Partager

212. Sudah Sembuh?

Auteur: Leva Lorich
last update Date de publication: 2026-07-26 20:04:41

"Ngobatin dimana, Ja? Di kamarku?" tanya Bob sembari membetulkan posisi duduknya dan bersiap untuk menerima tindakan penanganan selanjutnya.

"Di sini saja, Pak. Kan Pak Bob juga udah bisa duduk tegak," sahut Teja lugas.

Pemuda itu mengamati kondisi fisik Bob Salim yang jauh lebih stabil dibandingkan saat tergeletak tak berdaya di atas paving pertokoan tadi.

Bob Salim mengangguk paham tanpa membantah sedikitpun.

"Ya udah, ayo. Aku posisi gimana ini?" tanya Bob menanti arahan teknis dari penolo
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   215. Maserati Quattroporte GTS V8

    Reza mengangkat kunci mobilnya, memamerkan gantungan kunci berlogo trisula yang elegan di hadapan Teja. "Mobil hitamku yang di depan itu Maserati Quattroporte GTS V8. Harganya masih di kisaran 5,5 sampai 6 miliar. Itu buat kamu," ucap Reza tenang tanpa ada keraguan sedikitpun.Jantung Teja seperti hampir meletus mendengarnya. Aliran darahnya mendadak berdesir hebat, sementara matanya membelalak tak percaya menatapi kunci kendaraan mewah yang kini terulur di atas meja makan. "Mas Reza?!" serunya bingung harus menanggapi dengan kalimat apa."Nyawa ayahku nggak sebanding sama itu semua, Ja," pangkas Reza lugas, menegaskan betapa berharganya sosok Bob Salim bagi mereka."Tapi... tapi aku tadi udah dikasih 1 miliar kan? Masa sekarang malah dikasih lagi mobil 6 miliar?!" protes Teja gagap. Otaknya serasa membeku membayangkan nilai nominal total miliaran yang mendadak digelontorkan padanya dalam kurun waktu sangat singkat.Lala tersenyum anggun, memandangi Teja dengan tatapan seorang kak

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   214. Dana Persaudaraan

    "Selain kuliah, aku melanjutkan pekerjaan ayah sebagai ahli pijat dan menyembuhkan orang sakit, Pak," terang Teja menjelaskan profesi penanganan kesehatan alternatif yang diembannya di luar jam akademik universitas."Ohhh, pantesan pinter banget. Ternyata turunan dari ayahmu toh," Bob manggut-manggut paham. Senyuman lebar mengembang di wajah pria tua itu saat menyadari bahwa keahlian ajaib anak muda di hadapannya merupakan hasil didikan ayahnya.Bob membetulkan posisi duduknya, kemudian menatap Teja dengan pandangan mata yang berubah melembut."Ja, sebagai rasa terima kasih dan syukurku, kamu mau kan kalau aku jadikan anak angkat?" imbuh Bob menyampaikan niat tulusnya secara terbuka di meja makan tersebut."Tentu saja, Pak Bob. Sebuah keberuntungan bisa menjadi anak angkat dari Bapak," sahut Teja tanpa ragu. Pemuda itu menyunggingkan senyuman hangat, merasa terhormat bisa diterima begitu baik oleh keluarga konglomerat tersebut."Bukan hanya ayah, Ja. Aku dan Lala juga udah anggap ka

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   213. Praktisi Kesehatan

    Teja mengulurkan tangannya dengan ramah menyambut uluran tangan Reza dan Lala satu persatu secara bergantian di ruang tamu yang mewah tersebut."Teja ini temannya ayah? Atau temannya si centil?" tanya Reza penasaran sembari melirik ke arah bagian dalam rumah."Woy, enak aja manggil centil!" teriak Susan dari dalam rumah, membalas kejahilan kakaknya dengan nada protes yang terdengar renyah dan jenaka."Bukan, Za. Tadi itu jantung Ayah kambuh, bahkan kritis. Teja ini yang nyelametin nyawa Ayah," jelas Bob Salim menceritakan kronologi menegangkan yang baru saja dialaminya di jalanan umum tadi."Iyakah? Terus gimana kondisi ayah sekarang?" tanya Lala ikut terkejut, menatap mertuanya dengan raut cemas di wajah cantiknya."Kalian pasti bakal syok deh. Ayah sembuh total!" seru Bob penuh antusias."Hahhh?!" teriak Reza dan lala bersamaan, membelalakkan mata tak percaya mendengar klaim kesembuhan kilat tersebut.Susan bahkan berlari kembali ke depan begitu mendengar itu. Gadis berambut keriti

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   212. Sudah Sembuh?

