"Ampun, Ja, aku nggak sanggup lagi, lemes banget," keluh Linda menolak tawaran Teja. Suaranya terdengar lirih dan serak usai diterjang gelombang orgasme beruntun yang menguras seluruh pasokan tenaga di dalam tubuhnya.Namun sesaat kemudian Linda menatap Teja lagi. Matanya menatap pemuda berambut gondrong itu dengan rasa bersalah yang terlihat jelas. "Eh, tapi kan kamu belum orgasme, Ja?! Aduhh, ya udah sini aku bantuin pakai tangan dan mulut," ujarnya berusaha menebus rasa bersalahnya.Linda memaksakan tubuhnya untuk bangkit di ranjang, namun tangan Teja menahannya. Usapan lembut jemari Teja pada bahu mulus sang gadis menahan pergerakan tersebut."Nggak usah, Sayang. Kamu kocok sampai tanganmu kram juga nggak bakal bisa muncrat," tolak Teja jujur sembari menyunggingkan senyuman hangat. Pemuda itu juga belum bisa menemukan jawaban dari hambatan orgasme yang terjadi pada dirinya sejak awal mengenakan lilitan kain leluhurnya.Lambat laun hidup tanpa orgasme, Teja pun mulai terbiasa,
Read more