Masuk“Nak Azalea … Ibu mau minta maaf, Nak. Dari hati Ibu yang paling dalam. Ibu dzalim sama kamu dulu. Ibu buta. Ibu buang menantu yang sayang sama anak Ibu setengah mati.”
Di seberang, suara Azalea bergetar. “Aku udah maafin Ibu, Bu. Beneran. Dari dulu. Jadi Ibu nggak perlu ketemu aku. Yang penting Ibu sehat. Itu aja.”
Bu Ratna berkedip, air matanya jatuh ke bantal. “Mungkin… ini karma Ibu, Nak. Karma karena Ibu jahat sama kamu. Makanya sekarang Ibu lumpuh. Nggak bisa jalan. Nggak
Lampu utama sudah dimatikan, tinggal lampu tidur kecil warna kuning hangat di pojok ruangan. Di luar, Puncak dinginnya menusuk tulang, hujan rintik-rintik lagi.Bu Lily sudah dengan sangat ikhlas diusir secara halus oleh Arsen ke kamar sebelah yang kosong, dengan alasan, “Bu, malam ini jadwal Ibu harus istirahat yang benar, biar besok bisa jaga Azalea lagi.” Padahal aslinya Arsen mau malam ini kamar 512 steril dari mertua.Di ranjang rawat inap yang tidak terlalu besar itu, sekarang ada dua orang. Sah.Azalea tidur miring menghadap kiri, karena kalau miring kanan perban di dada kirinya ketekan sakit. Arsen tidur di sampingnya, di sisi kiri ranjang, dengan posisi miring juga menghadap Azalea, jarak mereka hanya 10 cm, berbagi satu selimut rumah sakit yang tipis tapi hangat karena ada dua orang di dalamnya.Azalea belum tidur. Matanya masih terbuka, menatap wajah Arsen yang ada di depannya, sangat dekat.Arsen juga belum tidur, pura-pura
Arsen mendekatkan wajahnya, 20 cm lagi, “Pemanasan cium... Masa pengantin baru dua hari belum cium? Kata buku nikah, cium istri itu pahala, Zel. Banyak pahalanya. Mas mau borong pahala.” tukas Arsen penuh alasan kepada istri barunya itu.Azalea langsung merah padam, malu-malu, “Mas! Ini rumah sakit! Nanti ada perawat masuk! Malu!”“Mas kunci pintu dulu ya. Terus pasang kertas don't disturb! Atau ... mas pesan donat dulu untuk suap perawat dan dokter supaya tidak ke kamar ini... Minimal 1 jam gitu.” kata Arsen dengan bangga.“MAS! Jadi Mas mau suap perawat?!”“Shhh... istriku jangan teriak... nanti jahitan dada kamu sakit lagi... sini, 1 kali aja... 1 kali cium yang sah dan halal... yang kemarin di aula itu kan cium kening, bukan cium...” Bibir Arsen tiba-tiba monyong sedikit.Azalea menutup mukanya dengan tangan kiri, “Aku malu, Mas... aku masih bau obat... aku belum sikat gigi siang
Arsen langsung panik, “Eh! Eh! Sumpah! Waktu itu Mas sebagai dokter! Mas profesional! Mas merem setengah! Mas lihatnya pakai mata dokter, bukan mata suami koq!”“Bedanya apa, Mas?!”“Bedanya kalau mata dokter itu fokusnya ke luka, kalau mata suami fokusnya ke...” Arsen berhenti, sadar hampir keceplosan, lalu batuk, “...fokusnya ke kesembuhan istri!”Azalea memukul pelan bahu Arsen dengan tangan kiri, “Mas genit! Baru 12 jam jadi suami sudah genit!”Arsen ketawa kecil, terus meraih tangan Azalea yang baru saja memukul manja dirinya itu, dicium punggung tangannya.“Lah gimana enggak genit. Pasiennya istri sendiri, cantik, wangi, galaknya aja bikin kangen. Dokternya jadi gagal fokus, Zel.”Azalea langsung nutup muka pakai selimut setengah, tinggal matanya saja yang terlihat, “Mas Arsen!”Arsen menarik pelan selimut Azalea, “Eh jangan ditutup. Mas be
Azalea menutup mulutnya dengan tangan kiri. Air matanya jatuh deras membasahi perban di dadanya. Ia bingung, malu, haru, dan bahagia menjadi satu."Mas... tapi aku masih sakit...""Justru karena kamu masih sakit, Mas mau menikah sekarang," bisik Arsen sambil mencium perban di pergelangan tangan kanan Azalea dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti. "Biar sakitnya kita tanggung berdua."Azalea menatap Bu Lily yang mengangguk sambil menangis. Lalu ia menatap pintu ruangan yang sedikit terbuka.Ia menatap Arsen yang masih berlutut, dengan mata penuh cinta dan harap.Lalu, dengan tangan kiri gemetar, ia menyodorkan jarinya."Dasar kamu ya, Mas... melamar orang lagi sakit, lagi jelek, lagi bau darah dan apek "Arsen membelalak, "Jadi..."Azalea terisak sambil mengangguk keras."Iya, mau... mau... aku mau jadi istri Mas. Besok. Di sini. Tapi....!""Tapi apa, Sayang?""Aku mau mandi, keramas dan pakai
Azalea sudah dipindahkan dari ruang ICU yang dingin, berisik, dan penuh mesin menyeramkan itu ke ruang rawat inap VIP di lantai 5.Ruangannya jauh lebih hangat. Dindingnya berwarna krem, ada sofa empuk, dan jendela kaca yang sangat besar menghadap langsung ke Gunung Gede. Sore itu Gunungnya malu-malu tertutup kabut tipis.Luka di pergelangan tangan kanan Azalea sudah mulai mengering. Tujuh jahitan itu sekarang terasa gatal, tanda akan sembuh. Luka di dada kirinya juga membaik. Selang dada yang dulu membuatnya sesak dan takut itu sudah dicabut dua hari yang lalu. Kini yang tersisa hanya perban besar yang menempel di dada kirinya.Azalea sudah bisa duduk bersandar. Ia sudah bisa makan bubur sendiri dengan tangan kiri, meski masih sering meringis jika bergerak terlalu banyak."Calon istriku yang paling cantik di dunia sudah bangun?" sapa Arsen.Senyum pria itu sudah kembali. Senyum dokter ganteng yang dulu membuat Azalea klepek-klepek.Azalea l
Garis lurus itu, berkedut sedikit.Monitor yang tadi garis lurus, kembali naik turun. Pelan. Sangat pelan. Tapi naik turun.TIT... TIT... TIT...Tangis perawat pecah, “Kembali! Nadi kembali!”Tirai dibuka.Dokter jaga keluar dengan wajah penuh keringat, menatap Arsen yang masih terduduk di lantai seperti orang hilang.“Dok...” katanya pelan, “Jantungnya kembali... Azalea kembali... dia... dia selamat dari henti jantung... tapi dia kembali koma... kondisinya sangat kritis... kita harus tunggu lagi...”Arsen merangkak masuk ke dalam, melihat Azalea yang kembali terbaring pucat, dengan bekas alat kejut jantung yang merah di dada kirinya, di dekat perban luka tusuknya.Ia menggenggam tangan Azalea lagi, yang dingin lagi, menempelkan keningnya, menangis sejadi-jadinya tanpa suara.“Zel... jangan pergi... jangan tinggalin Mas... Mas mohon, Zel... jangan...”*
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







