LOGINRuang Direktur rumah sakit.
Pintu tertutup rapat. Di dalam, Dokter Vanessa duduk tegak di kursi tamu. Blazer putihnya masih rapi, tapi jarinya mengetuk-ngetuk meja pelan. Gelisah karena perbuatannya sendiri dan tidak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya nantinya.
Di seberangnya, Direktur Medis, Dr. Hendra, membuka map biru. “Vanessa, saya panggil kamu terkait penghinaan yang kamu lakuka
Azalea menutup mulutnya dengan tangan kiri. Air matanya jatuh deras membasahi perban di dadanya. Ia bingung, malu, haru, dan bahagia menjadi satu."Mas... tapi aku masih sakit...""Justru karena kamu masih sakit, Mas mau menikah sekarang," bisik Arsen sambil mencium perban di pergelangan tangan kanan Azalea dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti. "Biar sakitnya kita tanggung berdua."Azalea menatap Bu Lily yang mengangguk sambil menangis. Lalu ia menatap pintu ruangan yang sedikit terbuka.Ia menatap Arsen yang masih berlutut, dengan mata penuh cinta dan harap.Lalu, dengan tangan kiri gemetar, ia menyodorkan jarinya."Dasar kamu ya, Mas... melamar orang lagi sakit, lagi jelek, lagi bau darah dan apek "Arsen membelalak, "Jadi..."Azalea terisak sambil mengangguk keras."Iya, mau... mau... aku mau jadi istri Mas. Besok. Di sini. Tapi....!""Tapi apa, Sayang?""Aku mau mandi, keramas dan pakai
Azalea sudah dipindahkan dari ruang ICU yang dingin, berisik, dan penuh mesin menyeramkan itu ke ruang rawat inap VIP di lantai 5.Ruangannya jauh lebih hangat. Dindingnya berwarna krem, ada sofa empuk, dan jendela kaca yang sangat besar menghadap langsung ke Gunung Gede. Sore itu Gunungnya malu-malu tertutup kabut tipis.Luka di pergelangan tangan kanan Azalea sudah mulai mengering. Tujuh jahitan itu sekarang terasa gatal, tanda akan sembuh. Luka di dada kirinya juga membaik. Selang dada yang dulu membuatnya sesak dan takut itu sudah dicabut dua hari yang lalu. Kini yang tersisa hanya perban besar yang menempel di dada kirinya.Azalea sudah bisa duduk bersandar. Ia sudah bisa makan bubur sendiri dengan tangan kiri, meski masih sering meringis jika bergerak terlalu banyak."Calon istriku yang paling cantik di dunia sudah bangun?" sapa Arsen.Senyum pria itu sudah kembali. Senyum dokter ganteng yang dulu membuat Azalea klepek-klepek.Azalea l
Garis lurus itu, berkedut sedikit.Monitor yang tadi garis lurus, kembali naik turun. Pelan. Sangat pelan. Tapi naik turun.TIT... TIT... TIT...Tangis perawat pecah, “Kembali! Nadi kembali!”Tirai dibuka.Dokter jaga keluar dengan wajah penuh keringat, menatap Arsen yang masih terduduk di lantai seperti orang hilang.“Dok...” katanya pelan, “Jantungnya kembali... Azalea kembali... dia... dia selamat dari henti jantung... tapi dia kembali koma... kondisinya sangat kritis... kita harus tunggu lagi...”Arsen merangkak masuk ke dalam, melihat Azalea yang kembali terbaring pucat, dengan bekas alat kejut jantung yang merah di dada kirinya, di dekat perban luka tusuknya.Ia menggenggam tangan Azalea lagi, yang dingin lagi, menempelkan keningnya, menangis sejadi-jadinya tanpa suara.“Zel... jangan pergi... jangan tinggalin Mas... Mas mohon, Zel... jangan...”*
“Ya. Karena kehilangan banyak darah, otaknya kekurangan oksigen beberapa menit di villa dan di ambulans. Dan karena trauma berat di kepala saat ia terjatuh tadi. Otaknya butuh istirahat. Kami sudah beri obat terbaik. Sekarang kita hanya bisa menunggu. Azalea dalam keadaan kritis dan koma. 24 sampai 48 jam ke depan adalah masa penentuan.”Arsen tidak menjawab. Ia hanya berjalan masuk ke ruang ICU, melihat Azalea.Azalea terbaring di ranjang ICU. Wajahnya pucat seperti lilin. Selang oksigen besar terpasang, selang dari hidung, infus di dua tangan, selang darah masih menetes, dan di samping kirinya, ada selang besar dari dada kirinya yang mengalirkan darah sisa ke dalam botol.Monitor jantung berbunyi pelan,tit... tit... tit...Perban tebal membalut dada kiri dan pergelangan tangan kanannya.Ia terlihat sangat kecil, sangat rapuh, sangat jauh.Arsen duduk di sampingnya, menggenggam tangan kiri Azalea yang dingin, yang
Ambulans yang membawa Azalea melaju membelah kabut dan hujan Puncak dengan kecepatan 100 km/jam, sirinenya meraung memecah kesunyian kebun teh yang gelap.Di dalam ambulans yang sempit dan berguncang itu, suasana tidak seperti di cerita sebelumnya. Tidak ada pelukan lega. Tidak ada lamaran romantis.Yang ada hanya kepanikan.Azalea terbaring di atas brankar, selang oksigen menempel di hidungnya, infus menetes sangat cepat.“Tekanan darah 80/50! Nadi 120! Pasien syok hipovolemik!” teriak perawat di dalam ambulans.Arsen yang duduk di samping brankar, dengan baju penuh darah Azalea, tidak lagi menjadi calon suami yang romantis. Ia kembali menjadi Dokter Arsen.Tangannya yang tadi gemetar memeluk Azalea, sekarang bekerja sangat cepat dan profesional, menekan luka di pergelangan tangan Azalea dengan kasa steril.“Zel! Azalea! Buka matanya! Jangan tidur! Lihat Mas! Lihat Mas!”Tapi Azalea tidak menjawab. Mata
Suara Arsen. Tapi bukan Arsen yang Azalea kenal. Bukan suara Dokter Arsen yang tenang, yang biasanya bilang "tarik napas, Zel, pelan-pelan" waktu Azalea panik. Bukan suara Mas Arsen yang jahil sambil nyuapin Azalea bubur karena Azalea malas makan.Ini suara yang pecah menjadi seribu keping. Serak, parau karena tiga hari tidak tidur, karena berteriak memanggil nama Azalea di setiap sudut kebun teh. Marah. Ketakutan. Putus asa. Semua jadi satu.DOR! BRAK!Pintu itu jebol untuk kedua kalinya, engselnya patah. Kayu-kayu lapuknya beterbangan.Arsen berlari masuk pertama.Polisi di belakangnya bahkan belum sempat teriak "jangan masuk dulu, Dok!"Di lantai, yang mereka lihat membuat seluruh dunia Arsen berhenti berputar.Azalea.Perempuan yang sebentar lagi akan ia nikahi dengan kebaya putih sederhana itu, tergeletak di lantai kayu yang dingin. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi seperti kertas, bibirnya pecah-pecah. Pergelangan
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







