Sentuhan kulit yang saling mengunci di bawah keremangan kamar itu bertahan selama beberapa detik penuh. Desir asing yang menjalar di dalam dada Tiffany berpacu makin kencang, memaksa wanita muda itu melepaskan pegangannya dari ikat rambut sutra merah tersebut.Tiffany menarik tangannya kembali secara mendadak, menegakkan punggungnya dengan gerakan patah-patah demi mengikis jarak bahaya di antara mereka. Dia merapikan gaun tidurnya dengan kibasan tangan yang kaku, berusaha keras menetralisir rona merah yang mendadak membakar kedua pipinya."Terima kasih, Tuan Vance," ucap Tiffany dingin, merebut ikat rambut itu dari genggaman Ethan sebelum berbalik membelakangi ranjang raksasa tersebut."Sentuhanmu tadi jauh lebih efektif menghangatkan tanganku dibanding selimut tebal ini, Dokter," celetuk Ethan rendah, menyandarkan kepalanya kembali ke tumpukan bantal dengan senyum miring yang teramat tipis.Tiffany memilih berpura-pura tuli, melangkah mantap menuju sofa pualam di sudut ruangan t
Read more