مشاركة

354. Tatapan Cinta

مؤلف: Leva Lorich
last update تاريخ النشر: 2026-08-27 19:01:11

Merasa sudah cukup memberikan pijatan relaksasi pada otot-otot area intim milik Bianca yang kaku, Teja menyudahi pijatannya.

Pria berambut panjang itu mengusap pelan paha dalam Bianca untuk terakhir kalinya, membiarkan lelehan gel pelicin dan hawa murni energi Qi meresap sempurna ke dalam jaringan otot panggul sang primadona.

"Kayaknya udah cukup pijatnya, Bi. Kamu siap buat kita cobain lagi?" tanya Teja lembut, menatap lekat paras cantik wanita di bawahnya.

Bianca mengangguk cepat, tak seragu
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   358. Memicu Ledakan

    Tanpa ragu dan penuh rasa penasaran akan rasa penetrasi dalam posisi woman on top, Bianca mendorong kuat bokongnya turun melahap batang kejantanan Teja yang sudah ia siapkan di bawah sana.Benda super jumbo yang sedang tegak maksimal itu langsung menerobos masuk!Beruntung, kondisi sangat licin di dalam milik Bianca membuat lesakan batang Teja melaju mulus meski perlahan. Perpaduan antara gel pelicin terapi pijat dan cairan alami serta pelepasan Bianca yang melimpah ruah melapisi setiap sentimeter dinding kewanitaannya, membuat batang besar berurat tebal itu meluncur masuk tanpa kesusahan lagi."Ooshh! Uuh!"Mulut Bianca menganga lebar, matanya juga ikut terbeliak saat merasakan sensasi rasa terobosan di dalam dirinya yang begitu nikmat dan sesak. Dinding lorong miliknya meremas ketat permukaan kulit milik Teja yang hangat membara, menyesuaikan bentuk besarnya secara mendadak."Jaa, posisi kayak gini ternyata bikin punyamu makin berasa penuh di dalem sini. Uuh-sh, ini… ini luar bias

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   357. Kata Teman-teman

    Setelah beberapa hentakan Teja selanjutnya, Bianca sudah benar-benar tak bisa menahannya lagi.Tubuhnya mengejang kaku. Ujung jari kakinya menekuk dan dua pahanya melingkar lebih kuat di pinggang Teja, menjepitnya tanpa ingin untuk lepas barang sejenak. Gelombang pelepasan kedua meledak dahsyat di dalam selangkangan sang wanita cantik itu, melontarkan sensasi kenikmatan yang tak tertahankan."Jaaa, ini sudah waktunyaa! Oh-oh. Aku pipis lagi, Sayangg. Uh-uu-uhh!" Bianca mendesah keras dengan mata terpejam.Keringat membasahi kening dan lehernya hingga membuat beberapa anak rambutnya menempel di kulit mulusnya yang hangat. Kini alisnya benar-benar tertaut di tengah kening, menahan gejolak pelepasan yang terus bergetar hebat."Oh-ohh... Rasanya geli banget, Sayang..." rengek Bianca manja dengan suara lirih kehabisan tenaga. Dinding kewanitannya menyedot kuat batang milik Teja, kemudian membasahi lorong sempit itu dengan lelehan cairan pelepasan yang melimpah ruah.Teja mengelus lembut

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   356. Satu Titik

    "Ohhh, Ja. Shh!" raung Bianca saat Teja mendorong masuk miliknya.Pergerakan batang super besar dari ujung milik Bianca hingga menyentuh ketat dinding rahimnya memberikan sensasi rasa yang tak terbayangkan. Gesekan batang berurat dari milik Teja yang mendesak lorong sempit tersebut mengirimkan gelombang unik yang menjalar dari pangkal paha hingga menusuk ke ubun-ubun.Rasa perih itu sudah hampir menghilang dan kini tergantikan oleh gelora rasa geli bercampur nikmat yang menggerogoti setiap impuls saraf di liang milik Bianca. Dinding-dinding kewanitaan yang semula kaku dan tegang akibat syok robeknya selaput dara, kini telah beradaptasi penuh, menjepit ketat setiap milimeter batang Teja yang menghujam gagah perkasa."Ja, ohhh... Baru kali ini aku ngerasain ditusuk begini. Uh-uh, kayak dikerubungi ribuan lebah di dalem sini. Ohh!" racau Bianca dengan napas memburu dan mata yang terpejam. Kedua kakinya bergerak-gerak resah merasakan itu semua.Teja tersenyum lebar mendengar ungkapan n

