"E-eh, enggak kok, San," Teja membuang wajah, mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan lain demi menutupi rasa canggung dan gejolak yang mendadak melintas di dadanya.Susan mendekat hingga berhadapan dengan Teja. Langkah kakinya begitu tenang, memangkas habis jarak di antara mereka hingga hembusan napasnya mulai terasa di sekitar leher Teja. "Baru kali ini aku lihat cowok kok polos banget kayak kamu, Ja. Biasanya cowok tuh justru suka jelalatan matanya," ucap Susan lembut."I-iya, San," sahut Teja terbata, berusaha keras menjaga ritme pernapasan dan detak jantungnya agar tetap stabil di bawah tatapan tajam nan memikat dari gadis di depannya."Kamu kenapa melengos gitu? Badanku jelek ya?" pancing Susan, memiringkan kepalanya sedikit untuk mengamati reaksi pemuda di hadapannya."Bukan, San. Aku... aku..." Teja kehabisan kata-kata, lidahnya terasa kelu untuk menyusun alasan yang logis."Kamu nggak suka?!" seru Susan dengan nada merajuk yang begitu lucu, berpura-pura kesal."Eh su-suka
Read more