登入Teja terus menusuk dan menambah tempo kecepatan dorongannya. Ayunan pinggul pemuda berambut gondrong itu bergerak kian liar dan bertenaga, meluncurkan dorongan demi dorongan yang kuat dan bertenaga ke dalam liang kewanitaan Linda yang begitu sempit dan rapat.Meski berukuran SNI, milik Teja tetap sekeras beton. Sangat kaku dan keras. Hukuman yang diberikan warisan lilitan kain leluhur Teja hanyalah sebatas lada pengecilan ukuran saja. Kekuatan, daya tahan, serta kekerasannya tetap berada pada kondisi semula tanp adanya penurunan."Ufh, biar berubah ukuran, tetep enak dan kerass banget, Sayang. Oh, ampun!" teriak Linda parau. Gadis dari Perguruan Teratai Kembar itu membiarkan kepalanya menggeleng pasrah di atas bantal, tak sanggup membendung gelombang kenikmatan luar biasa yang menghantam dinding-dinding dalam dirinya secara bertubi-tubi.Teja mengangguk senang sambil mengecupi wajah Linda yang cantik jelita. Bibirnya menyapa dahi, kedua pipi merona, hingga leher jenjang Linda yang
Teja beranjak merangkak menaiki ranjang dan mengungkungi tubuh polos Linda. Pemuda berambut indah itu bertumpu pada kedua lengannya di sisi kanan dan kiri bahu Linda, membiarkan kehangatan fisiknya menyelimuti paras cantik sang gadis dari jarak yang teramat dekat.Perlahan dan penuh perasaan Teja merunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir tipis Linda. Sentuhan pertama itu terasa begitu halus dan hangat, memicu getaran lembut yang menjalar dari rongga dada hingga ke seluruh tubuh mereka.Keduanya saling memejamkan mata menikmati penyatuan bibir yang hangat. Suasana ruangan berpendingin udara itu seketika hening, hanya menyisakan desir napas serta desahan gairah yang berhembus panas di antara mereka.Teja dengan lembut kini menyedot lidah Linda dan mengulumnya. Pemuda itu memainkan ritme ciumannya secara cermat, memancing balasan perlahan dari Linda yang kian menyerahkan diri sepenuhnya pada kehangatan momen tersebut.Bibir atas dan bawah Linda juga tak luput dari lumatan Teja. His
"Berhasil, Lin. Punyamu jepitnya kenceng banget!" puji Teja sembari menghentikan ayunan jemarinya sejenak di dalam sana. Teja merasakan kontraksi alami dari jaringan otot kewanitaan Linda yang kini mencengkeram begitu rapat dan ketat berkat pijatan serta aliran energi Qi yang telah disalurkannya."Iya, Ja. Ohhh. Berasa banget ketatnya. Uh, lemess," keluh Linda terengah-engah dengan suara yang sangat parau. Gadis dari Perguruan Teratai Kembar itu membiarkan kepalanya terkulai pasrah di atas bantal, merasakan sensasi berdenyut yang begitu melambungnya di area sensitif miliknya.Seluruh persendian tubuhnya seolah kehilangan tenaga usai diterjang orgasme beruntun.Teja akan melanjutkan kocokan dua jarinya lagi, namun tangan Linda langsung menahannya. Jemari halus gadis itu melingkar lemah di pergelangan tangan Teja, mencoba menghentikan gerakan lanjutan yang berpotensi membuatnya semakin tidak berdaya."Stop, Ja! Udahan dong pakai jarinya. Pakai punyamu yang asli aja!" seru Linda jujur
"Jaaaa!" pekik Linda saat tiba-tiba gel pelicin pijat dituangkan Teja di atas serambi miliknya yang sudah berkedut-kedut dari tadi. Sensorik kulit di area paling sensitif itu tersengat sensasi sejuk yang kontras dengan gelombang panas gairah yang telah membakar tubuhnya sejak awal pijatan.Tangan Teja menyusul melakukan pijatan lembut di bagian labia mayora serta pangkal paha Linda. Jemari pemuda ahli pijat legendaris itu berputar ringan, menata alur saraf di bawah lipatan paha dalam untuk mengurai ketegangan otot sekaligus menyalurkan hawa murni secara perlahan."Yang ini juga aku bikin rapet dan kesat ya, Lin," ucap Teja sembari menatap mata Linda yang sudah sangat sayu dan mulut mangap-mangap seperti ikan koi kekurangan oksigen."Uhh, Jaa. Gila! Aku bisa bobol nih cuma pakai tanganmu!" erang Linda yang sudah demikian memuncak. Suaranya terdengar makin parau, kedua tangannya meremas erat sprei tempat tidur demi menahan gejolak intensif yang menyapu seluruh kesadarannya.Mendengar
"O-oh, Jaa!" lenguh Linda saat pijatan tangan kekar Teja mendarat di dua bongkahan payudaranya yang cukup besar. Kukit tubuh mulus gadis itu meremang seketika, merasakan sensasi hangat mengalir deras dari telapak tangan Teja yang membelai dan menekan alur selaksa dadanya.Buah kenyal itu bergerak-gerak pejal mengikuti alur gerakan jari Teja yang meremasnya. Setiap usapan dan putaran jemari Teja yang terampil melingkari area sensitif itu membuat struktur otot dada Linda merenggang santai terlumasi cairan gel sejuk secara sempurna."Tahan, Lin. Aku lagi mijat buat ningkatin kekencangannya. Kamu mau sekalian dibikin lebih gede lagi nggak?" tanya Teja tenang. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu tetap berfokus mengendalikan porsi dorongan hawa murninya agar mengalir secara teratur tanpa mencederai pembuluh darah halus sang pasien cantik."Ush-oh. Bisa digedein lagi emangnya, Ja?" sergah Linda dengan napas yang semakin tersengal. Pandangan matanya yang sedikit berkabut menatap wajah
"Kenapa, Lin?" tanya Teja sembari menghentikan sejenak tekanan jemarinya di atas permukaan kulit mulus sang gadis. Pemuda berusia sembilan belas tahun itu menatap punggung Linda yang tampak sedikit tegang usai helaan desah pelan tadi."Geli, Ja," cicit Linda dengan suara teredam bantal. Wajahnya yang kian panas berbenam rapat, tak berani memperlihatkan rona merah yang sudah menjalar hingga ke belakang telinganya.Teja pun terus melakukan pijatan di paha mulus Linda dan perlahan kian naik. Tanpa terpengaruh oleh celoteh singkat gadis yang mengidolakannya itu, jemari tangannya bergerak menyusuri setiap lekuk otot paha bagian atas, mengurai simpul-simpul saraf yang tegang akibat dorongan porsi latihan keras di tengah hutan tadi.Tangan Teja mulai merogoh jauh di bawah selimut, memijat gumpalan kenyal dari bokong Linda yang sudah polos sepenuhnya. Sentuhan telapak tangan Teja yang hangat bersalut pelicin gel dingin mengusap alur area pinggul dengan tekanan memutar yang sangat lembut,
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T







