Banyu meletakkan sendoknya ke dalam cangkir, menyisakan denting halus yang cepat reda di ruang tengah yang terasa sangat sunyi.Ia meraih ponsel di meja kerja, mengusap layar untuk memanggil kontak adiknya, lalu menempelkannya ke telinga seraya menunggu nada sambung berganti dengan suara Nawang."Halo, Mas Banyu?""Wang," Banyu memperbaiki posisi duduknya, menyandarkan punggung ke kursi kayu. "Soal rencana lamaran kemarin... Abang sudah bicarakan lagi sama Mbak Bening.""Iya, Mas. Tadi Mas Bagas juga sempat tanya," sahut Nawang, suaranya terdengar antusias dari seberang. "Kalau dari Mas Bagas dan ibunya, mungkin dalam satu atau dua minggu ini mereka bisa datang lagi ke rumah."Banyu mengusap tengkuknya pelan. "Kalau bisa... kita jadwalkan bulan depan saja, Wang."Jeda sejenak di ujung telepon. Nada bicara Nawang berubah heran. "Bulan depan, Mas? Kenapa mundur agak lama? Mas Bagas sebenarnya sudah siap kalau minggu depan...""Mbakmu sedang jalan program hamil, Wang," potong Banyu denga
Read more