LOGIN"Wah, ayo, Pak Toni! Persediaan di toko lengkap banget kok, baru pada datang dari distributor kemarin. Nanti Panda pilihkan racikan herbal kualitas terbaik khusus buat Pak Toni!" sahut Panda dengan wajah berseri-seri, merasa sangat senang bisa melayani kebutuhan ayah dari pria terkasihnya.Melihat antusiasme sang ayah dan kekasihnya, Teja menyunggingkan senyum tipis seraya bangkit dari duduknya."Nah, pas banget tuh," sela Teja seraya merenggangkan kedua tangannya. "Nda, kamu bawa aja Pajero putihku ini bareng ayah ke toko herbalmu. Aku mau mandi dulu di atas, terus langsung berangkat ke kampus mumpung jam kuliah belum terlalu siang."Panda mengangguk setuju, meraih kunci mobil di atas meja. "Oke deh, Ja! Mobilnya aku bawa dulu ya. Kamu hati-hati ya ke kampus!""Iya, Ja. Jangan lupa makan dulu nanti sebelum masuk kelas," timpal Toni mengingatkan.Teja mengangguk cepat, menepuk pelan bahu ayahnya dan memberikan kedipan mesra pada Panda, sebelum melangkah tegap menaiki anak tangga menuj
Bianca menatap sepasang mata keemasan Teja dengan mata berkaca-kaca. Ia melepaskan sabuk pengamannya, lalu menghambur memeluk leher tegap Teja dengan amat erat."Sama-sama, Teja sayang... Aku bakal kangen banget sama kamu," lirih Bianca dengan suara yang sedikit bergetar. "Hati-hati di Surabaya ya. Jangan nakal, jangan lupain aku, dan fokus selesaikan kuliahmu.""pasti, Bi. Aku bakal sering kabari kamu," balas Teja mengusap lembut punggung sang wanita, lalu mendaratkan ciuman mesra yang panjang di bibir merah Bianca sebagai tanda perpisahan sementara."Hati-hati ya, Cinta Terakhirku..." bisik Bianca serak usai melepas pagutan bibir mereka.Teja menyunggingkan senyum lembut, meraih tas panggulnya, lalu melangkah keluar dari sedan mewah tersebut. Bianca tetap berada di balik kemudi, memperhatikan langkah tegap pemuda berambut gondrong itu menyusuri koridor bandara hingga tubuhnya menghilang di balik pintu pemeriksaan dokumen.Beberapa saat kemudian, Teja sudah duduk nyaman di dalam ka
"Ja, jujurly nih, aku sebenarnya masih pengen. Tapi ini makin malem, kamu perlu istirahat buat berangkat besok pagi ke Surabaya," bisik Bianca halus, menyandarkan dagunya yang tirus di atas dada bidang Teja.Binar mata jelita milik wanita berambut bob itu dipenuhi kerinduan yang seolah tak pernah tuntas. Namun, rasa cintanya yang begitu mendalam membuat kepentingannya sendiri terpinggirkan demi kesehatan dan kesegaran tubuh sang kekasih.Teja menyunggingkan senyum hangat yang amat menawan, mengelus lembut punggung mulus Bianca yang terbalut lingerie putih terawang."Nggak masalah sih, Bi. Aku kan kuat dan gagah berani," canda Teja terkekeh renyah, memamerkan tatapan matanya yang tenang."Jangan, Ja. Aku nggak mau nyusahin kamu. Kita pelukan aja gini. Raba-raba juga boleh kok, sambil bobo manis kitah," potong Bianca manja, menggeser tubuhnya agar semakin merapat tanpa jarak di atas permukaan ranjang empuk bernuansa putih bersih tersebut.Teja merengkuh pinggang ramping Bianca lebih er
Suasana kamar tidur di lantai dua vila Puncak terasa amat hening dan tenang. Pencahayaan temaram dari lampu tidur membiaskan pendar hangat di atas seprai putih yang sedikit kusut. Di luar jendela, tiupan angin malam pegunungan berhembus lembut, membawa hawa sejuk yang menusuk kulit. Teja duduk bersandar pada headboard ranjang berukir kayu hangat hanya dengan balutan boxer hitam pas badan, sementara Bianca menyandarkan punggung ramping seputih kapas di dada bidang sang pemuda, membiarkan Lingerie putih terawang yang dikenakannya menyentuh lembut dan hangat.Teja mengelus lembut helai rambut bob hitam milik Bianca, membiarkan kehangatan Murni Qi di dalam tubuhnya mengalir santai memulihkan sisa-sisa tenaga usai pergumulan maraton tiga ronde di dapur tadi."Bi, aku mau ngomong agak serius boleh?" tutur Teja membuka percakapan, suara baritonnya terdengar rendah dan tenang di tengah keheningan malam.Bianca mendongak sedikit, menyunggingkan senyuman manis nan manja dari bibir merah mero
Teja menghentakkan serangan terakhirnya sekuat mungkin.“Ohh, Jaaa!“ erang Bianca membelalakkan matanya.Sentakan kuat yang dilapisi dorongan hawa murni Qi tingkat tujuh melesat hebat. Sepertiga miliknya terendam sempurna dan menyentuh ketat dinding terdalam liang Bianca. Tumbukan penuh tenaga itu menghantam tepat di simpul rahim sang dara, menciptakan desakan yang begitu nikmat dan melenakan.Dari kedelapan wanita Teja, hanya Bianca yang bisa menelan sepertiga milik Teja dan Sari Okta bisa menelan seluruh batang Teja. Selain mereka berdua, hanya setengah milik Teja yang bisa masuk pada liang wanita lainnya. Kapasitas penampungan tubuh Bianca yang luar biasa ini membuat penyatuan tubuh mereka selalu mencapai tingkat kebebasan dan kedalaman yang cukup memuaskan.Di bawah sana, Bianca akhirnya mengerang tinggi. "Tejaaa… ahhh, keluarrr lagi, Sayangg... Ohhh!"Suara parau yang nyaris habis dari tenggorokan Bianca membumbung tinggi membelah keheningan dapur. Dinding-dinding kewanitann
Bianca lemas terkulai di atas permukaan meja keramik dapur. Dadanya kembang kempis memburu udara, sementara napasnya tersengal parau usai dihantam dua kali gelombang orgasme berturut-turut. Tubuh seputih pualam milik putri pengusaha hotel itu tampak terkulai tanpa daya dengan kedua lengan yang melentur lemas di samping kepalanya, tak lagi memiliki tenaga untuk menopang beban tubuhnya sendiri.Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia melirik Teja."Kamu... kamu gila, Ja..." bisik Bianca tersengal-sengal, matanya yang redup dan dipenuhi kabut gairah menatap ke belakang, memandangi sosok Teja yang masih berdiri tegap tanpa memperlihatkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun. "Kuat banget daya tahan kamu... aku udah dua kali keluar, tapi punya kamu masih keras kaku begini..."Teja menyunggingkan senyum tipis, menyapu sisa keringat di dahi Bianca sembari tetap memegang kedua sisi pinggul padat sang kekasih. Aliran hawa murni Qi tingkat tujuh yang bersirkulasi sempurna di dalam pembuluh darah T
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d







