แชร์

220. Tanpa Disentuh

ผู้เขียน: Leva Lorich
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-27 12:39:46

"Ouh, geli, Ja! Ah-ah," raung Susan semakin nyaring.

Suaranya bergema memenuhi ruangan klinik yang sunyi, memecah hening dengan nada desahan melengking yang tak lagi mampu ditahannya.

Dalam hati Teja paham betul bahwa dengan ia membuka kembali kekakuan dan letak saraf-saraf itu secara otomatis akan membuka kembali pintu kenikmatan bagi Susan yang sebelumnya terbelenggu.

Belenggu trauma belasan tahun yang mengunci respon alami tubuh gadis itu kini perlahan luruh, tergantikan oleh sensitivitas
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   220. Tanpa Disentuh

    "Ouh, geli, Ja! Ah-ah," raung Susan semakin nyaring. Suaranya bergema memenuhi ruangan klinik yang sunyi, memecah hening dengan nada desahan melengking yang tak lagi mampu ditahannya.Dalam hati Teja paham betul bahwa dengan ia membuka kembali kekakuan dan letak saraf-saraf itu secara otomatis akan membuka kembali pintu kenikmatan bagi Susan yang sebelumnya terbelenggu. Belenggu trauma belasan tahun yang mengunci respon alami tubuh gadis itu kini perlahan luruh, tergantikan oleh sensitivitas murni yang selama ini terendam rapat di balik rasa takut dan rasa sakit."Tahan ya, San," Teja menambah tekanan jemarinya, memadukan pijatan dan penyaluran energi Qi. Aliran hawa murni kebiruan yang terpancar dari telapak tangan Teja bergerak semakin intensif, mendorong sisa-sisa simpul tegang di sepanjang otot paha hingga benar-benar terurai sempurna. Setiap dorongan lembut energi tersebut memberikan rangsangan kejutan hangat yang langsung menjalar ke pusat saraf sensitif Susan."Oh-oh, Ja! P

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   219. Bergerak Sendiri

    Rabaan tangan Teja kembali bergerak mencari titik yang menyebabkan keluhan Susan. Jemari besarnya bergeser secara perlahan dan teliti, menelusuri tiap lekuk otot paha mulus yang terasa sedikit tegang.Ia juga mengaktifkan mata batinnya untuk memeriksa jaringan di bawah kulit paha mulus tersebut. Pancaran penglihatan spiritual Teja menyusup menembus lapisan dermis, memindai alur pembuluh darah, jaringan saraf, serta kelenjar otot yang tersembunyi di area tersebut.Tak lama kemudian ia mengangguk-angguk. Jalur tubuh di area tersebut memang menunjukkan adanya jejak trauma lama yang belum sepenuhnya pulih. "Kamu pernah cedera pas masih kecil dulu?" tanya Teja lembut.Susan mengangguk. Matanya bergetar menatapi langit-langit ruangan klinik, mengenang memori kelam yang sekian lama tertimbun rapat di dalam benaknya. "Dulu pas kelas 6 SD sepedaku sempat ditabrak motor yang dikendarai oleh orang mabuk. Terus..." Susan menghentikan kalimatnya. Air matanya mengalir di pipi, menetes melewat

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   218. Kram Paha

    "E-eh, enggak kok, San," Teja membuang wajah, mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan lain demi menutupi rasa canggung dan gejolak yang mendadak melintas di dadanya.Susan mendekat hingga berhadapan dengan Teja. Langkah kakinya begitu tenang, memangkas habis jarak di antara mereka hingga hembusan napasnya mulai terasa di sekitar leher Teja. "Baru kali ini aku lihat cowok kok polos banget kayak kamu, Ja. Biasanya cowok tuh justru suka jelalatan matanya," ucap Susan lembut."I-iya, San," sahut Teja terbata, berusaha keras menjaga ritme pernapasan dan detak jantungnya agar tetap stabil di bawah tatapan tajam nan memikat dari gadis di depannya."Kamu kenapa melengos gitu? Badanku jelek ya?" pancing Susan, memiringkan kepalanya sedikit untuk mengamati reaksi pemuda di hadapannya."Bukan, San. Aku... aku..." Teja kehabisan kata-kata, lidahnya terasa kelu untuk menyusun alasan yang logis."Kamu nggak suka?!" seru Susan dengan nada merajuk yang begitu lucu, berpura-pura kesal."Eh su-suka

