Samuel mendadak tertawa lepas, sebuah tawa bariton yang menggema di dalam ruang VIP yang kedap suara itu.Thomas dan Rafael saling melirik dengan kening berkerut, merasa asing dengan respons yang sama sekali di luar prediksi mereka.Samuel kemudian melipat kedua tangan di dadanya, menatap Thomas dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin."Anda salah besar, Tuan Thomas," ucap Samuel, nada suaranya merendah namun bergetar penuh penekanan. "Hubungan saya dengan Edgar bukan sekadar bos dan anak buah seperti yang ada di dalam isi kepala picik kalian berdua."Thomas menaikkan alisnya. "Lalu? Apa lagi namanya jika bukan hubungan profesional?""Edgar sendiri yang telah mendukungku dari titik nol, mendirikan Anderson Group hingga menjadi raksasa seperti sekarang," lanjut Samuel, senyum miringnya semakin melebar, sarat akan kebanggaan yang provokatif."Asal Anda tahu, kami berdua adalah dua anak yang sama-sama dibuang. Kami sama-sama anak haram yang tidak dianggap oleh kelua
Read more