مشاركة

Bab 53

مؤلف: Author Marr
last update تاريخ النشر: 2026-06-11 20:51:41

Alexandro berdiri. Ia tidak lagi berlutut. Sekarang ia berdiri di depanku, menatapku dari atas dengan mata yang gelap dan sulit dibaca. Tangannya sudah melepaskan wajahku, tapi aku masih bisa merasakan hangatnya bekas sentuhan di pipiku.

"Dia bilang kau pantas bahagia, Kau pikir aku tidak bisa membuatmu bahagia?"

Aku diam, tidak berani menjawab.

Ia berjalan ke sofa seberang, duduk lagi, tapi kali ini ia duduk tidak terlalu jauh. Hanya terpisah meja kecil di antara kami.

"Lucia."

Aku masih menun
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 93

    Hening. Kata-kataku menggantung di udara, di antara suara angin yang berdesir di dedaunan dan gemericik air kolam yang tenang.Aku tidak percaya aku baru saja mengatakan itu tapi aku sudah mengatakannya dan aku tidak bisa menariknya kembali.Alexandro menatapku. Matanya gelap, tidak bisa kubaca. Aku tidak tahu apakah ia terkejut, marah, atau sesuatu yang lain.Ia tidak bergerak. Ia hanya duduk di batu itu, senapan di pangkuan, jaket hitam terbuka sedikit, memperlihatkan kemeja putih di dalamnya. Rambutnya berantakan kena angin, membuatnya terlihat semakin tampan. Oh sialan. Dia sangat tampan."Kau tahu kau tidak boleh," katanya."Aku tahu, tapi aku juga tahu satu bulan tanpa seks pasti berat buatmu dan aku..."Ia menatapku. "Dan kau apa?"Aku menunduk. "Aku kangen. Aku kangen disentuh. Aku kangen dicium. Aku kangen kau."Ia diam."Aku tidak akan pingsan. Aku janji. Pelan-pelan. Kalau aku merasa tidak enak, aku akan bilang. Aku janji," kataku.Ia masih diam. Aku tidak sabar. Aku berdir

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 92

    Satu bulan kemudian.Sudah satu bulan sejak dokter mengatakan jantungku bermasalah. Aku tidak menyangka bisa melewati semua ini. Setiap pagi Clara datang, memeriksa tekanan darahku, memastikan aku minum obat. Setiap hari ahli gizi menyusun menu, makanan hambar tanpa garam tanpa gula tanpa lemak. Setiap sore Gianna menemaniku jalan pagi, pelan-pelan di taman belakang, tidak boleh terlalu cepat, tidak boleh terlalu lama.Setiap malam Alexandro pulang, duduk di sampingku, menemaniku makan malam dengan menu yang sama seperti makananku, tanpa garam, tanpa gula, tanpa lemak. Aku bilang dia tidak perlu ikut diet. Ia hanya mengangkat bahu dan berkata, "Aku juga perlu sehat."Dan hari ini, hari yang paling aku tunggu sekaligus paling aku takuti. Hari menimbang.Aku berdiri di atas timbangan di kamar mandi, telanjang, tanpa busana, tanpa cela. Gianna berdiri di luar pintu, Clara di sampingnya, menunggu dengan sabar. Aku melihat angka di bawah kakiku.93 kg.Aku menutup mata. Membuka lagi. Mas

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 91

    Malam itu, aku berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya cahaya bulan yang masuk lewat celah tirai.Tapi aku tidak bisa tidur. Pikiranku melayang ke suatu tempat yang tidak nyaman. Seminggu aku tidak memberinya apa pun, tidak ada sentuhan. Tidak ada ciuman dan tidak ada seks.Aku menggigit bibir. Aku tahu Alexandro. Aku tahu kebutuhannya sebagai laki-laki normal tapi tubuhku masih lemah, jantungku masih belum stabil, dokter bilang aku tidak boleh melakukan aktivitas berat.Dan Alexandro? PAku tidak tahu apakah ia masih punya wanita lain. Aku tidak tahu apakah ia masih menghubungi mereka. Tapi aku tahu, pria seperti dia tidak akan diam seminggu tanpa seks.Aku duduk. Perlahan, dengan hati-hati. Jantungku berdebar sedikit lebih cepat, tapi tidak terlalu. Aku menarik napas, merasakan dadaku mengembang, tidak ada rasa sakit. Aku turun dari tempat tidur, kakiku menyentuh lantai yang dingin, dan aku berdiri.Aku berjalan ke pintu, melangkah pelan k

