MasukTeja menatap Berliana yang masih berdiri menunggunya dengan raut penasaran. Senyum tipis masih terukir di bibir pemuda berambut gondrong itu saat ia kembali mengambil sendok kayu dari samping mangkuk kaca."Siapa yang mau mulai dulu?" tanya Teja santai sembari memutar-mutar sendok di tangannya.Berliana semakin bingung mendengar pertanyaan tersebut. Alisnya terangkat, menatap Teja dengan pandangan heran yang semakin tak paham."Mulai apanya sih, Jaa? Ini cuma makan salad buah, kan? Kenapa harus pakai urutan segala?" tanya Berliana tidak mengerti."Karena kita nggak akan makan pakai piring biasa," sahut Teja singkat.Tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut, Teja meraih pergelangan tangan halus Berliana, membimbingnya untuk melangkah mendekati area karpet tebal yang terhampar tepat di depan sofa ruang tengah."Rebah terlentang di sini, Berli," pinta Teja dengan lembut.Berliana menatap karpet, lalu beralih menatap Teja dan mangkuk kaca di atas meja. Mulai mengerti ke mana arah ide te
Siang mendekati sore, Teja terbangun dan tak mendapati Berliana di sampingnya.Sinar matahari yang menyusup tipis dari sela-sela gorden kamar menyinari peraduan empuk yang kini terasa sepi. Kehangatan tubuh Berliana yang tadinya mendekap rapat dada bidangnya telah menghilang, menyisakan keheningan kosong di dalam kamar berpenyejuk udara tersebut. Teja meregangkan kedua lengannya, merasakan aliran tenaga dalam Qi tingkat tujuh di dalam tubuhnya mengalir begitu lancar dan segar usai beristirahat total.Raga tegap berotot milik pemuda berambut gondrong itu melangkah santai melintasi karpet empuk tanpa sehelai benang pun yang menutupi kulitnya. Sikap percaya diri dan ketenangan terpancar dari setiap pijakan kakinya tatkala mendengarkan denting halus peralatan dapur yang terdengar dari arah luar.Langkah kaki tegap Teja memotong lorong pendek rumah singgah, berjalan menuju area dapur bersih bergaya modern.Di dapur ia melihat Berliana sedang menyiapkan salad buah, juga tanpa busana.Pem
Puncak kenikmatan yang tak tertahankan akhirnya meruntuhkan seluruh ketahanan fisik Berliana. Dinding kewanitaannya berdenyut sangat kencang, memeras kuat keperkasaan Teja tatkala gelombang orgasme ketiga meledak dahsyat di dalam dirinya."AAAAHHH! TEJAA! KELUAR LAGIII!"Jeritan keras meluncur dari bibir perwira TNI tersebut. Tubuh Berliana bergetar hebat dalam cengkeraman puncak asmara, menyemburkan lelehan cairan bening berlimpah yang membasahi lorong peraduan mereka.Teja yang merasakan denyutan kuat dari tubuh Berliana serta dorongan gairahnya yang sudah berada di ambang batas segera menarik keperkasaannya keluar.Hanya dalam hitungan detik setelah keperkasaannya terlepas ke udara terbuka, letupan dahsyat dari dalam dada Teja tak lagi sanggup ditahan. Cairan kental hangat berwarna putih pekat menyembur deras secara beruntun, membasahi kulit bokong dan punggung mulus Berliana yang masih menungging pasrah di atas karpet.Semburan melimpah itu mengalir hangat di atas permukaan kul
Penetrasi beruntun yang dihantamkan Teja dari arah belakang membuat pertahanan fisik Berliana mencapai titik nadir. Sensasi nikmat yang bertubi-tubi menghantam bagian paling peka di dalam organ kewanitaannya membuat seluruh sarafnya bergetar hebat."Mhhmh... Te-teja... ahh! Nggak kuat lagi... lututku... lemes banget," desah Berliana dengan suara serak dan memelan.Paha mulus sang perwira militer bergetar hebat. Kedua kakinya yang semula berdiri menopang bobot tubuhnya kini mulai kehilangan daya sokongnya. Tumpuan tangannya di atas bibir meja rias licin itu merosot, membuat tubuh bagian atasnya terkulai lemas di atas kayu meja dengan lutut yang semakin goyah seolah hampir roboh ke lantai.Teja yang memahami kondisi itu segera menarik tubuh Berliana secara perlahan.Dengan sigap, Teja memegang kedua paha Berliana, menahan agar tubuh mulus wanitanya tidak membentur lantai karpet. Ia menarik pinggul Berliana mundur beberapa langkah, lalu membimbing wanita berambut bondol pendek itu un
Teja memegang lembut pinggul Berliana yang masih menempel di atas dadanya. Mata keemasan pemuda itu menatap lekat sepasang mata sayu milik sang perwira TNI yang napasnya perlahan mulai teratur."Memangnya kamu masih kuat buat lanjut, Berli?" tanya Teja dengan suara pelan dan hangat sambil mengelus pelan pinggang mulus wanitanya.Berliana terkekeh manis mendengarnya. Perwira wanita berambut bondol pendek itu mengagkat kepalanya sedikit dari dada bidang Teja, menyunggingkan senyum menawan yang seolah belum merasa lelah."Jangan pernah meragukan daya tahan dan fisik seorang tentara, Teja," balas Berliana dengan nada suara merdu dan penuh percaya diri.Senyuman tipis terukir di bibir Teja saat mendengarnya. Tanpa membuang waktu lebih lama, Teja menggerakkan badannya, bangkit dari peraduan sembari memegang erat kedua lengan Berliana. Ia menarik wanita cantik itu ikut berdiri di atas lantai kamar yang dilapisi karpet empuk.Teja membimbing langkah Berliana menuju sisi kamar yang didominas
Teja perlahan menjauhkan wajahnya dari paha mulus Berliana usai menelan tuntas lelehan nikmat wanitanya. Pemuda bertubuh tegap itu memanjat naik ke atas tempat tidur, merebahkan tubuh berototnya terlentang di tengah peraduan sembari menatap penuh kehangatan pada sang perwira TNI yang masih terkulai pasrah memburu napas.Berliana mengerjapkan matanya yang redup dan sayu. Sisa-sisa kejutan orgasme pertama masih membuat otot-otot pahanya bergetar halus. Namun, tatkala matanya mendapati keperkasaan Teja yang berdiri tegak, keras, dan siap bertempur di samping pinggulnya, gelombang gairah baru seketika kembali membakar relung batin sang wanita."Kamu sudah siap, kan, Sayang?" bisik Berliana dengan nada suara manja.Berliana mengumpulkan kembali sisa tenaganya. Dengan pergerakan yang anggun dan sensual, perwira militer berambut bondol pendek itu memindahkan tubuh moleknya hingga berada tepat di atas perut enam persegi milik Teja. Rambut pendeknya yang berantakan memberikan kesan liar da
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan







