Share

247. Anggota Kelima

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-08-02 18:21:26

Milik Teja beranjak membesar kembali!

Perubahan bentuk itu terjadi secara instan di bawah kendali penuh hawa murninya.

Lingkar diameter serta panjang bagian vitalnya terus merenggang dan membesar, melampaui batas ukuran standar sebelumnya dan berkembang pesat secara signifikan di depan mata kepala Teja sendiri.

Ukuran yang sebelumnya SNI kini sudah bertransformasi ke bentuk terbesar se-Indonesianya.

Batang pejal yang kokoh dan tegang sempurna itu kini telah kembali pada wujudnya yang asli.

Be
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   249. Catatan Konflik

    Laju kendaraan mewah berwarna hitam pekat itu meluncur mulus membelah kepadatan lalu lintas sore, melintasi jajaran gedung tinggi sebelum akhirnya memasuki kawasan perumahan elit tempat tinggal sang pengusaha terpandang.Tak lama kemudian tibalah Teja di sana. Ia memarkirkan Maserati hitamnya dengan rapi di area pelataran parkir yang luas, lalu melangkah tenang menuju daun pintu utama kediaman yang megah tersebut.Bob menyambut Teja dengan senang. Pria paruh baya yang selalu berpenampilan sederhana itu langsung merangkul pundak Teja dengan kehangatan seorang bapak. "Kamu itu ke mana aja? Ayah kira kamu udah lupa sama ayah!" seru Bob terkekeh renyah."Lagi latihan intensif, Yah," sahut Teja menyunggingkan senyum tipisnya yang sopan."Latihan? Latihan apa, Ja?" tanya Bob heran. Dahinya berkerut tipis, penasaran akan kesibukan fisik yang sanggup menyita waktu sang pemuda penyembuh penyakitnya."Bela diri, Yah," jawab Teja jujur dan lugas."Kamu bisa bela diri, Ja?" tanya Susan yang tiba

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   248. Rasa Tahu Diri

    Pemuda itu mengabaikan tatapan kagum Panda, berfokus pada kesiapan susunan formasi tim yang tengah mereka susun untuk ajang nasional mendatang."Setuju banget, Ja," jawab Linda tanpa ragu sedikitpun. Gadis itu menyunggingkan senyuman tipis, meyakini bahwa kemampuan bertarung Panda yang lincah dan berdaya ledak tinggi memang menjadi pelengkap sempurna bagi skuat utama mereka.Teja menatap Panda lagi. Tatapannya teduh namun menuntut kepastian dari calon anggotanya tersebut. "Kalau kamu, minat nggak nih, Nda?"Panda tak langsung menanggapi. Ia tampak berpikir keras. Keraguan melintas sejenak di raut wajah cantiknya tatkala membayangkan skala kompetisi tingkat nasional yang begitu besar dan dipenuhi petarung-petarung tangguh dari berbagai pelosok negeri. Jemari tangannya meremas pelan botol air mineral di pangkuannya, mempertimbangkan secara matang segala konsekuensi serta kemampuan dirinya sendiri sebelum memberikan jawaban pasti."Tapi aku kan bukan anggota perguruan bela diri mana p

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   247. Anggota Kelima

    Milik Teja beranjak membesar kembali!Perubahan bentuk itu terjadi secara instan di bawah kendali penuh hawa murninya. Lingkar diameter serta panjang bagian vitalnya terus merenggang dan membesar, melampaui batas ukuran standar sebelumnya dan berkembang pesat secara signifikan di depan mata kepala Teja sendiri.Ukuran yang sebelumnya SNI kini sudah bertransformasi ke bentuk terbesar se-Indonesianya. Batang pejal yang kokoh dan tegang sempurna itu kini telah kembali pada wujudnya yang asli.Bentuk milik Teja terlihat panjang, tebal, dan memancarkan wibawa kekuatan yang luar biasa. Pengaruh efek hukuman lilitan kain leluhur yang sempat menyusutkan ukurannya berhasil diluruhkan sepenuhnya oleh kombinasi pijat saraf master dan manipulasi energi Qi tingkat tinggi milik sang master pijat muda.Teja tertawa riang. 'Berhasil!' soraknya penuh kemenangan sembari menatap puas pada hasil pemulihan mandirinya yang kini telah kembali sempurna seperti sedia kala.—Hari-hari berikutnya, Teja teru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   246. Visualisasi Batiniah

