로그인Ciuman Teja seketika membius Bianca sepenuhnya.Lumatan bibir pria berambut panjang itu terasa begitu dalam, menyedot lidah Bianca dan mengajak menari liar di dalam rongga mulut yang hangat. Bianca melempar kedua tangannya mengelilingi leher tegap Teja, mencengkeram erat helai-helai rambut bagian belakang pria itu demi menahan kenikmatan perciuman yang memabukkan tersebut."Mmph... Ahh... Ja... Umph..."Desahan samar Bianca teredam di antara jepitan bibir mereka yang tak berjarak. Gelombang gairah yang telah tertahan bertahun-tahun di dalam dadanya kini meledak sepenuhnya. Setiap hisapan dan lumatan Teja mengirimkan sensasi aneh yang menjalar cepat ke seluruh persendian tubuhnya, membuat lutut dan pinggul Bianca terasa lemas tak berdaya.Tangan Teja yang semula mendekap tengkuk Bianca perlahan bergerak turun. Jemari besar itu menelusuri leher jenjang, melintasi tulang selangka yang halus, lalu mendarat tepat di atas bentangan dada Bianca yang berbalut tank top putih ketat.Sentuha
Teja menggeleng, membuat Bianca bingung sendiri. Pelita harapan yang sempat menyala di matanya berganti raut kebingungan tatkala menatap gelengan penolakan halus dari pemuda berambut panjang tersebut."Gimana sih, Ja? Mau atau enggak?" cecar Bianca dengan kening berkerut halus."Bukan mau atau tidak, Bi. Tapi kalian bisa menerimaku atau tidak?" sahut Teja tenang."Aku adalah muara bagi para wanitaku," terang Teja melanjutkan dengan nada bernuansa dingin nan superior.Bianca yang cerdas langsung bisa menangkap maksud dari perkataan Teja. Otaknya yang terbiasa berpikir cepat di dunia bisnis seketika mencerna implikasi mendalam dari kalimat tersirat tersebut."Oh... Apa itu artinya ayahku harus bisa menerima kehadiranmu yang memiliki banyak wanita selain aku?" tanya Bianca memastikan pemicu keraguan Teja."Kurang lebih seperti itu. Aku pria bagi setiap wanitaku," tegas Teja tanpa menutup-nutupi jalan hidup yang kini melingkupinya.Bianca menarik napas pendek. "Kalau itu aku malah kurang
Bianca menggeleng sembari menggeser duduknya lebih merapat di samping Teja. Keharuman samar wangi melati bercampur vanila dari kulit mulusnya menyapa indra penciuman Teja.Gerakan itu mempertegas jarak di antara mereka yang kini terkikis habis."Aku justru ngerasa aman dan nyaman kalau ada kamu, Ja," bisik Bianca jujur."Begitu, ya?" Teja mengangguk-angguk kecil, menahan posisi miring di sudut bibirnya."Tapi, gimana kalau ada karyawan nyelonong masuk ke sini dan lihat kamu sesantai ini sama aku?" selidik Teja mengumpankan pancingan halus."Nggak akan, Ja. Mereka segan sama aku. Lagipula kan pintunya aku kunci tadi. Siapapun yang ke sini pasti ngetuk pintu dulu," sahut Bianca lugas. Tatapan matanya memperlihatkan ketegasan seorang pimpinan yang memang memiliki kendali penuh atas area kekuasaannya.Teja mengangguk lagi, menerima alasan rasional wanita terpelajar di sebelahnya."Jaa… aku mau ngomong sesuatu," ucap Bianca lirih seperti suara anak itik. Nada bicaranya yang semula tegas
"Jadi?" Teja menggantung pertanyaannya, menatap Bianca dengan senyum miring yang begitu melelehkan jiwa raga."Ngobrol di ruangan kerjaku aja yuk, Ja. Sembari aku bisa sesekali mengawasi pekerjaan karyawan," sahut Bianca cepat. Binar harapan terpancar dari matanya, memohon Teja menyanggupi tawarannya.Teja mengangguk. "Boleh, yuk."Keduanya melangkah memutar arah kembali menuju gedung hotel berbintang empat tersebut. Mereka melintasi lobi utama yang megah tanpa menarik perhatian, lalu memasuki lift khusus eksekutif menggunakan kartu akses berwarna emas milik Bianca. Lift meluncur mulus menuju lantai teratas gedung.Pintu lift terbuka, menyajikan lorong berkarpet merah tebal yang jauh lebih sepi dan tenang dibanding lantai bawah. Bianca menuntun langkah Teja menuju sebuah pintu ganda kayu jati berukir elegan di ujung lorong.Begitu pintu terbuka dan lampu bernuansa hangat menyala otomatis, Teja disambut oleh pemandangan interior yang sangat memukau. Ruangan kerja pribadi Bianca di
"Tolong lepaskan tangan kotormu dari bajuku!" seru Teja pendek, masih dengan duduk santai tanpa mengubah tumpuan tubuhnya sedikitpun.Matanya menatap sangat tajam, menembus manik mata pria arogan di hadapannya.Bukannya melepaskan, Johan justru memperkeras cengkraman tangannya di kerah baju Teja. Pria arogan itu menyunggingkan senyum penih cemoohan, merasa berada di atas angin karena menganggap Teja hanya bisa memberikan gertak sambal di hadapan Bianca.Teja mendengus singkat. Sorot matanya berubah lebih tajam, memancarkan aura dingin yang sangat mematikan.Ia mendengus pelan. "Aku sudah mengingatkan!" ujarnya masih dengan intonasi datar dan seolah tanpa peningkatan emosi sedikitpun.Usai berkata demikian, Teja menyentak dada Johan dengan punggung tangannya.Itu hanya kebasan ringan seperti menepis lalat, namun efeknya sangat besar bagi Johan yang bukan praktisi bela diri. Gelombang energi Qi murni yang padat dan hangat merembes dari sela-sela pori jari Teja, menciptakan daya dorong
Bianca menyunggingkan senyum tipis, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menatap Teja tanpa berkedip. Cahaya lampu kafe yang temaram memantul lembut di manik matanya, memancarkan pesona anggun yang memikat."Tahu nggak, Ja? Dari sekian banyak cowok yang pernah ajak aku jalan, cuma kamu yang bisa bikin aku ngerasa bener-bener nyaman tanpa perlu jaga gengsi," tutur Bianca dengan nada suara yang makin lembut. Tangannya bergerak pelan di atas meja, memberanikan diri menyentuh punggung tangan Teja yang kekar.Teja membalas sentuhan itu dengan mengelus jemari lentik Bianca menggunakan ibu jarinya. "Mungkin karena kita udah kenal dari lama, Bi. Di depanku, kamu nggak perlu jadi putri CEO. Jadi Bianca yang biasa aja udah lebih dari cukup."Sensasi hangat dari usapan jari Teja seketika menjalar ke seluruh tubuh Bianca. Pipi mulus wanita muda itu memerah merona, menunduk malu namun tak berniat mengelakkan genggaman tangan Teja. Kehangatan energi Qi murni yang tak kasat mata dari t
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri