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   355. Tak Bisa Diungkapkan

    "Hmm-ohm..." gumam Bianca di dalam ciuman tersebut.Dan saat Bianca sudah sangat fokus menikmati pertalian lidah itu, pinggul Teja di bawah sana kembali bergerak.Ia menarik miliknya menjauh sedikit dari lapisan hymen yang tadi menghalangi, mengambil jarak untuk satu dorongan yang menentukan.Detik berikutnya, ia mendorong kuat benda besar miliknya itu melesak masuk dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya!"Ahhh, Jaaa!" teriak Bianca menarik bibirnya dari pagutan Teja saat merasakan terobosan milik Teja yang menyeruak dan merobek lapisan penghalang di dalam miliknya.Begitu perihnya rasa yang terkumpul di sana membuat bulir air mata meleleh dari sudut mata Bianca. Lapisan keperawanan yang memang ia siapkan untuk Teja kini telah tembus sepenuhnya, meninggalkan sensasi terbakar dan panas yang menyengat seluruh otot panggulnya.Teja memahami kondisi itu dan mendiamkan miliknya sejenak untuk memberikan ruang bagi wanitanya untuk menyesuaikan diri. Pria berambut panjang itu me

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   354. Tatapan Cinta

    Merasa sudah cukup memberikan pijatan relaksasi pada otot-otot area intim milik Bianca yang kaku, Teja menyudahi pijatannya. Pria berambut panjang itu mengusap pelan paha dalam Bianca untuk terakhir kalinya, membiarkan lelehan gel pelicin dan hawa murni energi Qi meresap sempurna ke dalam jaringan otot panggul sang primadona."Kayaknya udah cukup pijatnya, Bi. Kamu siap buat kita cobain lagi?" tanya Teja lembut, menatap lekat paras cantik wanita di bawahnya.Bianca mengangguk cepat, tak seragu tadi. Rona merah di pipinya masih membara, namun binar matanya kini dipenuhi keberanian dan rasa penasaran yang membuncah.Ia juga bingung dengan kondisi kejiwaan dan pikirannya yang berubah jauh sangat santai dan rileks setelah menerima pijatan Teja tadi. Rasa cemas, takut akan rasa sakit, serta ketegangan emosional yang sempat menggelayuti benaknya perlahan sirna tanpa bekas, berganti dengan sensasi hangat yang menentramkan jiwa.Tanpa Bianca sadari, pancaran energi Qi yang dialirkan Teja da

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   353. Tak Ingin Melewatkan

    Teja meletakkan Bianca di atas pembaringan. Kasur berukuran besar dengan seprei putih yang empuk menyambut lembut tubuh polos gadis jelita tersebut.Ia sejenak menatap sekujur tubuh indah gadis jelitanya tersebut. Keindahan lekukan paha mulus, perut ramping, hingga bukit dada berukuran sedang milik Bianca terpampang nyata tanpa cela."Mumpung masih becek banget punyamu, Bi. Kita langsungin aja ya," tutur Teja lembut sembari membelai pelan paha bagian dalam Bianca.Bianca mengangguk pelan. Tatapannya bersimbah gairah bercampur sedikit rasa cemas tatkala matanya tak sengaja melirik batangan monster Teja yang berdiri tegak membara di depannya."Pelan-pelan, Sayang. Ini pertama kali dalam hidupku," bisik Bianca penuh nada cemas.Teja naik dan memposisikan diri di tengah paha Bianca yang terbuka. Pria berambut panjang itu menumpu tubuh kekarnya dengan kedua lengan di kanan dan kiri kepala Bianca. Dadanya bergesekan hangat dengan dada mulus Bianca.Milik Teja yang super besar ia arahkan p

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status