Bu Retno menutup mulutnya, menahan tangis. Bening yang berdiri di sudut ruangan menatap pemandangan itu dengan hati teriris. Ada perasaan tidak enak, karena membuat Banyu melawan kehendak orang tuanya. Banyu melangkah mendekati kedua orang tuanya, berlutut pelan di hadapan sang ayah. “Maafkan Banyu, Pa. Tapi Banyu janji, Banyu yang akan mengurus agunan aset ke bank minggu ini untuk menutup utang perusahaan. Banyu tidak akan biarkan perusahaan Papa jatuh.”Harjanto menatap Banyu cukup lama, lalu menepuk bahu putranya pelan dengan napas berat. “Papa hargai prinsipmu, Nak... tapi jalan kita ke depan bakal sangat berat.”“Papa jangan khawatir. Aku akan atur semuanya, ada beberapa kenalan mungkin bisa bantu memberikan advice dan jalan keluar. Tidak semua krisis harus ditutupi dengan investasi” tambah Banyu.Banyu berdiri, lalu melangkah menghampiri Bening. Ia menggenggam erat jemari Bening yang terasa dingin, mengusapnya penuh ketenangan.“Kamu sabat, ya Ning! Aku janji akan penuhi janjik
Read more