Tujuh hari berlalu, namun aroma bunga melati dan sisa kepedihan masih terasa tipis menempel di dinding rumah.Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, Bu Retno akhirnya bisa tersenyum kecil. Sore itu beliau melipat pakaian di ruang tengah bersama Bening. Wajah Bu Retno memang masih kelihatan lelah, tapi raut pucatnya perlahan membaik. Kehadiran Bening yang terus menempel—merawat, menyiapkan makan, sampai mendengarkan cerita almarhum—membuat Bu Retno tidak merasa sendirian.“Mbak Bening istirahat saja, biar Nawang yang menemin Mama” ucap Nawang melihat Bening yang sudah bolak-balik menguap.Bu Retno tersenyum, dia mengangguk. “Benar…tidurlah. Ada Nawang yang menemani” ucapnya. Bening tahu, Bu Retno pasti masih shock dengan kepergian Pak Harjanto. Dia tersenyum tapi sebentar-sebentar menangis.“Padahal Papa kamu janji akan memberikan Mama yang terbaik, tapi dia malah ninggalin Mama” ucapnya ke Nawang.Bening menarik napas panjang, tidak banyak hal yang bisa ia lakukan untuk ibu mertuanya
Read more