"Kurang satu tahap akhir, Nak," jawab Toni dengan nada suara yang tenang. Ia menatap anaknya, memberikan jeda agar Teja bisa mengondisikan kembali fokus batinnya yang sempat mengendur setelah melakukan pembersihan massal.Teja yang tadinya mengira tugasnya telah selesai kini kembali membenahi posisi duduknya. Ia menatap sang ayah dengan sisa-sisa rasa penasarannya. "Apa itu, Yah?" tanya Teja, siap menerima instruksi penutup malam itu.Toni menunjuk ke arah langit-langit ruang tamu lalu menggerakkan jarinya membentuk sebuah lingkaran besar di udara. "Seperti saat kamu membuat perisai dari serangan makhluk kertas tadi, buatlah perisai energi yang menyelubungi rumah ini," perintah Toni, memberikan arahan mengenai aplikasi teknik pertahanan dalam skala yang jauh lebih luas.Mendengar analogi yang digunakan oleh ayahnya, ingatan Teja langsung melayang pada benteng transparan yang berhasil mementahkan kilatan cahaya ungu di atas plafon lantai dua tadi. "Ohh, semacam segel begitu, Yah?"
Baca selengkapnya