“Kenapa, Ning? Dia seperti itu cuma sama kamu saja, kok…” Bening memukul-mukul dada Banyu pelan, dan Banyu malah tersenyum menggoda. “Jangan banyak gerak…kamu gak takut…?Namun, ucapan Banyu tidak sinkron dengan apa yang dilakukan, ia sama sekali tidak berniat mundur. Ia justru menghentakkan pinggulnya tipis ke atas, sengaja membuat Bening merasakan reaksi alami tubuhnya yang makin tak terkontrol. Desahan rendah lolos dari tenggorokan Banyu tepat di ceruk leher Bening.“Mas Banyu... nakal banget, sih!” bisik Bening tersekat, meremas bahu Banyu saat ciumannya merambat makin berani turun ke area tulang selangkanya yang terbuka.“Nakal sama calon istri sendiri, tidak apa kan, Ning?” balas Banyu serak, suaranya berat penuh gairah.Tangan Banyu yang berada di bawah cardigan Bening bergerak makin berani. Jemari kokohnya merayap naik menelusuri pinggang, meremas lembut kurva pinggul Bening yang terasa begitu kenyal dan pas di genggamannya. Setiap remasan Banyu di area sensitif itu membua
Read more