“Aku cuma butuh kamu di sini malam ini, Ning,” bisik Banyu dengan suara berat dan rendah. Napas hangatnya mengusap tipis kulit leher hingga garis rahang Bening, memancing desir halus di sepanjang tengkuk Bening. Napas hangat Banyu membuat tubuh Bening meremang pelan. Sorot mata Banyu yang gelap dan menuntut membuat jantung Bening berpacu cepat. Rasa canggung di kepalanya mendadak hilang, berganti kehangatan yang tak bisa ia tolak. “Nawang bisa curiga kalau aku mendadak hilang dari kamarnya, Mas,” sahut Bening pelan. Ia mencoba mengumpulkan sisa-sisa pemikiran rasionalnya, meski genggaman erat Banyu di pinggangnya serta jarak tubuh mereka yang tanpa celah membuat fokusnya terpecah berantakan.“Biarin,” potong Banyu tanpa ragu sedikit pun. Jemarinya yang hangat dan perkasa menyusup ke sela-sela rambut basah Bening, menengadahkan wajah wanita itu agar menatap lurus ke dalam manik matanya. “Malam ini kamu tidur di sampingku. Aku tidak bisa tenang kalau kamu jauh dari jangkauanku, walau
Read more