LOGINPertanyaan itu sederhana, tetapi beratnya seperti satu kontainer cabai rawit.
Azalea menunduk. Ia memilin ujung kemejanya. “Aku… nggak tahu, Mas. Traumaku masih besar. Setiap malam aku masih mimpi Bara selingkuh. Setiap lihat pasangan suami istri, aku takut. Aku takut gagal lagi. Aku takut jadi istri yang tidak cukup.”
Arsen mengangguk, mengerti. “Lalu, apa yang bisa aku lakukan biar kamu tidak takut?”
Azalea menggigit bibir. “Jangan b
"Na-nanti lagi ya, Mas. Aku harus beres-beres. Permisi."Azalea mau masuk, tapi Bara memanggilnya lagi dengan suara pelan dan terdengar sendu.“Zel, bentar... satu lagi...”Azalea berhenti, tidak balik badan, masih pegang gagang pintu.Bara di depan pagar, hujan rintik mulai turun lagi, bahunya basah.“Aku... aku ingin minta maaf atas apa yang aku lakukan ke kamu selama 2 tahun, Zel. Atas kata-kata Ibu, atas aku yang diem aja waktu kamu disuruh minum jamu tiap hari, atas aku yang bentak kamu, atas... atas semua, Zel. Maaf ya, Zel...”Suara Bara pecah. Laki-laki itu yang dulu keras, sekarang menunduk seperti anak kecil.Azalea mengangguk saja, tidak menatap Bara. Dadanya sesak.“Iya, Mas Bara. Aku maafkan,” jawabnya pelan.Tapi dia bilang lagi, dengan suara lebih tegas, tolong jaga jarak karena dia masih trauma terhadap Bara.“Tapi tolong, Mas Bara... tolong jaga jara
“Iya, Bu. Kemungkinan besar minggu depan, setelah dokter nyatakan Vanessa boleh keluar RS, Vanessa akan langsung dipindah ke Rutan Pondok Bambu. Sidang pertama bulan depan. Saya akan usahakan rehabilitasi dan hukuman percobaan, tapi saya tidak janji bisa bebas. Paling ringan 1 tahun penjara, Bu.”Mendengar kata “Rutan Pondok Bambu” dan “1 tahun penjara”, Vanessa langsung pecah.Dia menangis. Bukan menangis manja seperti dulu waktu minta dibelikan tas. Tapi menangis meraung, seperti anak kecil kehilangan segalanya.“AKU GAK MAU DIPENJARA, MA! AKU GAK MAU! AKU DOKTER, MA! BUKAN PENJAHAT, MA!”Ia menangis bersama dengan Bu Lidya. Bu Lidya peluk anaknya di kursi roda, ikut meraung.“Iya, Nessa, iya... Mama di sini, Nak... Mama di sini...”Seperti hidupnya sudah berakhir begitu saja.Vanessa membenamkan wajahnya di bahu ibunya yang kurus.“Ma... hidup Vanessa sudah berakhir, Ma... Papa gak ada, perusahaan gak ada, rumah gak ada, Ars
“Harusnya itu yang Vanessa pikirkan saat berbuat jahat dan semua tuduhan itu kepada saya, Bu. Harusnya dia pikirkan sebelum kasih obat ke saya. Lagipula, untuk Vanessa di kursi roda juga tak akan berlangsung terlalu lama. Saya dokter, Bu Venia. Saya lihat ronsennya. Mungkin sekitar 6 bulan dan maksimal 1 tahun untuk bisa berjalan kembali. Jadi jangan terlalu mendramatisir seakan lumpuh selamanya.” balas Arsen dengan tegas.Bu Venia diam, tertampar fakta medis yang tak bisa ia bantah karena Arsen sendiri seorang dokter. Pastinya bisa membaca situasi yang dialami kliennya saat ini.Arsen lanjut, suaranya masih dingin.“Terus untuk hutang perusahaan Vanessa, bukan karena saya. Itu hutang papanya sendiri. Meninggalnya Pak Hasan juga bukan karena Azalea. Hasil visum jelas serangan jantung koroner. Jadi kenapa Bu Venia malah menyerang saya dan Azalea serta memaksa untuk memaafkan Vanessa? Seakan kami yang jahat kalau tidak memaafkan?”
Senin siang, jam 13.00. Tempat praktek Arsen.Pasien baru saja selesai, Arsen baru lepas handscoon, mau makan siang yang dibawakan Azalea. Nasi + sambal cumi hitam level 5, favoritnya.Pintu diketuk.“Dok, ada tamu. Katanya Bu Venia, pengacara Dokter Vanessa,” kata suster.Arsen menghela napas panjang. Mukanya langsung berubah.Bu Venia masuk, masih dengan kerudung coklat, bawa map tebal, senyum profesional. Tapi di belakangnya, 2 pasien yang antri langsung berbisik-bisik, “Itu pengacara dokter viral itu kan?”“Maaf mengganggu jam praktek, Dok,” kata Bu Venia sopan. “Saya minta bicara 4 mata sebagai pengacara dari Vanessa dan karena sebentar lagi Vanessa diizinkan untuk pulang, maka kemungkinan besar, Vanessa akan ke rutan. Jadi saya ingin bicara soal perdamaian.”Arsen menerima kedatangan Bu Venia, tapi dia tahan emosi. Dia bilang pelan, tapi tegas, supaya pasien di luar tidak dengar.
Seminggu setelah ditetapkan jadi tersangka, Bu Lidya memanggil pengacara untuk membela Vanessa. Ia hubungi 7 kantor pengacara mahal di Jakarta Selatan, yang biasanya langganan perusahaan Pak Hasan.Semua menolak.“Maaf Bu, kasusnya sudah viral dan bukti kuat, kami tidak bisa.”“Maaf Bu, klien kami kebanyakan perusahaan, tidak ambil kasus pidana obat.”“Maaf Bu, kami takut dibully netizen juga.”Akhirnya ia mencari LBH. Datang ke LBH dengan mata sembab, pakai baju daster. Ia bahkan tak peduli bagaimana penampilan kacaunya sekarang.Dan untungnya, ada satu orang yang mau membantu kasus untuk Vanessa. Namanya Ibu Venia, pengacara muda umur 32 tahun, kerudung coklat dan terlihat tegas.“Bu, saya lihat semua bukti. Semua kuat. Jadi mungkin, tugas saya bukan untuk menghilangkan hukuman, tapi mempersingkat masa hukuman. Dari yang seharusnya 4 tahun, mungkin bisa jadi 1 tahun percobaan atau rehabilitasi, ka
Pak Djoko menghela napas.“Secara hukum, video pengakuan dan video Fierza itu milik kalian, itu bukti kalian. Kalian berhak pakai untuk membela diri. Tapi saran saya sebagai penyidik, jangan kalian viralkan sendiri dengan caption emosi. Berikan ke kami. Kami yang akan rilis resmi lewat Humas Polres. Biar netizen percaya, bukan dikira editan. Dan biar kalian tidak terjerat UU ITE balik karena pencemaran nama baik, walaupun kalian benar. Kalau Humas Polres yang rilis, itu resmi, tidak bisa dituntut balik.”Arsen menatap Azalea. Azalea mengangguk pelan.“Baik, Pak. Kami serahkan semua ke Bapak. Asal nama kami bersih, Pak. Itu saja.”Pak Djoko tersenyum, pertama kalinya.“Serahkan pada kami, Dok. Keadilan butuh proses, tapi kebenaran tidak pernah tidur.”Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Wajah mereka bercampur aduk. Tapi akhirnya Arsen memutuskan untuk tidak kembali ke rumahnya. Ia memilih kembali ke a
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







