"Ah! Edgar, jangan menyiksaku," desis Selina terengah-engah, kepalanya menggeleng gelisah di atas tumpukan bantal putih yang kini berantakan.Sentuhan jemari Edgar di pangkal pahanya tidak lagi perlahan.Pria itu menyibakkan kedua paha Selina selebar mungkin, memosisikan tubuh tegapnya tepat di tengah kurungan kaki jenjang wanita itu.Tatapan mata elangnya yang gelap penuh gairah mengunci wajah Selina yang memerah padam, basah oleh peluh halus yang berkilau di bawah lampu remang."Aku tidak menyiksamu, Selina. Kau sendiri yang menginginkan ini," bisik Edgar, suaranya terdengar begitu serak dan sarat akan dominasi mutlak.Tanpa memberikan aba-aba atau jeda untuk bernapas, Edgar menegakkan panggulnya dan menghantamkan miliknya yang sudah menegang sempurna masuk penuh ke dalam keintiman Selina.Penyatuan yang mendadak dan tak berampun itu membelah pertahanan Selina hingga ke dasar ter dalam."Akhhh!" Selina menjerit heboh, matanya membelalak lebar sebelum akhirnya terpejam erat. Kedua ta
Magbasa pa