LOGINMesin SUV hitam milik Bagas mendengung halus saat memasuki pelataran rumah bergaya modern minimalis milik adiknya. Lampu jalan yang mulai menyala memantulkan pendar jingga di atas kap mobil, membiaskan bayangan dedaunan yang bergoyang pelan tertiup angin sore.Di kursi penumpang depan, Nawang membenahi letak tas selempangnya. Belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu, pintu samping penumpang di baris kedua lebih dulu terbuka dari luar."Mbak Nawanangg!"Gadis kecil berusia empat tahun dengan kuncir dua melompat turun begitu pintu terbuka, berlari kecil menghampiri pintu depan. Gaun katun kuning bermotif bunga yang dikenakannya berkibar seiring langkah-langkah kecilnya yang tidak sabaran.Nawang buru-buru membuka pintu dan membungkuk, menyambut tubuh mungil Lily yang langsung menubruk lututnya. tawa renyah khas anak-anak seketika mengudara, memecah hening sore di pelataran."Kangen Mbak Nawang!" seru Lily dengan nada menggebu, menengadahkan wajahnya yang bulat dan menggemaskan.Naw
Bagas terkekeh pelan, tawa rendah bergetar di dalam dadanya saat melihat raut panik Nawang yang begitu polos. Ia mengusap sudut bibir bawahnya yang masih menyisakan sensasi perih halus, lalu menggeleng pelan. Rasa nyeri kecil itu justru seketika meluruhkan sisa ketegangan dan gairah berlebih yang sempat menguasai kepalanya."Sudah... tidak apa-apa. Jangan memasang muka panik begitu," ujar Bagas halus. Ia meraih kedua tangan Nawang yang menyatu kaku di dada gadis itu, menggenggamnya erat dalam kedua telapak tangannya yang hangat. "Aku yang salah, terlalu terburu-buru."Nawang membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering, matanya masih menatap bibir Bagas dengan rasa bersalah yang memancar jelas. "Tapi bibir Mas Bagas merah... pasti sakit banget, ya?""Sedikit," jawab Bagas jujur, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan permakluman. "Tapi lebih sakit kalau kamu terus-terusan cemas dan mikir yang aneh-aneh seperti tadi."Nawang menunduk rapat, menyembunyikan wa
Banyu meletakkan sendoknya ke dalam cangkir, menyisakan denting halus yang cepat reda di ruang tengah yang terasa sangat sunyi.Ia meraih ponsel di meja kerja, mengusap layar untuk memanggil kontak adiknya, lalu menempelkannya ke telinga seraya menunggu nada sambung berganti dengan suara Nawang."Halo, Mas Banyu?""Wang," Banyu memperbaiki posisi duduknya, menyandarkan punggung ke kursi kayu. "Soal rencana lamaran kemarin... Abang sudah bicarakan lagi sama Mbak Bening.""Iya, Mas. Tadi Mas Bagas juga sempat tanya," sahut Nawang, suaranya terdengar antusias dari seberang. "Kalau dari Mas Bagas dan ibunya, mungkin dalam satu atau dua minggu ini mereka bisa datang lagi ke rumah."Banyu mengusap tengkuknya pelan. "Kalau bisa... kita jadwalkan bulan depan saja, Wang."Jeda sejenak di ujung telepon. Nada bicara Nawang berubah heran. "Bulan depan, Mas? Kenapa mundur agak lama? Mas Bagas sebenarnya sudah siap kalau minggu depan...""Mbakmu sedang jalan program hamil, Wang," potong Banyu denga
Jarum suntik steril itu terangkat sedikit, memantulkan pendar lampu ruangan pemeriksaan yang serba putih. Bening memalingkan wajah, menyembunyikan dahinya yang berkerut di lipatan kemeja Banyu. Meskipun sudah bersahabat dengan jarum suntik dalam beberapa minggu ini, tetap saja itu terlihat menakutkan buat Bening.Dari genggaman tangan suaminya di atas paha, ia menyalurkan rasa tegang yang menumpuk sejak melangkah masuk ke klinik."Sedikit lagi, Bu Bening... tahan, ya," ujar Dokter Ratna tenang, mencabut jarum usai mengambil sampel darah untuk evaluasi hormon.Banyu mengusap lembut punggung tangan Bening dengan ibu jarinya, memberi ruang bagi istrinya untuk bernapas lega.Dokter Ratna melepas sarung tangan latex-nya, membuangnya ke tempat sampah medis sebelum berbalik menghadap meja kerja. Ia meraih lembaran hasil pemeriksaan USG transvaginal dan grafik perkembangan folikel yang baru saja selesai dianalisis."Mari duduk di meja sebelah sini, Pak Banyu, Bu Bening," panggil Dokter Ratna
Pagi harinya, suasana kamar utama terasa begitu tenteram. Cahaya matahari membias hangat lewat celah tirai yang tersingkap sedikit, menimpa selimut tebal yang masih membungkus Banyu dan Bening.“Mas…bangun…” Bening mencoba membangunkan Banyu namun, dia tidak bergerak sedikitpun.Akhirnya, Bening terbangun lebih dulu. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan, merasakan lengan kokoh Banyu masih melingkar protektif di pinggangnya. Menatap wajah suaminya yang tertidur lelap tanpa sisa ketegangan seperti kemarin sore, Bening menyunggingkan senyum tipis. Dibelainya perlahan rahang tegas itu dengan ujung jarinya.“Nggak mau bangun ya udah..” gerutu Bening pelan.Banyu melenguh pelan, matanya terbuka perlahan. Senyum sayu khas bangun tidur langsung terbit begitu iris matanya menangkap sosok Bening tepat di hadapannya."Pagi, Ning..." suara Banyu terdengar parau dan dalam. Ia mendekatkan wajah, mendaratkan kecupan hangat yang lama di dahi Bening. “Pagi-pagi jangan kebanyakan ngomel nanti cantiknya hi
Suara mensin mobil Bagas yang membawa Nawang kembali ke kota perlahan menghilang dari ujung jalan. Pintu depan sudah terkunci rapat, dan lampu ruang tamu telah dipadamkan, menyisakan keremangan di kamar utama.Banyu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, merengkuh Bening dari belakang. Lengannya melingkar erat di perut istrinya, menempelkan dada bidangnya ke punggung Bening. Aroma minyak kayu putih dan harum tubuh Bening yang khas perlahan mengurai ketegangan di kepalanya setelah seharian menahan cemas."Sudah merasa lebih lega sekarang?" tanya Bening pelan. Jemarinya mengusap lembut lengan Banyu yang melingkar di perutnya.Banyu menarik napas dalam, membiarkan dadanya naik-turun selaras dengan napas Bening. "Banget, legaaah banget Ning... Mas cuma harap Nawang benar-benar menemukan pria yang tepat. Mas cuma mau dia bahagia.""Nawang sangat bahagia memiliki Kakak kaya Mas Banyu, kaya aku yang bahagiaaaa banget punya suami kaya Mas Banyu" Setelah mengatakan itu, Bening memiring
Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu
"Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te
"Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat







