Sore harinya, ruang VIP restoran hotel bintang lima itu terasa sunyi dan dingin.Thomas dan Rafael duduk berhadapan dengan Samuel, yang tampak santai dengan setelan jas abu-abunya. Di atas meja, segelas wiski mahal milik Samuel belum tersentuh sama sekali.Thomas berdehem, membuka percakapan dengan senyuman formal yang dipaksakan. "Saya selalu kagum dengan perkembangan Anderson Group, Tuan Samuel. Perusahaan Anda berkembang luar biasa pesat di Asia Tenggara, padahal jika dihitung-hitung, baru lima tahun berjalan sejak pertama kali berdiri.""Terima kasih atas pujiannya, Tuan Thomas," jawab Samuel, hanya tersenyum tipis tanpa minat untuk memperpanjang basa-basi. Dia melirik jam tangan kronografnya dengan gestur sengaja."Namun, saya memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor sore ini. Jadi, langsung saja. Apa sebenarnya yang ingin Anda dan putra Anda bicarakan dengan saya?"Thomas melirik Rafael, memberikan kode mata. Rafael dengan sigap langsung mengeluarkan berkas be
Magbasa pa