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   217. Mampir Ke Klinik

    Mobil sport mewah itu terus meluncur mulus membelah aspal kota. Kehadiran sedan hitam mengkilap dengan garis desain yang begitu aerodinamis itu semakin menarik perhatian banyak pasang mata pengguna jalan di sepanjang rute yang mereka lalui.Teja mengarahkan mobil menuju warung bakso langganannya. Ia mengemudikan kendaraan bernilai miliaran rupiah tersebut dengan sangat tenang, memutarkan kemudi memasuki area parkir sederhana di pinggir jalan yang cukup ramai pengunjung."Bakso ini rekomendasi banget, San. Kuahnya seger, baksonya juga enak," terang Teja saat mereka turun dari mobil dan melangkah menuju warung bakso tersebut. Suara bising kendaraan jalan raya menyambut kedatangan mereka, namun tak mengurangi kenyamanan tempat makan sederhana itu.Mereka memesan dua mangkok bakso dan dua gelas es degan. Tak butuh waktu lama, dua porsi bakso daging sapi yang masih mengepulkan uap panas beserta minuman segar es kelapa muda disajikan rapi di atas meja kayu.Susan dengan cepat langsung m

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   216. Mengantarkan Pulang

    Dua mobil memasuki halaman rumah Teja siang itu. Deru halus mesin Pajero Sport putih dan suara khas mesin Maserati Quattroporte GTS V8 bergema pelan saat kedua kendaraan mewah tersebut meluncur beriringan melewati gerbang pagar.Toni keluar ke teras menatap mobil Maserati Quattroporte GTS V8 yang dikendarai Susan. Pandangan mata pria paruh baya itu terkunci pada desain bodi sedan sport hitam yang sangat elegan dan memancarkan aura kemewahan kelas atas tersebut.Untung saja garasi rumah baru Teja itu cukup luas. Setidaknya empat mobil ukuran SUV masih bisa muat tanpa saling menghalangi ruang gerak satu sama lain.Teja turun dari Pajero Sport putihnya bersamaan dengan Susan yang turun dari Maserati. Pemuda itu mengitarinya, menghampiri Susan yang baru saja mematikan mesin kendaraan bernilai miliaran rupiah tersebut."Nggak jadi kuliah tadi kamu, Ja?" tegur Toni sembari melangkah turun dari teras, menatap putranya dengan dahi berkerut penasaran."Iya, Yah. Tadi aku nolongin ayahnya Su

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   215. Maserati Quattroporte GTS V8

    Reza mengangkat kunci mobilnya, memamerkan gantungan kunci berlogo trisula yang elegan di hadapan Teja. "Mobil hitamku yang di depan itu Maserati Quattroporte GTS V8. Harganya masih di kisaran 5,5 sampai 6 miliar. Itu buat kamu," ucap Reza tenang tanpa ada keraguan sedikitpun.Jantung Teja seperti hampir meletus mendengarnya. Aliran darahnya mendadak berdesir hebat, sementara matanya membelalak tak percaya menatapi kunci kendaraan mewah yang kini terulur di atas meja makan. "Mas Reza?!" serunya bingung harus menanggapi dengan kalimat apa."Nyawa ayahku nggak sebanding sama itu semua, Ja," pangkas Reza lugas, menegaskan betapa berharganya sosok Bob Salim bagi mereka."Tapi... tapi aku tadi udah dikasih 1 miliar kan? Masa sekarang malah dikasih lagi mobil 6 miliar?!" protes Teja gagap. Otaknya serasa membeku membayangkan nilai nominal total miliaran yang mendadak digelontorkan padanya dalam kurun waktu sangat singkat.Lala tersenyum anggun, memandangi Teja dengan tatapan seorang kak

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status