LOGINBi Lastri mengetuk pintu kamar utama pelan lalu melangkah masuk membawa nampan sarapan.Ia menyodorkan nampan itu pada Raymond seraya berbisik setengah mengadu, “Maaf ya, Tuan... Di bawah Mak Lampir masih nangkring manis di sofa. Jadi Bibi cuma berani bawakan satu piring saja biar nggak dicurigai. Tapi ini porsinya porsi jumbo kok, Tuan! Sepiring berdua, biar romantis.”Raymond tersenyum tipis melihat kejelian asisten rumah tangganya itu. “Terima kasih banyak ya, Bi.”Saat Bi Lastri hendak berbalik, Raymond menahannya sebentar. “O iya, Bi... Nanti kalau Feli sudah pergi atau ada kesempatan buat keluar rumah tanpa dicurigai, tolong segera kabari saya ya. Saya mau bawa Jovita ke rumah sakit.”Bi Lastri mendadak menghentikan langkahnya, menoleh dengan raut khawatir. “Lho, Jojo kenapa, Tuan?”“Sepertinya meriang, Bi. Tadi pagi muntah-muntah terus, sekarang badannya lemas banget,” jawab Raymond jujur, menatap ke arah ranjang tempat Jovita terbaring meringkuk.Mendengar penjelasan itu, Bi L
Raymond mendadak panik mendengarnya. Tanpa membuang waktu, ia langsung lari ke arah kamar mandi. Di sana, ia melihat Jovita terduduk lemas di lantai tepat di depan kloset dengan wajah pucat pasi.Raymond segera berlutut menghampirinya. Dengan penuh kelembutan, tangan kokohnya mengumpulkan helai-helai rambut Jovita yang berantakan agar tidak terkena kotoran, sementara tangan satunya mengelus lembut punggung sang istri.“Kamu salah makan apa, Jo? Wajah kamu pucat banget,” tanya Raymond khawatir setengah mati. “Ayo kita ke dokter sekarang ya?”Jovita dengan sisa tenaganya meraih dan menggenggam erat lengan Raymond, menggeleng pelan menolak ajakan itu. Setelah menghela napas panjang dan merasa keadaannya sedikit lebih tenang, Jovita menengadah menatap suaminya.“Jangan sekarang, Om...” bisik Jovita lirih. Ia lalu mengedarkan pandangan ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. “Om... nanti keluarnya tunggu Vio pergi dulu atau pas dia lagi anteng di kamarnya ya. Jangan sampai dia tahu kalau
Hentakan Raymond semakin dalam dan cepat. Setiap dorongan membuat tubuh Jovita berguncang di atas kasur. Desahan mereka saling bersahutan, basah dan serak. Jovita merasakan gelombang kenikmatan yang semakin mendekat, perut bawahnya mengencang, jari-jari kakinya menggulung, dan dinding dalamnya berdenyut hebat meremas penis suaminya.“Om… aku… hampir…” suaranya pecah, hampir menangis karena nikmat.Raymond menunduk, mencium bibirnya kasar sambil terus bergerak lebih dalam. “Sama… bareng sama Om…”Beberapa hentakan kemudian, tubuh Jovita menegang kala tak sanggup menahan gelombang kenikmatan yang menerjang. Ia menjerit tertahan di bahu suaminya, punggung melengkung, kaki-kakinya mencengkeram pinggang Raymond erat-erat. Cairan hangat membasahi tempat mereka bersatu, tubuhnya bergetar hebat tanpa bisa dikendalikan.Melihat istrinya mencapai puncak membuat Raymond tak lagi mampu menahan diri. Ia menanamkan dirinya sedalam mungkin, mengerang rendah dari dada, lalu melepaskan semuanya. Benih
Melihat suaminya datang, Jovita turun dari ranjang. Dengan langkah pelan dan wajah masam yang dibuat-buat, ia menghampiri Raymond.“Aku diusir sama Bi Lastri, Om... Tas aku langsung disodorin terus didorong keluar kamar,” adunya manja seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Raymond.Raymond langsung tertawa terkekeh mendengar aduan itu. Didekapnya tubuh sang istri gemas. “Bener-bener ya Bi Lastri... Om sama sekali nggak nyangka kalau dia bakalan merencanakan ini semua.”Raymond melepas pelukannya sebentar, merogoh tas kecil yang dibawanya dan mengeluarkan beberapa pot polos berisi suplemen serta obat promil milik Jovita. “Oya, kamu udah minum obat buat malam ini belum?”“Hari ini sudah.” Matanya melirik ke dalam tas Raymond, lalu menengadah menatap wajah suaminya. “Om nggak sekalian bawa testpack-nya?”Dengan santai tanpa beban, Raymond terkekeh tipis. “Aduh, lupa Om... Emangnya kamu udah ngerasa ada tanda-tanda?” Raymond balik menatap Jovita lekat-lekat, memandangi raut wajah
Usai menyantap makan malam, Raymond bangkit dari kursi dan membetulkan letak jam tangannya.“Papa ke luar dulu, ada beberapa pekerjaan kantor yang harus diselesaikan malam ini,” pamitnya tenang.Viola menatap punggung ayahnya dengan raut penuh curiga. “Nanti malam Papa tidur di rumah kan? Nggak pergi lagi?”Raymond menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh tipis. “Kita lihat nanti,” jawabnya singkat sebelum melangkah ke luar.Jovita yang duduk di samping Viola hanya bisa terdiam menunduk, meremas jemarinya di balik meja. Hatinya mencelos. Jika dirinya saja sekarang sudah berada di rumah ini, lantas ke mana sebenarnya Raymond akan pergi malam ini?Begitu pintu tertutup rapat, Viola menghembuskan napas kasar. Air mata menetes membasahi pipinya saat ia memandangi meja makan yang mendadak terasa dingin.“Papa berubah banget sekarang...” keluh Viola dengan suara bergetar. “Sepertinya Papa memang sudah punya keluarga lain di luar sana, Jo... dan Papa lebih sayang sama mereka dibanding a
"Jangan kami, Jo.” Pak Budi menatap Jovita dengan raut penuh pertimbangan. “Non Vio dan Nyonya Feli kenal betul sama kami berdua. Selama kalian belum terus terang ke publik soal pernikahan ini, keberadaan kami di dekat kamu saat wisuda nanti justru bisa bikin mereka curiga."Sebagai pensiunan tentara, Pak Budi memang selalu cermat dan penuh perhitungan dalam mengambil langkah.Bi Siti yang duduk di sampingnya mengangguk setuju, lalu menambahkan, "Sebenarnya kami senang-senang saja, Jo... bisa ikut makan enak di acara wisuda. Tapi benar apa kata Pak Budi. Mendingan kamu minta tolong Lastri saja buat mendampingi."Dada Jovita makin terasa sesak, ia menghembuskan napas kasar. Bayangan wajah Bi Lastri langsung melintas di benaknya. Selama ini, Bi Lastri sering menatapnya dengan pandangan penuh curiga, seolah-olah wanita itu sudah mengendus ada rahasia besar antara dirinya dan Raymond.Seolah bisa membaca keraguan yang tersirat di wajah Jovita, Bi Siti tersenyum menenangkan. "Kalau kamu me
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me







