LOGINBisikan Bagas yang serak di ceruk lehernya mengirimkan gelombang getaran baru ke seluruh tubuh Nawang. Rasa lega karena tahu Lily aman belum sepenuhnya memupus kepanikan, namun desakan fisik dan kehangatan tubuh Bagas di atasnya membuat pertahanan Nawang runtuh kembali."M-Mas Bagas... nanti Bu Asih..." gumam Nawang terbata-bata, mencoba mencari sisa-sisa alasan untuk menahan pria itu."Ibu sudah telepon Bu Asih waktu saya mandi," sela Bagas lembut, suara beratnya bergetar tepat di kulit leher Nawang. "Bu Asih sudah tahu Lily sama Ibu. Kamu tidak usah cemas lagi."Sebelum Nawang sempat merangkai kata-kata balasan, bibir Bagas sudah kembali membungkamnya. Ciuman kali ini tidak lagi terburu-buru oleh kepanikan, melainkan dipenuhi tempo yang teratur, dalam, dan menuntut kepasrahan penuh. Jemari Bagas menyelip di antara jemari Nawang di atas bantal, menguncinya erat-erat.Nawang mengerang pelan di dalam pertautan bibir mereka. Sensasi dominasi dari pria yang selama ini ia hormati sebagai
Hawa panas yang menyelimuti kamar mandi dan kamar utama perlahan surut, menyisakan napas terengah-engah yang memburu di antara keremangan ruangan. Bagas masih menindih tubuh Nawang dalam keheningan yang intim, keningnya bersandar pasrah pada celah leher gadis itu. Tetesan keringat dingin mengalir dari pelipis Bagas, jatuh menetes ke atas seprai yang kusut.Nawang terbaring kaku, dadanya naik-turun cepat. Kesadarannya yang sempat melayang oleh buaian sentuhan gairah kini tersentak kembali ke dunia nyata. Rasa hangat dan kepuasan yang menyapu tubuhnya mendadak berganti dengan sengatan kepanikan yang hebat.Jemari Nawang yang tadinya mencengkeram bahu tegap Bagas tiba-tiba mendorong chest pria itu pelan."M-Mas..." bisik Nawang, suaranya parau dan bergetar hebat. Matanya membelalak lebar menatap langit-langit kamar. "Lily... bagaimana Lily?"Bagas tersentak pelan. Pria itu menghentikan pergerakannya, lalu perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan matanya yang tadi kelam oleh gairah kini ber
Hembusan napas hangat Bagas yang menyapu leher belakang Nawang membuat seluruh bulu kuduk gadis itu meremang. Rasa dingin dari daun pintu jati yang menempel di telapak tangannya berbanding terbalik dengan hawa panas yang menguar dari tubuh tegap pria di belakangnya."M-Mas Bagas... tolong... jangan seperti ini," cicit Nawang pelan. Suaranya gemetar, tertahan di tenggorokan yang mendadak kering.Nawang berusaha mendorong pintu untuk membuka celah, namun lengan tegap Bagas yang mengunci pintu di samping kepalanya sama sekali tidak bergoyang. Pria itu justru melangkah setengah senti lebih dekat. Kulit dadanya yang basah kini hampir menyentuh kain tipis di bagian punggung Nawang."Sudah tiga tahun lebih, Wang..." bisik Bagas. Suaranya begitu rendah, serak, dan sarat akan dahaga yang dipendam terlalu lama. "Saya hidup bagai mayat hidup yang cuma mikirin pekerjaan dan Lily. Tapi berada didekatmu setiap hari... melihat kamu ada di rumah ini..."Bagas menghentikan kalimatnya. Tangannya yang m
Nawang menghela napas lega setelah menutup aplikasi chat di ponselnya. Mumpung Lily sedang tidur siang dan tugas analisis hukumnya dari Mbak Maya sudah hampir rampung, Nawang menyempatkan diri menghubungi Banyu. Namun, bukan suara sang kakak yang menyapa di seberang telepon, melainkan suara lembut Bening."Mas Banyu lagi mandi, Wang. Kenapa? Ada yang penting?" tanya Bening dari balik telepon."Eh, tidak kok, Mbak Bening. Cuma mau tanya kabar saja," sahut Nawang, sedikit menyandarkan punggungnya di sandaran kursi meja belajar. "Mbak Bening sama Mas Banyu sehat, kan?""Sehat, Wang... Alhamdullilah. Kamu sendiri bagaimana di rumah Mas Bagas? Lily rewel tidak?""Aman, Mbak. Lily baru saja tidur setelah minum obat," jawab Nawang. Mereka mengobrol santai beberapa menit, saling menanyakan kabar ringan sebelum akhirnya Nawang menyudahi panggilan tersebut agar Mbak Bening bisa beristirahat.Tepat saat Nawang meletakkan ponselnya di atas meja, suara ketukan terburu-buru terdengar di pintu kamar
“Ngggh…. Mas… pelan….” rintih Bening saat Banyu mulai menyingkap pakaian bagian atas Bening dan meloloskannya melewati kepalanya.Kain itu jatuh entah ke mana. Bening tidak peduli. Yang ia pedulikan hanya tangan Banyu yang kini menyusuri punggungnya—hangat, kasar di ujung jari, dan penuh niat. Banyu menunduk, mencium tulang selangka Bening, turun ke leher, lalu ke dadanya. Ia langsung menyerang bagian paling sensitif milik Bening—putingnya yang sudah mengeras, mungkin bagian tubuh paling Banyu sukai karena selalu memberikan reaksi jeritan dan desahan manja Bening.Banyu membuka mulutnya. Menghisap. Lidahnya berputar di sekitar puncak itu, lalu gigi-giginya menekan pelan—cukup untuk membuat Bening mengerang, cukup untuk membuat tubuhnya melengkung."Mmm…. Mas…. lebih kuat," pinta Bening. Tubuhnya seperti menuntut lebih saat dia merasakan sensasi geli dan enak dari sentuhan lidah Banyu di putingnya yang sudah mengeras. Bening meremas rambut ikal Banyu dan menekannya seolah ingin suaminy
Mobil yang dikendarai Banyu berhenti perlahan di halaman rumah. Setelah melewati perbincangan melelahkan di klinik dan gejolak emosi sejak semalam, heningnya suasana rumah terasa bagai tempat perlindungan yang sangat menenangkan.Baik Bening maupun Banyu ingin cepat-cepat merasakan sejuknya udara rumah, karena sejuknya AC hanya membuat mual.Banyu mematikan mesin, lalu berbalik menatap Bening yang baru saja melepas sabuk pengamannya. Wajah istrinya masih menyimpan kelelahan, namun garis-garis kecemasan yang sempat membayang pagi tadi kini sedikit melunak."Mas..." panggil Bening pelan, berniat hendak membuka pintu mobil.Banyu menahan jemari Bening di atas gagang pintu. Tatapan mata Banyu teduh, namun ada binar hangat yang dalam dan tenang di sana."Sebagai salah satu dari usaha, boleh tidak Mas mulai buat anaknya?" tanya Banyu lembut.Bening tersentak kecil. Ia menoleh, menatap mata suaminya yang terkunci lurus padanya. Setelah ketegangan soal dosis obat dan nasihat dokter di klinik
"Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te
"Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga
Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan







