“Angg.... Bening.... ah... Bening...”Banyu mengerang rendah saat merasakan kehangatan di dalam sana menjepitnya sangat erat. Ia mempercepat gerakannya beberapa saat lagi, sebelum akhirnya membenamkan miliknya sedalam mungkin dan menyemburkan seluruh benih hangatnya di dalam rahim Bening.Gumpalan gairah itu pecah bersamaan. Banyu menjatuhkan tubuhnya di atas Bening, menyandarkan kepalanya di leher sang istri seraya mengatur napasnya yang sangat terengah. Bening melingkarkan kedua tangannya di punggung Banyu yang basah oleh keringat, mengusapnya penuh kelembutan.Hening kembali menguasai kamar utama. Hanya ada deru napas mereka berdua yang perlahan mulai teratur. Banyu mendaratkan kecupan-kecupan halus di rahang, pipi, hingga dahi Bening yang lelah.“Terima kasih, Ning,” bisik Banyu tulus, menatap mata Bening yang masih berembun manis. “Semoga benih Mas kali ini jadi, ya, biar rumah ini makin hangat.”Bening tersenyum tipis, merapikan rambut Banyu yang basah. “Amin, Mas. Semoga Tuhan
Read more