Suara desisan rendah Ethan yang bergema dari arah ranjang menghentikan gerakan tangan Tiffany tepat saat telapak tangannya menekan gagang pintu kayu. Hawa dingin pendingin udara seakan membeku seketika di udara. Tiffany memejamkan mata erat-erat selama tiga detik penuh, mengumpulkan sisa kesabaran di dasar dadanya yang mulai mendidih."Sensasi terbakar tidak muncul dari perubahan suhu ruangan dua derajat, Tuan Vance," cetus Tiffany tanpa memutar tubuhnya, suaranya mengalun tajam dan dingin."Sensasi itu merayap dari dalam otot dada, Dokter," balas Ethan dari balik selimut tebal, intonasi suaranya dibuat amat serak dan menyedihkan. "Mungkin perubahan aliran udara memicu saraf di sekitar luka tembak."Tiffany memutar tubuhnya kasar, menatap pria tegap itu dengan sorot mata yang sanggup mengiris besi. Dia memilih mengabaikan rengekan terselubung itu sore kemarin, melangkah keluar kamar tanpa memedulikan tatapan tajam suaminya. Namun, rasa jengkel yang tertahan sejak kemarin sore rupa
Read more