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 90

    Seminggu di rumah sakit terasa seperti setahun. Alexandro datang setiap hari, duduk di kursi di samping tempat tidurku, membawa dokumen-dokumen yang ia tandatangani tanpa bicara. Kadang ia membaca, kadang hanya menatapku, kadang tertidur dengan kepala tertunduk di atas lengan.Hari ini aku pulang. Gianna menjemput dengan mobil putih itu, Marco membantu membawakan tas kecil berisi obat-obatan yang harus kuminum setiap hari. Alexandro duduk di sampingku di kursi belakang, tidak bicara, hanya menggenggam tanganku seperti biasa. Tangannya hangat, tapi ia sendiri terasa dingin.Di rumah, kamar tidur sudah diubah. Tempat tidur diganti dengan yang lebih empuk, bantal tambahan di mana-mana, dan di sudut ruangan ada alat-alat medis yang tidak aku mengerti.Tensimeter, oximeter, beberapa botol obat dengan label panjang. Seorang perawat berdiri di dekat pintu, tersenyum ramah, memperkenalkan diri sebagai Clara yang akan datang setiap hari untuk memeriksa tekanan darahku dan memastikan aku minu

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 89

    Lucia's PovPintu ruangan tertutup. Alexandro keluar, mungkin bicara dengan dokter.Monitor di sampingku masih berbunyi pelan, detak demi detak, mengingatkanku bahwa aku masih hidup. Infus masih menetes perlahan di tangan kiriku, oksigen masih mengalir lewat selang di hidungku.Air mata itu keluar dengan sendirinya. Aku tidak menangis. Aku hanya meneteskan air mata. Satu, dua, tiga. Jatuh ke bantal, membasahi sarung putih rumah sakit yang dingin.Usiaku baru dua puluh dua tahun. Seharusnya aku bisa berlari, bisa tertawa, bisa makan apa yang aku suka tanpa takut jantungku akan berhenti. Tapi aku di rumah sakit, dengan kabel-kabel di dadaku, dengan obat-obatan yang mengalir di darahku, dengan jantung yang perlahan rusak.Aku tidak pernah bahagia. Aku pikir-pikir lagi benar-benar tidak pernah bahagia.Kecil di rumah Paman, aku tidak bahagia. Setiap hari dihina, setiap hari dikurung, setiap hari diingatkan bahwa aku beban, bahwa aku tidak berguna, bahwa tidak ada yang mau mengurus anak se

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 88

    Mobil melaju kencang di jalanan. Di kursi belakang, Lucia terbaring lemah di pangkuan Alexandro, wajahnya pucat pasi, bibirnya kebiruan, napasnya pendek-pendek, sesekali terputus seperti orang yang berusaha menelan udara tapi tidak cukup.Tangan Alexandro menggenggam tangannya yang dingin, sementara tangan satunya menekan dadanya sendiri, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang."Kita hampir sampai."Lucia tidak menjawab. Matanya terpejam, bulu matanya yang panjang bergerak-gerak kecil seperti orang yang sedang melawan tidur. Di kursi depan, Marco menyetir dengan kecepatan maksimal, sesekali membunyikan klakson, menerobos lampu merah, tidak peduli dengan mobil-mobil lain yang menghindar ke pinggir. Di sampingnya, Gianna duduk tegang, satu tangan memegang ponsel, sudah menghubungi rumah sakit, memberitahu mereka untuk bersiap.Mobil belum berhenti penuh, Alexandro sudah membuka pintu. Ia menggendong Lucia keluar, tubuhnya yang gemuk terasa sangat berat di pelukannya, tap

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 28

    Pintu kamarku tidak terbuka seharian.Aku hanya berbaring di tempat tidur, memeluk bantal, menatap langit-langit. Air mata sudah kering sejak beberapa jam lalu. Bekas luka di tanganku berdenyut setiap kali aku bergerak tapi itu tidak sebanding dengan luka di hatiku.Mataku pasti bengkak. Sangat ben

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 27

    Selesai acara makan malam, para tamu mulai beranjak menuju area lounge untuk minum-minum ringan sebelum pulang. Alexandro sedang berbincang serius dengan beberapa pria di sudut ruangan. Matanya sesekali melirik ke arahku, sekadar memastikan aku masih di tempat, bukan karena perhatian lebih. Aku be

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 26

    Mobil hitam itu melaju pelan memasuki kawasan restoran paling mewah di kota. Dari jendela, aku bisa melihat gedung bergaya Eropa kuno dengan lampu-lampu temaram yang menerangi setiap sudut. Deretan mobil mewah sudah parkir rapi di depan. Valet parking berjas rapi berdiri siap menyambut.Aku duduk d

  • Terikat Kontrak Dengan Mafia : Pengantin Gendut   Bab 25

    Malam itu aku tidur sendiri.Alexandro tidak pernah turun lagi dari kamarnya. Mungkin dia tidur di kamar lain, mungkin dia pergi lagi. Aku tidak tahu. Aku hanya duduk di kamarku, menatapi tumpukan lingerie di kursi, dan bertanya-tanya bagaimana hidupku bisa sampai sejauh ini.Keesokan harinya.Aku

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status