ログインTeja meletakkan Bianca di atas pembaringan. Kasur berukuran besar dengan seprei putih yang empuk menyambut lembut tubuh polos gadis jelita tersebut.Ia sejenak menatap sekujur tubuh indah gadis jelitanya tersebut. Keindahan lekukan paha mulus, perut ramping, hingga bukit dada berukuran sedang milik Bianca terpampang nyata tanpa cela."Mumpung masih becek banget punyamu, Bi. Kita langsungin aja ya," tutur Teja lembut sembari membelai pelan paha bagian dalam Bianca.Bianca mengangguk pelan. Tatapannya bersimbah gairah bercampur sedikit rasa cemas tatkala matanya tak sengaja melirik batangan monster Teja yang berdiri tegak membara di depannya."Pelan-pelan, Sayang. Ini pertama kali dalam hidupku," bisik Bianca penuh nada cemas.Teja naik dan memposisikan diri di tengah paha Bianca yang terbuka. Pria berambut panjang itu menumpu tubuh kekarnya dengan kedua lengan di kanan dan kiri kepala Bianca. Dadanya bergesekan hangat dengan dada mulus Bianca.Milik Teja yang super besar ia arahkan p
Teja tak peduli pada teriakan Bianca. Ia justru semakin beringas memakan milik Bianca tanpa ampun. Lidahnya menari lincah, menyapu celah sensitif wanita itu dengan gerakan yang kian dalam dan bertenaga."Tejaa! Oh-oh-ohh…" Bianca meraung dan menggeliat luar biasa merasakan sensasi pertama dalam hidupnya. Tubuhnya meliuk resah di atas permukaan sofa kulit yang licin, sementara jemarinya mencengkeram kencang bantalan sofa untuk menahan guncangan kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.Teja tersenyum senang mendapati wanita barunya yang sedemikian menikmati suguhan bibir yang ia hidangkan di liang milik wanita cantik itu. Pria berambut panjang itu semakin bersemangat, memberikan kecupan-kecupan basah di sekeliling paha dalam Bianca sebelum kembali melesakkan kulumannya pada bagian pusat kenikmatan sang idola sekolah.Kecipak lidah yang basah berpadu dengan rongga milik Bianca yang juga mulai mengucurkan pelumas, membuat suasana ruang kerja itu menjadi riuh rendah oleh su
"Kamu takut, Bi?" tanya Teja pelan dengan senyum tipis bersalut godaan.Bianca tersenyum canggung antara takut dan ingin. Rona merah di pipinya kian menggelap, memperlihatkan pergolakan batin seorang gadis polos yang sedang berada di ambang keputusan paling berani dalam hidupnya.Ia sejenak terlihat dalam sebuah kegamangan nurani untuk mengambil langkah pilihan.Sejenak menarik napas panjang, ia pun kembali menggerakkan tangannya."Aku buka celana kamu ya, Ja?" bisik Bianca dengan nada bergetar mewakili persetujuannya untuk melanjutkan permainan yang sudah kepalangan tanggung.Teja mengangguk pelan tanpa suara. Ia masih bersiap mengurungkan semuanya jika Bianca mendadak ragu.Namun, ternyata gadis bertubuh molek itu melepaskan keraguannya. Bianca mulai membuka ikat pinggang dan kancing celana Teja. Jemari lentiknya yang gemetaran menurunkan resleting celana bahan pria itu secara perlahan.Celana itu pun segera luruh ke lantai ruangan yang dingin.Mata Bianca kembali terbelalak dan b
"Sekarang kamu nggak bakal kesepian lagi, Bi. Aku sudah datang buat kamu," bisik Teja dengan suara bernuansa hangat yang merasuk hingga ke dasar sanubari Bianca.Setelah mengatakan itu, wajah Teja meluncur ke bawah, menukik curam membentur payudara kencang Bianca.Bibirnya segera melibas puting keras Bianca, mengulumnya kuat-kuat, lalu memainkannya dengan gerakan lidah yang hangat dan terampil. Gesekan lembut dan hisapan yang buas Teja menyentuh langsung pusat saraf kenikmatan gadis yang belum pernah tersentuh itu.Di sisi lain, jemari besar Teja meremas gemas bulatan satunya. Tekstur kenyal padat khas milik gadis perawan itu dipadatkan dan diraba tanpa ampun, dipijat perlahan lalu dilepaskan secara berulang hingga bentuknya kembali membusung kencang."Oh-oh, Jaaa!" Bianca memejamkan mata dan menggelinjang hebat.Betapa tidak? Ini adalah kali pertama ia dijamah pria!Sensasi kontak fisik yang sangat menggelora di bagian atas tubuhnya itu menciptakan ledakan kehangatan yang amat dahs
Merasakan terhalang dan terganggu oleh pakaian Bianca, Teja membuka tank top sekaligus bra tipis Bianca. Gerakan jemarinya begitu sigap dan cekatan, meloloskan dua helai kain tipis itu melintasi kepala dan lengan mulus sang dara tanpa kesulitan.Dalam sekejap terpampanglah buah dada ranum Bianca berikut perutnya yang putih ramping.Bongkahan sepasang gundukan payudara berukuran sedang itu berdiri tegar menantang, kencang, dan simetris dengan puncak kemerahan yang mencuat kaku akibat terpaan udara dingin ruangan. Permukaan kulit perutnya begitu rata, mulus tanpa cacat, memperlihatkan keindahan alami dari seorang gadis muda yang amat merawat kebersihan tubuhnya.Tubuh elok itu kini hanya menyisakan celana panjang kain.Penampilan setengah polos yang seperti itu membuat jantung Teja seakan ingin melompat dari tempatnya! Getaran liar merayap cepat dari milik Teja menuju dadanya. Meski ia bukan pria yang gampangan, aksi atas keinginan bersama seperti itu jelas membuat darahnya berdesir
Ciuman Teja seketika membius Bianca sepenuhnya.Lumatan bibir pria berambut panjang itu terasa begitu dalam, menyedot lidah Bianca dan mengajak menari liar di dalam rongga mulut yang hangat. Bianca melempar kedua tangannya mengelilingi leher tegap Teja, mencengkeram erat helai-helai rambut bagian belakang pria itu demi menahan kenikmatan perciuman yang memabukkan tersebut."Mmph... Ahh... Ja... Umph..."Desahan samar Bianca teredam di antara jepitan bibir mereka yang tak berjarak. Gelombang gairah yang telah tertahan bertahun-tahun di dalam dadanya kini meledak sepenuhnya. Setiap hisapan dan lumatan Teja mengirimkan sensasi aneh yang menjalar cepat ke seluruh persendian tubuhnya, membuat lutut dan pinggul Bianca terasa lemas tak berdaya.Tangan Teja yang semula mendekap tengkuk Bianca perlahan bergerak turun. Jemari besar itu menelusuri leher jenjang, melintasi tulang selangka yang halus, lalu mendarat tepat di atas bentangan dada Bianca yang berbalut tank top putih ketat.Sentuha
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih







