Di depan lobby gedung kaca 20 lantai itu, Azalea berdiri mematung. Tangannya memegang map berisi company profile, hasil lab, izin edar, dan slide presentasi. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.Rambutnya sebahu, diikat kuda, beberapa anak rambut lepas menempel di pelipis karena keringat. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, celana bahan hitam, dan flat shoes. Sederhana, tapi rapi. Tidak ada jilbab, tidak ada make up tebal. Hanya bedak tipis dan lip balm.Di sampingnya, Arsen berdiri tenang. Jas dokternya ia tinggalkan di mobil. Hari ini ia memakai kemeja biru dongker, lengan dilipat, celana bahan, dan sepatu loafers. Ia sengaja ambil cuti setengah hari.“Gugup?” tanya Arsen, melirik Azalea.Azalea mengangguk jujur. “Banget, Mas. Ini meeting terbesar aku sepanjang hidup.”Arsen tersenyum. “Kamu nggak sendiri. Aku ada.”Kalimat itu sederhana, tetapi berhasil membu
Mehr lesen