    "Aku berlebihan ya, Ja?" tanya Linda lirih. Matanya bergerak sayu menatap Teja, penuh penyesalan atas riak cemburu yang sempat ia utarakan.Belum sempat Teja menjawab, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Suara ketukan teratur itu memecah suasana atmosfer intim yang menyelimuti area dalam ruangan.Teja segera turun dari ranjang dan membukanya. Daun pintu kayu jati berukir itu mengayun terbuka, memperlihatkan sosok Toni yang berdiri santai di balik ambang pintu. "Lho, Ayah sudah pulang?" tanya Teja terkejut melihat kepulangan sang ayah yang lebih cepat dari perkiraannya."Iya, Ja. Sungkan dong sama teman ayah kalau bertamu kelamaan. Eh iya, kamu sama Linda ya di dalem?" jawab Toni sembari mengintip ke dalam kamar, menyadari kehadiran aroma parfum yang khas dari tubuh Linda."Iya, Yah. Linda tadi ngeluh capek, jadi aku pijat dia," terang Teja santai tanpa menunjukkan gestur canggung sedikitpun.Linda yang berada di dalam segera merapikan posisi duduknya di tepi ranjang lalu melangkah

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   245. Cemburu Buta

    "Ampun, Ja, aku nggak sanggup lagi, lemes banget," keluh Linda menolak tawaran Teja. Suaranya terdengar lirih dan serak usai diterjang gelombang orgasme beruntun yang menguras seluruh pasokan tenaga di dalam tubuhnya.Namun sesaat kemudian Linda menatap Teja lagi. Matanya menatap pemuda berambut gondrong itu dengan rasa bersalah yang terlihat jelas. "Eh, tapi kan kamu belum orgasme, Ja?! Aduhh, ya udah sini aku bantuin pakai tangan dan mulut," ujarnya berusaha menebus rasa bersalahnya.Linda memaksakan tubuhnya untuk bangkit di ranjang, namun tangan Teja menahannya. Usapan lembut jemari Teja pada bahu mulus sang gadis menahan pergerakan tersebut."Nggak usah, Sayang. Kamu kocok sampai tanganmu kram juga nggak bakal bisa muncrat," tolak Teja jujur sembari menyunggingkan senyuman hangat. Pemuda itu juga belum bisa menemukan jawaban dari hambatan orgasme yang terjadi pada dirinya sejak awal mengenakan lilitan kain leluhurnya.Lambat laun hidup tanpa orgasme, Teja pun mulai terbiasa,

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   244. Perubahan Besar

    Teja terus menusuk dan menambah tempo kecepatan dorongannya. Ayunan pinggul pemuda berambut gondrong itu bergerak kian liar dan bertenaga, meluncurkan dorongan demi dorongan yang kuat dan bertenaga ke dalam liang kewanitaan Linda yang begitu sempit dan rapat.Meski berukuran SNI, milik Teja tetap sekeras beton. Sangat kaku dan keras. Hukuman yang diberikan warisan lilitan kain leluhur Teja hanyalah sebatas lada pengecilan ukuran saja. Kekuatan, daya tahan, serta kekerasannya tetap berada pada kondisi semula tanp adanya penurunan."Ufh, biar berubah ukuran, tetep enak dan kerass banget, Sayang. Oh, ampun!" teriak Linda parau. Gadis dari Perguruan Teratai Kembar itu membiarkan kepalanya menggeleng pasrah di atas bantal, tak sanggup membendung gelombang kenikmatan luar biasa yang menghantam dinding-dinding dalam dirinya secara bertubi-tubi.Teja mengangguk senang sambil mengecupi wajah Linda yang cantik jelita. Bibirnya menyapa dahi, kedua pipi merona, hingga leher jenjang Linda yang

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status