LOGIN"Aku pegang ya, Mas," bisik Desy dengan nada suara bergetar dan napas yang tertahan, matanya terpaku tanpa berkedip pada keperkasaan Teja yang mengacung gagah di udara terbuka.Tanpa menunggu persetujuan Teja, Desy menggenggamnya.Kedua telapak tangan halus Desy merapat, melingkari batang besar yang terasa begitu hangat dan keras sekeras beron bertulang. Ibu jari dan jemari lentiknya nyaris tidak saling bertemu saat menggenggam lingkar luar keperkasaan Teja. Hawa murni Qi tingkat tujuh yang bersirkulasi di tubuh Teja memancar langsung ke telapak tangan Desy, mengalirkan sensasi hangat yang mendinginkan rasa canggung sang gadis dan menyulut naluri purbanya yang teramat dalam."Ya ampun... bener-bener padat banget, Mas... nggak muat kalau cuma pakai satu tangan," cicit Desy lirih, memandangi helaian urat menegang yang menghiasi batang super jumbo tersebut dari pangkal hingga ke puncaknya.Desy mulai menggerakkan kedua tangannya, memberikan pijatan perlahan di sepanjang batang kejantan
"Kamu beda, Mas. Dari semua pria yang sudah aku lihat badannya, kamu yang paling keras ototnya," bisik Desy menahan napas sembari memijat pelan bahu sang pria.“Badan kamu juga terbilang seksi kalau dilihat dari kacamataku sebagai perempuan. Kamu menarik, Mas,” imbuhnya jujur dan setulus hati.Jemari lentik gadis itu menekan-nekan perlahan permukaan kulit bahu Teja yang padat. Kepadatan struktur otot Teja yang terasah oleh tenaga dalam energi Qi terasa sangat kokoh di bawah telapak tangan Desy. Hawa hangat yang memancar dari raga Teja mengalir halus, membuat jemari Desy yang memijat terasa hangat.“Gitu ya? Emang yang lainnya pada gimana badannya?“ tanya Teja sambil lalu.“Pada lembek dan gelombyor, Mas. Yang Om-om juga pada buncit perutnya. Jauh banget kalau dibandingin dama badan kamu, Mas,” tutur Desy menjelaskan.“Aku paham, Des. Kamu jelas terpaksa yan melakukan itu sama mereka. Tapi demi uang, kamu mau nggak mau harus melakukannya. Itu pasti berat banget buat kamu,” komentar T
Tak ingin terhanyut terlalu jauh, Teja menyudahi pergerakan tangannya.Ia perlahan menarik jemarinya dari balik kemeja putih yang dikenakan Desy, lalu mundur dari tubuh gadis belia itu sembari mendorong halus kedua bahunya untuk menciptakan jarak."Mas, kamu…" cicit Desy dengan sepasang mata redup yang dipenuhi rasa heran dan perasaan menggantung."Aku konsisten, Des. Tadi aku bilangnya lain kali, ya berarti lain kali. Aku nggak mau menjilat ludahku sendiri," tegas Teja dengan suara tenang."Tapi… aku… aku lagi pengen, Mas," desah Desy jujur. Wajah cantiknya memerah padam, memandangi Teja dengan binar mata yang memohon."Tahan dulu buat permainan yang lebih bergairah lain kali, Des," potong Teja seraya menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan gejolak batin sang gadis. "Kalau kamu butuh kehangatan, sini ayo tidur di kamar ini saja. Aku biar bisa meluk kamu."Desy akhirnya mengangguk dan merapikan pakaiannya.Jemari lentiknya yang gemetar dengan cepat membetulkan celah kancing keme
Sentuhan bibir yang awalnya lembut itu seketika memantik percikan asmara yang tak lagi terbendung. Pagutan bibir Desy yang polos dan pasrah berbalas sentakan hangat dari bibir tebal Teja. Pemuda berambut gondrong itu memiringkan wajah tampannya, merapatkan cengkeraman tangannya di pinggang ramping sang dara, lalu menarik raga molek Desy hingga menempel tanpa jarak pada dada bidangnya.Ciuman itu kian dalam dan pekat. Lidah Teja menyusup lincah melintasi barisan gigi Desy yang rapi, menyapu dan melumat rongga mulut manis beraroma pasta gigi milik gadis tersebut. Desy yang belum pernah merasakan kehangatan ciuman dari pria tanpa faktor transaksi uang seperti Teja seketika merasa kepalanya melayang. Kedua tangan halusnya yang bergetar melingkar ketat di leher tegap Teja, membalas setiap lumat panas sang pemuda dengan keluwesan yang dipenuhi rasa ingin yang semakin membuncah."Mmph... Massh... ahh..."Desahan-desahan halus beradu dengan kecapan basah bibir yang memenuhi kamar tidur te
Teja tak terkejut. Ia paham, jika ia menunjukkan keterkejutan, wanita belia itu pasti akan semakin terpukul.Sama sekali tak ada perubahan ekspresi kekecewaan atau jijik pada wajah tegap pemuda berambut gondrong itu. Binar mata keemasannya tetap memancarkan kehangatan yang amat menenangkan. Teja tahu betul betapa berat beban hidup yang menghantam bahu ringkih gadis dua puluh tahun di hadapannya ini. Di tengah himpitan kemiskinan, Bencana Tsunami, dan kematian mendadak kedua orang tuanya, bertahan hidup bersama adik yang sakit-sakitan adalah perjuangan mati-matian yang menyiksa.Wanita itu hanya perlu dikuatkan dan diberikan permakluman atas kekhilafan masa lalunya.Teja merendahkan posisinya sedikit, memegang kedua lengan halus Desy dengan lembut agar gadis yang sedang menangis sesenggukan itu mau mengangkat paras ayunya."Itu mungkin masa lalu buatmu, Des. Tapi, kamu nggak usah berkecil hati. Jalan hidup setiap manusia memang terjal berliku. Semua menghadapi problematikanya sendir
"Kamu… apa mau kamu sebenarnya, Des?!" tanya Teja dengan suara bariton yang dalam dan bergetar halus.Pemuda berambut gondrong itu memandangi figur Desy yang masih bersimpuh pasrah di depannya. Sepasang mata keemasan Teja menatap lekat paras ayu yang basah oleh linangan air mata tersebut, mencoba mencari celah kepalsuan di balik kepasrahan total sang gadis.Desy mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Teja tanpa sedikit pun rasa ragu yang tersisa."Tak peduli Mas sudah punya pacar atau belum, tapi tolong perbolehkan aku menghabiskan sisa usiaku untuk berbakti kepadamu, melayanimu maksimal di ranjang dan di luar ranjang, menjadi wanitamu di belakang layar, paling rahasia tanpa perlu orang lain tahu," tutur Desy dengan intonasi suara yang amat halus, namun sarat akan penekanan jiwa yang benar-benar tulus serta jujur.Kalimat yang meluncur jujur dari bibir mungil sang gadis seketika memukul batin Teja. Sebagai pria perkasa yang terbiasa dikelilingi oleh wanita-wanita cantik kelas
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih






