Teja menatap Berliana yang masih berdiri menunggunya dengan raut penasaran. Senyum tipis masih terukir di bibir pemuda berambut gondrong itu saat ia kembali mengambil sendok kayu dari samping mangkuk kaca."Siapa yang mau mulai dulu?" tanya Teja santai sembari memutar-mutar sendok di tangannya.Berliana semakin bingung mendengar pertanyaan tersebut. Alisnya terangkat, menatap Teja dengan pandangan heran yang semakin tak paham."Mulai apanya sih, Jaa? Ini cuma makan salad buah, kan? Kenapa harus pakai urutan segala?" tanya Berliana tidak mengerti."Karena kita nggak akan makan pakai piring biasa," sahut Teja singkat.Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Teja meraih pergelangan tangan halus Berliana, membimbingnya untuk melangkah mendekati area karpet tebal yang terhampar tepat di depan sofa ruang tengah."Rebah terlentang di sini, Berli," pinta Teja dengan lembut.Berliana menatap karpet, lalu beralih menatap Teja dan mangkuk kaca di atas meja. Mulai mengerti ke mana arah ide te
Read more