    "Ngobatin dimana, Ja? Di kamarku?" tanya Bob sembari membetulkan posisi duduknya dan bersiap untuk menerima tindakan penanganan selanjutnya."Di sini saja, Pak. Kan Pak Bob juga udah bisa duduk tegak," sahut Teja lugas. Pemuda itu mengamati kondisi fisik Bob Salim yang jauh lebih stabil dibandingkan saat tergeletak tak berdaya di atas paving pertokoan tadi.Bob Salim mengangguk paham tanpa membantah sedikitpun. "Ya udah, ayo. Aku posisi gimana ini?" tanya Bob menanti arahan teknis dari penolongnya."Bersila di sofa, menghadap belakang, Pak," tunjuk Teja singkat. Ia menggeser posisi duduknya sedikit lebih ke tengah agar memiliki ruang gerak yang cukup nyaman di belakang punggung pria paruh baya tersebut.Bob segera bergerak sesuai instruksi Teja. Pria tua itu melipat kedua kakinya di atas busa sofa yang empuk, memutarkan badannya hingga kini posisinya membelakangi Teja.Teja mulai menempelkan telapak tangannya ke punggung Bob. Hawa hangat mendasar dari kulit telapak tangan Teja la

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   211. Tak Kalah Menarik

    "Masuk, Ja. Jangan sungkan-sungkan," ucap Bob Salim membuka pintu rumahnya yang menjulang tinggi dengan ukiran kayu jati nan megah."Silakan duduk," ia mempersilakan duduk di kursi sofa ruang tamu yang besar seperti kerbau. Busa sofa tersebut terasa sangat empuk dan dilapisi kulit berkualitas tinggi yang mengeluarkan aroma kemewahan."Ayah dari mana? Kok lama banget?!" seorang wanita muda keluar dari ruang tengah dengan masih mengenakan apron masak melingkar di pinggangnya. Suaranya terdengar renyah namun menyirat kekhawatiran yang cukup besar.Teja mengangkat wajah, menatap wanita yang ia perkirakan seumuran dengannya itu.Wanita ini cukup cantik. Rambutnya panjang keriting spiral yang jatuh terurai indah, memberikan kesan anggun sekaligus membuatnya terlihat semakin imut.Buah dadanya berukuran sedang, seperti milik Panda. Tapi bokong dan pinggulnya sangat tinggi dan montok, membentuk siluet tubuh meliuk sempurna yang tercetak jelas di balik pakaian rumahannya.Secara keseluruhan,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   210. Bak Istana

    Teja mengangguk pelan sembari menyunggingkan senyuman tipis. "Iya, Pak. Tenang aja, Bapak udah aman sekarang."Orang-orang di sekelilingnya yang sedari tadi terus mencibirnya seketika bungkam dan kaget. Suasana di depan area pertokoan itu mendadak hening seperti kuburan. Seluruh warga di sana kehabisan kata-kata begitu menyaksikan keajaiban yang baru saja terjadi di depan mata kepala mereka sendiri."Dia dokter?" lirih perawat wanita dengan wajah malu. Rasa percaya dirinya runtuh seketika, memikirkan betapa konyolnya ia tadi menyombongkan diri di hadapan pemuda yang memiliki kemampuan pengobatan sedahsyat itu."Dia kok bisa nyembuhin? Ini... Mustahil!" ucap wanita paruh baya dengan mulut ternganga lebar."Bujubuneng! Itu tadi pakai kesaktian?!" bapak muda menutup mulutnya dengan mata membelalak tak percaya."Kita udah salah sangka sama dia," timpal bapak berkacamata dengan raut penyesalan yang teramat sangat.Teja tak memiliki waktu untuk meladeni mereka. Ia tidak peduli dengan pen

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status