LOGINSelina tidak sempat membalas pertanyaan Edgar barusan.Jawaban itu seketika tenggelam begitu Edgar kembali meraup bibirnya dalam ciuman yang jauh lebih menggebu, panas, dan liar.Lidah Edgar menyusup menerobos masuk, membelit lidah Selina secara dominan, menyerap setiap inci rasa manis dan saling bertukar saliva yang terputus-putus di sela sengal napas mereka.Selina melenguh pasrah, mencengkeram erat bahu berotot Edgar demi menahan sengatan gairah yang mendadak meledak.Edgar menarik wajahnya perlahan, menyisakan benang saliva di udara sebelum mendaratkan bibirnya di leher jenjang Selina.Kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil yang liar menelusuri leher hingga turun ke dada Selina.Di bawah pendar lampu ruang kerja, kedua payudara Selina membusung indah, naik turun memburu mengikuti irama napasnya."Indah sekali," bisik Edgar dengan suara baritonnya yang serak dan berat. Tangannya meremas kenyal salah satu bagian itu dengan tekanan yang pas."Terasa semakin membesar dan padat setiap
Edgar menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada hal spesifik. Ini hanya untuk menambahkan informasi atau apa pun itu, bukti kuat untuk menggulingkan Rafael dan Thomas begitu kita mendapatkannya. Dengan begitu, mereka tidak akan bisa mengintimidasi kau maupun aku lagi di rumah ini."Edgar bersandar pada punggung kursinya dan menatap langit-langit ruangan sejenak dengan pandangan malas."Sebenarnya aku sangat malas melakukan hal-hal menguras energi seperti ini. Toh, aku sudah punya perusahaan sendiri yang aku bangun dengan jerih payah dan keringatku sendiri selama bertahun-tahun. Kalau bukan karena perintah dari seseorang, mana mungkin aku mau bersusah payah melakukan ini semua."Selina seketika mengerutkan keningnya dalam-dalam. Kata 'perintah' itu menghantam rasa ingin tahunya hingga ke puncaknya."Perintah? Perintah dari siapa, Edgar? Siapa yang bisa menyuruhmu?"Namun, Edgar tidak menjawab.Pria itu hanya diam membisu, mengabaikan tatapan menuntut Selina, lalu mengulurkan tangan mer
Selina kembali mengarahkan fokusnya pada tumpukan kertas laporan yang berserakan di meja.Tangannya yang memegang pena terus mencatat poin-poin krusial, bertumpu penuh pada tugasnya untuk membongkar setiap kejanggalan keuangan Theodore Group hingga tak ada satu pun transaksi mencurigakan yang terlewat.Namun, rasa lelah yang menumpuk sejak pesta semalam dan pergulatan gila-gilaan mereka di kamar hotel mulai menggerogoti pertahanannya.Tanpa sadar, Selina menguap cukup lebar seraya memejamkan mata sejenak, melemaskan otot-otot wajahnya yang tegang.Suara gesekan pena Edgar di sudut meja mendadak terhenti. Pria itu menoleh perlahan, menatap wajah Selina yang tampak kelesuan di bawah pendar lampu meja."Ngantuk, hm?" tanya Edgar dengan suara baritonnya yang rendah dan dalam.Selina tersentak kecil, refleks menegakkan punggungnya.Dia pun menoleh ke arah Edgar dan menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba bersikap seolah dirinya masih sangat segar."Tidak," jawab Selina berbohong. "Ak
Hampir lima jam penuh Selina duduk mematung di kursi kerja, membedah setiap baris angka yang tertera di dalam dokumen rekapitulasi keuangan Theodore Group.Jemarinya yang lincah menari di atas kalkulator, sementara matanya yang jeli meneliti lembar demi lembar laporan arus kas dengan tingkat ketelitian tinggi.Keheningan di dalam ruangan itu hanya dihiasi oleh denting halus kalkulator dan gesekan kertas yang dibalik.Hingga akhirnya, kening Selina mengernyit dalam.Dia menemukan pola yang sangat aneh pada kolom pengeluaran operasional di kuartal kedua dan ketiga.Selina mengambil pulpen, menarik selembar kertas kosong, lalu mencatat rekapitulasi kejanggalan tersebut secara terperinci."Edgar," panggil Selina memecah keheningan. "Coba lihat ini."Edgar mendongak dari layar laptopnya, menatap Selina yang kini menyodorkan lembaran catatan rapi itu ke hadapannya.Pria itu mengulurkan tangan, mengambil catatan yang dibuat oleh Selina, lalu menelitinya dengan sangat detail.Sepasang mata el
Jemari Selina yang bergetar hebat menunjuk ke arah koridor utama tempat kamar Rafael berada. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun di dalam pelukan Edgar yang protektif. Rasa panik yang mendominasi dirinya perlahan mencair, berganti menjadi emosi meluap-luap yang tak lagi mampu ditahannya."Pria itu ... Rafael tiba-tiba saja memaksaku dan mengajaknya bercinta!" adu Selina dengan nada suara naik satu oktav. Wajahnya memerah karena paduan rasa marah dan mual yang luar biasa. "Dia benar-benar sudah tidak waras! Mengoceh soal tuntutan orang tuanya yang menginginkan pewaris, lalu marah-marah saat aku menolaknya. Pria aneh! Dia pikir dia siapa bisa bersikap sesuka hatinya padaku?!"Edgar menyimak setiap luapan kekesalan yang keluar dari bibir Selina dengan raut wajah yang tetap tenang, namun sorot matanya menajam secara berbahaya. Sebelah alis tebalnya terangkat pelan, meneliti raut wajah Selina demi memastikan kondisi wanita itu."Tapi dia tidak menyentuhmu, kan?" tanya Edgar p
Satu jam setelah meninggalkan kamar hotel bersama Edgar, Selina melangkah masuk ke dalam bangunan utama kediaman Theodore.Langkah kakinya begitu pelan dan penuh kewaspadaan saat melintasi area ruang tamu.Koridor terasa sepi, namun begitu dia melangkah mendekati pintu kamar utamanya, aroma alkohol yang sangat menyengat langsung menusuk indra penciumannya.Selina mendorong pintu kamar perlahan.Di sana, Rafael tampak berdiri oleng di dekat ujung ranjang dengan kemeja yang sudah terbuka berantakan dan wajah memerah padam. Pria itu masih sangat mabuk akibat pesta semalam.Selina mengabaikan keberadaan suaminya.Dia hanya ingin segera masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan membersihkan diri.Namun, baru dua langkah Selina berjalan menuju lemari, sebuah cengkeraman kasar di lengannya menghentikan langkahnya.Rafael menarik tubuh Selina secara tiba-tiba hingga wanita itu berbalik menghadapnya."Mau ke mana kau?" serak Rafael, napasnya yang bau alkohol berembus kasar di wajah Selin
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me







