“Iya, Dok... tidak apa-apa. Tugas dokter yang paling utama kan memang pasien,” jawab Larasati pelan. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelusup halus di dadanya, namun ia berusaha mengulas senyum pengertian.Dokter Tara menatap Larasati lekat-lekat, menyadari perubahan raut di wajah gadis itu. Pria itu mengulurkan tangan, mengusap lembut pipi Larasati dengan ibu jarinya.“Aku janji, setelah operasi selesai, aku langsung pergi ke rumah orang tuamu malam ini juga. Jangan pergi kencan buta itu,” tegas Dokter Tara sekali lagi.Larasati akhirnya mengangguk mantap. Pria itu lalu bergegas turun dari mobil, melangkah cepat menuju pintu masuk rumah sakit. Panggilan tugas merenggut momen mereka seketika, mengalihkan fokus sang dokter kembali pada pertaruhan nyawa di meja operasi.Dari balik kaca mobil, Larasati menatap punggung Dokter Tara yang makin menjauh hingga menghilang di balik pintu kaca IGD. Ia menghela napas panjang, merapikan rambutnya, lalu mencoba menenangkan dadanya yang masih berdeb
Read more