Teja bangkit dari posisi berlututnya di lantai keramik. Ia merangkak naik ke atas ranjang empuk, merayap perlahan di atas tubuh seputih porselen milik Desy yang masih terbaring terkulai. Posisi mereka kini selaras dalam gaya misionaris yang intim, dengan dada bidang Teja menaungi wajah ayu sang gadis.Kedua paha mulus Desy terentang pasrah di kanan dan kiri pinggul tegap Teja. Jemari kekar Teja menyusup di antara sela-sela jari lentik Desy, mengunci pergelangan tangannya di atas seprai. Pancar hawa hangat Murni Qi tingkat tujuh berdesir halus dari telapak tangan Teja, menyalurkan ketenangan agar saraf-saraf intim Desy tetap rileks dan siap menerima sorongan miliknya."Rileks ya, Des... Atur napasmu," tutur Teja dengan suara bariton rendah, menatap lurus ke dalam mata bening sang dara.Desy mengangguk pelan, menyunggingkan senyum lembut walau degup jantungnya kembali berpacu cepat tatkala merasakan ukuran super kejantanan Teja menekan perlahan di muara kewanitaannya."Iya, Mas... Ak
Mehr lesen