"Kamu kok bisa setenang dan seyakin itu, Nak?" tanya ayah Nana heran.Pria paruh baya bertubuh tegap itu menatap sosok Teja dengan kening berkerut halus. Di tengah kepanikan Nana dan tekanan bernada menghina yang dilemparkan oleh istrinya, sikap Teja yang berdiri santai tanpa sedikit pun raut kegelisahan benar-benar menyita perhatiannya. Ada pendar kewibawaan yang begitu dalam dan kuat memancar dari raut wajah pemuda berambut gondrong tersebut."Karena nggak ada yang perlu dikhawatirkan selama belum terjadi, Pak. Yakin bahwa nggak ada kesulitan tanpa kemudahan," sahut Teja datar.Jawaban tenang yang penuh akan kedalaman batin itu membuat ayah Nana seketika tertegun, meresapi logika sederhana yang meluncur begitu lugas dari bibir Teja.Teja kemudian menoleh pelan ke arah Nana dan ayahnya."Eh, permisi. Aku numpang ke toilet di belakang dulu, Pak, Na," pamit Teja sopan."Silakan," jawab ayah Nana dengan anggukan hangat.Dua kali minum kopi di kantin kampus dan kafe membuat Teja beser.
Read more