautan manusia yang memadati lapangan tengah. Rona wajahnya masih sepucat kain kafan, dan langkah kakinya goyah gontai.Namun... tak ada sedikit pun keraguan di dalam sorot matanya. Nayla telah datang.Panglima Rafiq melompat turun dari tribun kehormatan, melangkah lebar menembus barikade prajurit dengan raut terkejut."Nayla?! Apa yang kau lakukan di sini?! Tubuhmu bahkan belum pulih dari sisa racun itu!" seru Rafiq seraya merengkuh siku gadis itu, menahan tubuhnya yang tampak ringkih.Sultan Azfar mendadak berdiri tegak dari takhta emasnya, membuat jubah hitam megahnya berkibar diterpa angin.Sultanah Mariam di sampingnya ikut mencondongkan tubuh dengan mata membelalak heran."Astaga, bukankah dia pelayan pribadi Sultan yang memuntahkan darah kemarin lusa?" bisik seorang bangsawan di barisan depan."Bagaimana mungkin dia bisa berlari sejauh ini dari kamar perawatan?" sahut menteri di sebelahnya seraya menggeleng kebingung
Matahari baru saja terbit memancarkan pendar keemasan di ufuk timur. Namun lapangan tengah Istana Al-Qamar sudah dipenuhi oleh ribuan pasang mata.Semua orang berbondong-bondong datang—rakyat jelata, bangsawan, dewan menteri, hingga prajurit—hanya untuk menyaksikan satu hal: detik-detik kematian seorang pelayan.Suara riuh rendah ribuan manusia bergemuruh memenuhi setiap sudut lapangan yang gersang.Debu tipis membumbung saat massa berdesakan mendekati panggung kayu tebal."Kudengar pelayan wanita itu yang nekat meneteskan racun ke dalam teh herbal milik Yang Mulia Sultan," bisik seorang warga di barisan terdepan seraya menjinjitkan kakinya."Benar sekali," sahut pria di sebelahnya dengan mengangguk keras."Beruntung Selir Safiya menemukan botol racunnya terkubur di bawah taman, kalau tidak... habislah penguasa kita."Di sekeliling panggung, barisan prajurit berzirah besi berdiri tegak mengunci jarak.Tombak-tombak panjang mereka saling menyilang, membentuk barikade ketat yang mustahi
Malam itu Istana Al-Qamar jauh lebih sunyi dari biasanya.Tak ada suara tawa pelayan di balik lorong.Tak ada alunan musik kecapi dari paviliun harem.Semua orang mengetahui besok pagi akan ada darah yang tumpah di tiang pancung.Namun di balik kesunyian mencekam itu tidak semua orang menginginkan matahari segera terbit.Di luar lapangan tengah istana, suara gesekan besi yang ngilu dan tajam terdengar berulang-ulang dari arah barak algojo.Logam pedang pancung berkilau memantulkan cahaya merah dari obor minyak yang mulai menyala di setiap sudut.Puluhan prajurit berzirah tampak sibuk memaku balok-balok kayu tebal, mendirikan panggung eksekusi yang tinggi dan megah.Bayangan hitam dari panggung tersebut membentang panjang di atas lantai batu, seolah siap menelan nyawa siapa pun yang berdiri di atasnya.Dua prajurit penjaga gerbang dalam berdiri mengawasi pengerjaan tersebut seraya merapatkan pegangan tombak besi mereka yang dingin."Besok pasti akan sangat ramai dan mencekam," ujar pra
Selama bertahun-tahun menjadi pelayan rendahan di Istana Al-Qamar, Nayla tidak pernah meminta keistimewaan apa pun.Namun hari itu... ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Panglima Rafiq.Dan mengulurkan satu permohonan yang mempertaruhkan keselamatan nyawanya.Panglima Rafiq berdiri kokoh di samping ranjang kayu dengan kedua tangan bersedekap rapat di depan dada.Matanya menatap tajam ke arah Nayla, menunjukkan raut wajah yang sepenuhnya menolak."Hamba mohon, Panglima Rafiq. Hamba harus bertemu dengan pelayan itu," ucap Nayla seraya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, suaranya bergetar menahan harap.Rafiq menggelengkan kepalanya dengan sangat tegas."Tidak, Nayla. Jawabanku tetap tidak.""Tapi ini sangat penting untuk pengungkapan penyelidikan Anda—""Kondisi fisikmu belum pulih sepenuhnya, Nayla!" potong Rafiq dengan intonasi naik satu nada, memancarkan rasa khawatir yang mendalam."Kau baru saja memuntahkan darah begitu pekat kemarin lusa. Masuk ke lorong
Hari demi hari telah berlalu melingkupi kesultanan Al-Qamar. Namun kedua mata Nayla masih belum juga terbuka sedikit pun dari ketidaksadarannya.Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian berdarah itu pecah, seluruh paviliun istana terasa sangat sunyi dan hampa tanpa kehadiran gelak tawa maupun ayunan langkah pelayan muda itu.Di kamar perawatan sayap dalam, aroma tajam dari rebusan akar gurun memenuhi udara yang pengap.Tabib Agung membungkuk pelan, memperhitungkan denyut nadi lembut di pergelangan tangan Nayla sebelum perlahan melepas jemarinya.Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat bungkusan ramuan herba yang mengering di dahi gading pelayan itu.Kain kompres baru yang masih basah oleh air es dipasangkan kembali ke kening Nayla yang hangat.Sofyan, yang sejak kemarin lusa hampir tak pernah beranjak dari sisi ranjang kayu tersebut, duduk menopang dagunya dengan raut wajah kusut. Kelopak matanya menghitam akibat kurang tidur.Ia menatap paras pucat sahabatnya seraya menggerutu kecil u







