LOGIN"Jangan kami, Jo.” Pak Budi menatap Jovita dengan raut penuh pertimbangan. “Non Vio dan Nyonya Feli kenal betul sama kami berdua. Selama kalian belum terus terang ke publik soal pernikahan ini, keberadaan kami di dekat kamu saat wisuda nanti justru bisa bikin mereka curiga."Sebagai pensiunan tentara, Pak Budi memang selalu cermat dan penuh perhitungan dalam mengambil langkah.Bi Siti yang duduk di sampingnya mengangguk setuju, lalu menambahkan, "Sebenarnya kami senang-senang saja, Jo... bisa ikut makan enak di acara wisuda. Tapi benar apa kata Pak Budi. Mendingan kamu minta tolong Lastri saja buat mendampingi."Dada Jovita makin terasa sesak, ia menghembuskan napas kasar. Bayangan wajah Bi Lastri langsung melintas di benaknya. Selama ini, Bi Lastri sering menatapnya dengan pandangan penuh curiga, seolah-olah wanita itu sudah mengendus ada rahasia besar antara dirinya dan Raymond.Seolah bisa membaca keraguan yang tersirat di wajah Jovita, Bi Siti tersenyum menenangkan. "Kalau kamu me
Saat perlahan membuka mata, Jovita merasakan kehangatan lengan kekar Raymond yang melingkar erat memeluknya dari belakang. Seingatnya, semalam Raymond sempat pamit untuk pulang ke rumah demi menjaga perasaan Viola. Tapi entah bagaimana pagi ini ia justru terbangun mendapati suaminya berbaring di ranjang yang sama dengannya.Jovita membalikkan tubuhnya pelan, menatap wajah tampan suaminya yang masih tampak tenang. Dengan penuh kasih sayang, Jovita mendaratkan kecupan lembut di bibir pria itu.Tapi, Jovita langsung kaget saat Raymond tiba-tiba menarik pinggangnya mendekat dan membalas ciumannya dengan begitu panas dan menuntut.Begitu tautan bibir mereka terlepas, Raymond menatapnya lekat seraya berbisik, “Tadi kamu lihat tuanya atau gantengnya, hmm?”Jovita tersenyum tipis, mengusap rahang suaminya. “Aku kira Om jadi pulang semalam...”“Keadaan kamu semalam kelihatan kurang baik, Om jadi khawatir kalau ditinggal sendiri,” balas Raymond dengan nada lembut. “Terpaksa Om hubungi Vio, bila
Di mobil yang melaju, Jovita bersandar lesu di kursi penumpang. Matanya menatap nanar ke balik jendela kaca, tampak begitu lelah dan banyak pikiran.Raymond menyadari perubahan sikap istrinya perlahan mengulurkan tangan kiri, mengelus lembut rambut Jovita penuh kasih sayang.“Capek, ya?”Jovita hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya.Raymond mengernyit, merasa ada yang tidak beres. “Ada masalah?” tanyanya lembut.Di dalam hatinya, Raymond menduga Jovita mungkin kecewa dengan sesi photoshoot tadi, mungkin ada konsep foto yang diimpikannya tapi belum sempat terwujud.Atau bisa jadi masalah kebaya wisuda yang tadi sempat Raymond minta ganti modelnya. Raymond memang secara halus mendesak agar model kebayanya diubah sedikit lebih tertutup, karena potongan awal yang terlalu ketat dan ngepas badan membuat Jovita terlihat sangat seksi, dan Raymond sungguh tak rela ada mata pria lain yang leluasa menikmati keindahan istrinya di ruang publik nanti.Jovita menarik napas panjang la
Raymond melihat reaksi panik istrinya justru menyahut dengan nada enteng.“Ya, pengen nikah lagi, Sayang... Maksudnya, biar foto pernikahan kita benar-benar diambil pas hari H kita nikah, bukan diada-adakan dan disusulkan seperti sekarang ini.”Jovita masih menatap tajam suaminya, menyipitkan mata dengan amarah yang siap meledak. Raymond mendadak terdiam. Arsitek senior yang tampil gagah dalam balutan setelan tuksedo hitam dipadu kemeja putih dan dasi kupu-kupu itu baru menyadari pilihan kata-katanya baru saja menimbulkan salah paham besar bagi wanita yang sedang sensitif.“Kita nikah di hadapan keluarga besar dan teman dekat, jadi nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Maksudku itu, Sayang,” buru-buru Raymond menambahkan, membetulkan posisi jasnya yang sedikit tertarik.Jovita mendesis pelan, tatapannya masih dipenuhi keraguan. “Om... nggak ada niat pengen nikah lagi sama perempuan lain, kan?”Tanpa membuang waktu, Raymond melangkah maju dan menarik Jovita kembali ke dalam pelukannya. D
Mata Roberto menatap lekat foto kebersamaan Raymond dan Jovita yang terselip di dalam map. Hatinya mencelos. Selama ini, saat ragu akan kapasitas Julian untuk memimpin Chandra Group, nama Raymond selalu menjadi tempatnya menyandarkan harapan.Tapi, melihat kebersamaan putra sulungnya dengan gadis yang usianya jauh di bawahnya, Roberto merasa ditampar kenyataan pahit, Raymond memiliki masalah moral serius yang tampaknya mustahil untuk diperbaiki.Dahulu, Raymond meniduri kerabat jauh sampai hamil, sekarang dia menjalin hubungan dengan gadis yang sepantaran putrinya.Roberto kembali menghembuskan napas kasar. Dadanya sesak memikirkan kekaisaran bisnis yang dibangunnya dengan berdarah-darah kini terancam tak punya penerus yang pantas.“Papa masih berharap Raymond bakal berubah?” cerca Julian, memanaskan suasana. “Dia itu munafik, Pa. Terlalu pandai menyembunyikan perempuan-perempuannya di belakang kita semua.”Roberto mengabaikan celotehan Julian. Pandangan matanya memaku pada paras gadi
Jovita duduk di depan meja rias, tangannya lincah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, sementara Raymond berdiri di belakangnya mengikat dan merapikan dasinya.Melalui pantulan cermin, Jovita menatap wajah suaminya yang terlihat begitu tampan, matang, dan gagah dalam balutan kemeja kerja.“Om, foto pernikahannya yang mau dipasang di kamar nanti setelah wisuda atau pas kita fitting kebaya sekalian?” tanya Jovita berbarengan suara hair dryer.Raymond melirik istrinya lewat cermin seraya merapikan kerah kemejanya. “Habis fitting kebaya saja. Om takutnya pas wisuda nanti perut kamu tahu-tahu udah gede aja.”Jovita menyengit geli, memutar badannya sedikit. “Masa tiba-tiba gede sih, Om? Ya kalaupun promil berhasil, pas wisuda nanti kan paling baru jalan dua atau tiga bulan. Belum kelihatan.”“Kalau kembarnya jadi, kan langsung gede,” sahut Raymond santai dengan cengiran tipis di bibirnya.“Satu-satu dulu aja kenapa sih, Om? Biar nggak repot ngurusnya nanti,” senggol Jovita bernada prot
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki







