Mag-log inPerjalanannya tak selamanya mulus, bahkan guncangan akan tetap terasa di mobil mewah. Tiba-tiba SUV Raymond melewati lajur jalanan yang berlubang, menimbulkan getaran di dalam kabin. Secara refleks, Jovita menangkup dan mengusap pelan perutnya yang kian membuncit untuk melindungi kedua bayinya dari guncangan. Melalui pantulan kaca spion, Viola memperhatikan gerakan tangan Jovita. Bibirnya seketika mencebik sinis. Di dalam hatinya yang dipenuhi kecurigaan, Viola menganggap Jovita sedang sengaja pamer kehamilan, seolah ingin menegaskan keberhasilannya mengikat hati Raymond dan mengukuhkan posisinya sebagai istri sah. Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya tiba di area parkir rumah sakit tempat ibunda Dylan dirawat. Setelah memarkirkan mobil, Raymond turun dan melangkah membukakan pintu belakang untuk Jovita. Dengan penuh kehati-hatian dan protektif, Raymond menggenggam erat jemari Jovita sembari tangan satunya menenteng bingkisan kado yang besar. Viola yang berjalan tepat di sampin
Sepulang dari kantor, Raymond dan Jovita menyempatkan diri mampir ke sebuah toko perlengkapan bayi yang cukup mewah. Pasangam suami istri itu bermaksud membeli kado untuk kelahiran bayi Elvi.Sesuai saran dari Jessica, membeli perlengkapan bayi seperti pakaian atau peralatan perawatan jauh lebih berkesan ketimbang membawa bingkisan makanan.“Kalau makanan kan langsung habis sekali makan, Jo. Itu pun belum tentu yang habis lahiran atau babynya yang makan. Tapi kalau barang, bakal dipakai dan jadi kenang-kenangan manis yang tahan lama.” Begitu pesan Jessica yang diingat betul oleh Jovita.Di dalam toko, Jovita tampak antusias mengamati deretan stroller dan set pakaian bayi berwarna pastel yang menggemaskan. Jemarinya memegang dua buah baby jumper berbahan organik yang amat lembut.“Om, lihat deh... yang warna hijau ini lucu banget, kan?” ujar Jovita berbinar, memperlihatkan baju mungil itu pada Raymond. “Bahannya halus banget, pasti nyaman di kulit bayi baru lahir.”Raymond tersenyum men
“Kita ke rumah sakit sekarang?” tanya Raymond tiba-tiba dengan nada serius.Mendengar itu, Viola langsung menghembuskan napas kasar. Gemuruh di dadanya semakin menjadi. Baru saja dia menikmati kebersamaan dengan papanya, Jojo sudah gatal ingin mengganggu.‘Tuh kan, benar dugaanku! Pasti Jojo beralasan sakit perut atau apa, padahal mungkin bayinya cuma nendang-nendang biasa. Sengaja banget cari alasan biar Papa terpaksa pulang malam-malam begini!’ Di dalam hatinya, gadis itu merasa kesal dan semakin yakin dengan dugaannya.Viola langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, menekuk bibirnya rapat-rapat untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang penuh dengan kekesalan.Raymond yang menangkap perubahan raut wajah putrinya seketika paham. Tanpa membuang waktu, ia meraih tangan Viola dan menggenggamnya lembut, sementara tangan kanannya mendekatkan ponsel ke telinga.“Kata Dylan, besok saja, Om. Bunda sekarang sedang istirahat. Tadi Dylan cuma mau ngabari kalau Bunda sudah lahiran, anaknya c
Melihat tatapan intens dan gestur protektif Raymond, Aris yang kebetulan mejanya tepat di samping Jovitalangsung berinisiatif menyingkir sejenak. Bukan sekadar tahu diri karena ini menyangkut percakapan pribadi, melainkan sebagai sesama lelaki, Aris sangat paham dengan getaran perasaan dan gelagat posesif Raymond terhadap Jovita.Sebenarnya, untuk urusan semacam ini Raymond bisa saja mengirim pesan singkat atau menelepon. Tapi, ia lebih memilih mendatangi istrinya secara langsung, tentu saja bukan hanya untuk menyampaikan kabar, melainkan juga sebagai bentuk 'sidak' halus untuk memastikan tidak ada lagi mata-mata pria di kantor yang berani melirik sang istri.“Terima kasih, Ris,” ucap Raymond singkat saat Aris beranjak pergi dan merelakan kursinya agar Raymond bisa duduk dan berbicara lebih nyaman di samping Jovita.Jovita menatap suaminya lekat-lekat, lalu mengangguk samar. “Enggak apa-apa, Om. Pergilah.” Ia kemudian menunduk perlahan, mengusap perutnya sembari berujar lembut, “Yang
Brak!Suara gebrakan meja bergema begitu keras hingga beberapa pengunjung kafe memalingkan kepala, menatap terkejut ke arah meja mereka bertiga.Dada Viola tampak kembang-kempis, naik-turun menahan amarah yang meledak.Sadar mereka sedang berada di tempat umum, Viola mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia sengaja merendahkan volume suaranya, namun setiap intonasinya terdengar begitu tajam, kaku, dan tegas menusuk.“Mengapa sih... kalau setiap kali obrolan sama kalian, yang diomongin ujung-ujungnya warisan terus?” bentak Viola lurus memotong. “Capek tahu nggak! Bosan!”Felisa yang panik refleks memajukan tubuhnya, berusaha meredakan emosi putrinya. “Ini penting, Vio! Mama cuma enggak mau kamu sampai kehilangan hakmu di keluarga Chandra!”“Aku enggak peduli lagi sama warisan dari Opa!” potong Viola lantang, menatap mamanya dengan mata membara. “Melihat kalian berdua dari dulu terus-terusan kayak gini... aku malah kadang sampai berharap, moga-moga Opa bangkrut sekalian!”“Vio!” bentak Jul
Kehadiran Jovita yang melangkah mendampingi Raymond pagi itu tak ayal kembali menarik perhatian jajaran staf perempuan.Pandangan mereka yang dulu sinis kini berubah penuh takjub, terutama saat pancaran cahaya menyilaukan dari cincin berlian mewah di jari manis Jovita menangkap pantulan lampu ruangan.“Wah, sekarang sudah berani tampil beda ya,” bisik salah seorang staf wanita sembari mengamati Jovita dari kejauhan. “Lihat deh, berlian di jarinya gede banget... bikin silau mata!”Staf lain di sebelahnya ikut menyahut pelan, “Dengar-dengar dari sekretariat, setelah gala dinner semalam kantor kita langsung kebanjiran penawaran klien baru. Katanya kebanyakan tertarik gara-gara melihat konsep desainnya Bu Jovita. Yah, wajar sih kalau langsung dikasih hadiah cincin semewah itu sama Pak Su.”“Aduh, mau iri juga percuma, otak kita mah enggak bakal nyampai ke levelnya Bu Jovita,” timpal staf lainnya terkekeh.Mereka bertiga akhirnya tertawa kecil bersama, lebih tepatnya menertawakan ketololan
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki







